Waisak 2026 Berapa BE? Ini Sejarah, Cara Menghitung Tahun, dan Makna Trisuci

Waisak 2026 Berapa BE? Ini Sejarah, Cara Menghitung Tahun, dan Makna Trisuci

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Sabtu, 30 Mei 2026 08:01 WIB
Ilustrasi ucapan hari raya Waisak.
Ilustrasi Waisak. Foto: Gemini AI
Balikpapan -

Hari Raya Waisak merupakan hari suci terpenting bagi umat Buddha di berbagai negara, termasuk Indonesia. Pada 2026, Hari Raya Waisak diperingati pada Minggu, 31 Mei 2026.

Dalam kalender Buddhis, perayaan tersebut bertepatan dengan Waisak 2570 BE atau Buddhist Era. Penetapan Hari Raya Waisak di Indonesia juga termasuk dalam hari libur nasional yang tercantum dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2026.

Waisak atau Trisuci Waisak memperingati tiga peristiwa agung dalam kehidupan Buddha Gautama yang dipercaya terjadi pada hari yang sama saat bulan purnama, yaitu kelahiran Pangeran Siddhartha Gautama, tercapainya Penerangan Agung hingga menjadi Buddha, dan Parinibbana atau wafatnya Buddha Gautama.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pernahkah detikers bertanya-tanya, apa itu BE atau Buddhist Era? Dan bagaimana cara menentukannya? Berikut ini detikKalimantan telah rangkum informasi seputar Buddhist Era, mulai dari sejarah hingga cara penetapannya.

Apa Itu BE dalam Waisak?

Dikutip dari laman Universitas Negeri Surabaya, istilah BE merupakan singkatan dari Buddhist Era atau Era Buddha. Sistem penanggalan ini digunakan dalam kalender Buddhis dan sering dicantumkan dalam perayaan Hari Raya Waisak. Pada tahun 2026 Masehi, umat Buddha memperingati Waisak 2570 BE.

Kalender Buddhis sendiri merupakan kalender luni-solar, yaitu kalender yang menggabungkan perhitungan bulan dan matahari. Penanggalan ini digunakan dalam berbagai tradisi Buddhis di sejumlah negara Asia, termasuk Thailand, Sri Lanka, Myanmar, Kamboja, Laos, hingga Indonesia.

Di Indonesia, pedoman penetapan hari-hari besar agama Buddha dilakukan berdasarkan sistem Purnama-Sidhi, yaitu metode astronomi modern yang memperhitungkan fase bulan secara ilmiah dan universal. Pergantian hari dalam kalender Buddhis juga dihitung mulai pukul 00.00 waktu setempat.

Lalu mengapa tahun 2026 menjadi 2570 BE? Alasannya karena perhitungan Buddhist Era dihitung sejak wafat atau Parinibbana Buddha Gautama yang terjadi sekitar tahun 543 atau 544 Sebelum Masehi. Karena itulah, angka tahun dalam kalender Buddhis lebih besar sekitar 543-544 tahun dibanding kalender Masehi.

Secara sederhana, cara menghitungnya adalah:

Tahun Masehi + 544 = Buddhist Era (BE)

Maka:

2026 + 544 = 2570 BE

Karena itu, Hari Raya Waisak tahun ini terhitung sebagai Hari Raya Waisak 2570 BE/2026 M.

Sejarah Waisak dan Awal Mula Buddhist Era

Sejarah Waisak bermula dari India sekitar abad ke-6 sebelum Masehi. Pada masa itu lahirlah Pangeran Siddhartha Gautama di Taman Lumbini, wilayah yang kini berada di Nepal. Sejak kecil, Siddhartha hidup dalam kemewahan sebagai putra Raja Suddhodana.

Namun setelah melihat penderitaan manusia seperti sakit, tua, dan kematian, Siddhartha meninggalkan kehidupan istana untuk mencari jalan pembebasan dari penderitaan. Setelah bertahun-tahun bertapa dan bermeditasi, ia mencapai pencerahan sempurna di bawah pohon Bodhi di Bodh Gaya dan kemudian dikenal sebagai Buddha Gautama.

Selama sekitar 45 tahun, Buddha Gautama menyebarkan ajaran Dharma tentang kebijaksanaan, pengendalian diri, dan pembebasan dari penderitaan. Pada usia 80 tahun, Buddha Gautama mencapai Parinibbana.

Ketiga peristiwa penting tersebut kemudian diperingati dalam Hari Raya Trisuci Waisak.

Sementara itu, penggunaan Buddhist Era mulai berkembang di negara-negara Buddhis sebagai bentuk penghormatan terhadap perjalanan hidup Buddha Gautama. Sistem penanggalan ini kemudian dipakai dalam berbagai kegiatan keagamaan, kalender vihara, hingga penetapan hari suci umat Buddha.

Di Indonesia, perayaan Waisak berlangsung penuh khidmat dan menjadi salah satu perayaan keagamaan terbesar umat Buddha. Salah satu pusat perayaan nasional berada di Candi Borobudur yang setiap tahunnya dipadati umat Buddha dari berbagai daerah bahkan mancanegara.

Salah satu tradisi yang paling terkenal adalah pelepasan lampion Waisak. Lampion yang diterbangkan ke langit malam menjadi simbol harapan, doa, serta pelepasan sifat buruk dalam diri manusia.

Itulah dia penjelasan terkait sejarah dan cara penetapan Buddhist Era. Semoga bermanfaat!

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Ribuan umat Buddha mengikuti kirab Waisak dari Candi Mendut ke Candi Borobudur"
[Gambas:Video 20detik]
(bai/bai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads