Di sebuah sudut tenang Desa Bapinang Hulu, Kecamatan Pulau Hanaut, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, dentingan besi yang dipukul berulang kali terdengar memecah kesunyian. Suara itu bukan sekadar bunyi tempaan logam, melainkan pertanda bahwa warisan budaya Dayak masih terus hidup.
Oleh M Saini (69), logam dia tempa menjadi mandau, senjata tradisional masyarakat Dayak. Sejak berusia 25 tahun, Saini tetap setia menjalani profesinya sebagai perajin mandau tradisional dan pandai besi atau yang dikenal masyarakat setempat sebagai 'menitik'.
Bagi masyarakat Dayak, mandau bukan hanya senjata tradisional. Mandau merupakan simbol kehormatan, identitas, serta warisan budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Namun kini, keberadaan perajin mandau semakin langka, sementara minat generasi muda untuk mempelajari keterampilan tersebut terus menurun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari tangan Saini lahirlah berbagai mandau dengan ukiran khas Dayak yang sarat nilai seni. Setiap bilah yang dihasilkan bukan sekadar benda tajam, tetapi karya budaya yang menyimpan cerita panjang tentang tradisi dan kearifan lokal masyarakat Kalimantan.
M Saini, perajin mandau asal Kotawaringin Timur, Kalteng. Foto: M Saini, perajin mandau asal Kotawaringin Timur, Kalteng. (dok pribadi) |
Baca juga: Jangan Main-main dengan Mandau! |
Diproses Secara Tradisional
Proses pembuatan mandau yang dilakukan Saini masih menggunakan cara tradisional. Tahapannya dimulai dari pembentukan bilah besi, pembuatan gagang, penyusunan sarung atau kumpang, hingga proses akhir berupa pelapisan pernis agar tampak indah sekaligus tahan lama.
Keindahan mandau Dayak terletak pada detail ukiran yang menghiasi gagang dan sarungnya. Semakin rumit ukiran yang dibuat, semakin tinggi pula nilai seni yang terkandung di dalamnya. Bahkan, pada masa lalu, tingkat kerumitan ukiran sering kali menjadi simbol status sosial pemilik mandau tersebut.
Untuk menghasilkan karya berkualitas, Saini memilih bahan-bahan alami terbaik. Gagang dan sarung mandau dibuat dari tanduk serta kayu pilihan yang memiliki karakter kuat dan corak alami yang unik.
Sementara bagian anyaman dibuat menggunakan rotan yang dirangkai secara manual, memberikan sentuhan tradisional yang khas pada setiap karya.
Tak Ada Unsur Magis
Meski mandau kerap dikaitkan dengan hal-hal mistis oleh sebagian masyarakat, Saini menegaskan bahwa karya yang dibuatnya murni sebagai bentuk pelestarian budaya dan seni tradisional Dayak.
"Mandau yang saya buat ini murni karya seni budaya Dayak dan tidak ada unsur magisnya," ujar Saini, Rabu (10/6/2026).
Selain menerima pesanan mandau, Saini juga melayani pembuatan berbagai alat tajam tradisional lainnya seperti parang, pisau, lading, kapak, arit, eggrek, hingga dudus yang masih digunakan masyarakat dalam aktivitas sehari-hari. Harga mandau buatannya pun bervariasi, mulai dari Rp 500 ribu hingga jutaan rupiah, tergantung ukuran, bahan, dan tingkat kerumitan ukiran.
Mandau hasil karya M Saini, perajin asal Kotawaringin Timur, Kalteng. Foto: Mandau hasil karya M Saini, perajin asal Kotawaringin Timur, Kalteng. (dok pribadi) |
Harapan di Masa Depan
Di balik semangatnya yang tak pernah padam, Saini menyimpan kekhawatiran besar. Ia melihat semakin sedikit anak muda yang tertarik mempelajari seni menempa mandau. Jika kondisi ini terus berlangsung, bukan tidak mungkin keterampilan yang diwariskan turun-temurun tersebut akan hilang ditelan zaman.
"Sekarang sudah jarang anak muda yang mau belajar. Padahal ini budaya kita sendiri," ungkapnya lagi.
Saini berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih kepada para perajin tradisional melalui promosi budaya, pelibatan dalam berbagai pameran, hingga bantuan pengembangan usaha. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk menjaga eksistensi kerajinan khas Dayak agar tetap dikenal luas oleh masyarakat.
"Harapan saya budaya ini jangan sampai hilang. Mudah-mudahan ada anak muda yang mau belajar, dan pemerintah juga bisa membantu memperkenalkan karya-karya budaya daerah," harapnya.
Bagi Saini, menjaga budaya bukan hanya tugas perajin. Dukungan masyarakat untuk membeli, menggunakan, dan memperkenalkan karya lokal juga menjadi bagian penting dalam upaya melestarikan warisan leluhur. Dari bengkel sederhana di Desa Bapinang Hulu, ia terus menempa besi dan harapan, agar nyala api tradisi Dayak tetap menyala untuk generasi yang akan datang.

