Masyarakat adat Dayak Kanayatn di sejumlah wilayah Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak, menjalani ritual adat Balala Pantang Nagari atau berpantang. Dalam ritual ini, warga diwajibkan menaati berbagai larangan adat, termasuk membatasi aktivitas di luar rumah.
Salah satu pelaksanaan ritual digelar masyarakat Desa Keranji Paidang, Kamis (28/5/2026). Warga melaksanakan ritual adat baremah atau penyampaian doa serta permohonan izin kepada Sang Pencipta terkait pelaksanaan Balala di sejumlah panyugu atau tempat keramat. Salah satunya di Panyugu Saleh, Dusun Kalime.
Ritual Balala di wilayah tersebut berlangsung selama tiga hari, mulai Kamis pukul 18.00 WIB hingga Minggu (31/5) pukul 18.00 WIB. Selama ritual berlangsung, masyarakat diwajibkan menjalani berbagai pantangan adat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tokoh Adat Desa Keranji Paidang, Arin mengatakan warga dilarang bekerja di kebun atau ladang, memetik tumbuhan, membunuh hewan, memasak dengan cara menggoreng, hingga membuat kebisingan.
"Jadi lala pantangnya tidak boleh kerja bertani, tidak boleh makan sembarangan. Nah, itu pantang kami karena setiap bulan lima tanggal 28 kami semua memang mengikuti sesuai dengan aturan dari nenek moyang kami," kata Arin dalam keterangannya.
Selain itu, tamu dari luar kampung yang datang saat ritual berlangsung juga diwajibkan bermalam hingga masa pantang selesai. "Kalau di kami boleh keluar rumah, enggak apa-apa. Cuman kalau datang, orang yang datang, harus bermalam, enggak bisa pulang. Kalau orang jauh. Tapi kalau orang sekampung enggak apa-apa," ujarnya.
Arin menjelaskan ritual Balala telah diwariskan turun-temurun oleh leluhur masyarakat Dayak Kanayatn. Ritual ini bertujuan memohon keselamatan dan perlindungan dari berbagai penyakit maupun bencana.
"Tujuannya untuk menghindari segala sesuatu hal yang tidak kita inginkan. Nah, itu yang kami jaga. Jadi kalau kita langgar, nah itu tanggung sendiri," katanya.
Sementara itu, Imam Adat, Udan menuturkan dalam ritual tersebut imam doa adat atau Panyangahatn menyampaikan permohonan perlindungan kepada leluhur dan Sang Pencipta, melalui berbagai perlengkapan adat yang telah disiapkan.
"Doanya kita ini kan menghormati artinya keramat air tanah kita, doa minta dilindungi, minta dijaga. Makanya itulah artinya kami bagemah di sini. Minta dilindungi, minta dijaga. Supaya kita tuh sehat, sehat walafiat," jelasnya.
Pelaksanaan Balala di tiap wilayah adat diketahui memiliki aturan dan pantangan berbeda-beda. Ada daerah yang menerapkan pantang selama satu hari, sementara wilayah lain berlangsung hingga tiga hari penuh.
Di wilayah Binua Sapiu Raya, Dusun Bintang, Desa Pahauman misalnya, seluruh aktivitas di luar rumah dihentikan total selama tiga hari mulai 28 Mei pukul 18.00 WIB hingga 31 Mei pukul 18.00 WIB.
Pertokoan, bengkel, toko sayur hingga rumah makan tutup selama ritual berlangsung. Namun aktivitas ibadah di gereja dan masjid serta pelayanan publik tetap diperbolehkan berjalan.
Sementara di Desa Sidas, ritual Balala dilaksanakan selama satu hari penuh mulai 28 Mei pukul 18.00 WIB hingga 29 Mei pukul 18.00 WIB.
Simak Video "Belajar Menarikan Tarian Khas dari Sanggar Seni di Singkawang"
[Gambas:Video 20detik]
(sun/des)