Tari Lalatip Dayak Murut, Uji Ketangkasan di Antara Jepitan Bambu

Tari Lalatip Dayak Murut, Uji Ketangkasan di Antara Jepitan Bambu

Bayu Ardi Isnanto - detikKalimantan
Kamis, 11 Jun 2026 09:00 WIB
Tari lalatip atau magunatip dari Dayak Murut.
Tari lalatip atau magunatip dari Dayak Murut. Foto: dok Pemetaan Budaya Malaysia
Tanjung Selor -

Tari lalatip yang juga sering disebut tari magunatip adalah tarian tradisional khas suku Dayak Tahol dan Dayak Murut yang berasal dari daerah Kalimantan Utara (Kaltara). Karena suku Murut juga sebagian tinggal Sabah, maka tarian ini pun dikenal di sana.

Tari ini bukan sekadar menghibur dari segi keindahan gerakan, namun juga memerlukan ketangkasan. Penari harus bisa bergerak sambil menghindari jepitan bambu yang berisiko menjatuhkan penari.

Dalam artikel ini akan kita ulas apa itu tari lalatip dari Kaltara, mulai dari sejarah, unsur pementasan, keunikan, fungsi dan peran, busana, hingga musik pengiring.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejarah Tari Lalatip

Dikutip dari buku Keberagaman Budaya dan Tradisi Indonesia oleh Noor Hidayati, nama "lalatip" secara etimologi diambil dari kata "lalati" yang memiliki arti menjepit. Terlihat dalam tarian, pemegang bambu seakan-akan siap menjepit penari, namun penari harus bisa menghindarinya.

Pada zaman dahulu, tarian ini bukanlah sekadar pertunjukan seni, melainkan bentuk latihan ketangkasan dan keterampilan fisik. Latihan ini berfokus pada ketangkasan kaki untuk melompat dan menghindari berbagai rintangan sebagai bentuk persiapan menghadapi perang antarsuku yang masih sering terjadi pada masa itu.

Seiring berjalannya waktu dan redanya konflik antarsuku, latihan ketangkasan tersebut kemudian diadaptasi dan dilestarikan menjadi sebuah tarian tradisional.

Unsur Pementasan

Dalam situs Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, dijelaskan bahwa pertunjukan tari lalatip melibatkan kerja sama tim yang dibagi menjadi tiga kelompok inti, yaitu:

  • Kelompok Penjepit Kaki: Bertugas memainkan dan menggerakkan batang kayu secara berirama untuk menjepit atau mengapit kaki penari.
  • Kelompok Penari: Bertugas menari dengan lincah sambil terus melompat untuk menghindari jepitan batang kayu.
  • Kelompok Pemusik: Bertugas mengiringi tarian menggunakan alat musik tradisional khas suku Dayak Tahol atau Murut, yaitu kendang dan gong.

Daya Tarik dan Keunikan

Tari lalatip dikenal sebagai tarian yang sangat menghibur sekaligus menegangkan. Ketegangan memuncak karena para penari dituntut untuk memiliki refleks yang cepat.

Sebab jika penari tidak tepat irama atau terlambat menghindar, maka kaki mereka bisa saja terjepit oleh batang kayu yang terus digerakkan. Beberapa pementasan tari ini dimainkan dengan mata tertutup sehingga lebih mendebarkan.

Ritual Sakral hingga Simbol Persatuan

Dikutip dari situs Pemetaan Budaya Kementerian Pariwisata Malaysia, tari lalatip atau magunatip memiliki fungsi utama sebagai perayaan kemenangan bagi para pejuang Murut yang menang peperangan. Seiring waktu, lalatip juga berperan dalam upacara tradisional yang disakralkan, berikut beberapa di antaranya:

  • Upacara 'Mansilad': Sebuah ritual penyembuhan, di mana tarian ini diyakini mampu menghubungkan pasien dengan kekuatan spiritual sehingga mempercepat proses penyembuhan.
  • Upacara 'Magintan Taduk': Ritual pemujaan roh padi sebagai simbol kelangsungan hidup dan kesuburan.
  • Upacara 'Titikas': Acara sosial masyarakat yang meliputi festival tradisional, pesta pernikahan, dan upacara penyambutan tamu penting atau tamu berstatus tinggi.
  • Upacara 'Massayau': Ritual pemujaan roh yang bertujuan memohon perlindungan serta keselamatan bagi masyarakat setempat.

Di era modern, tarian ini berevolusi menjadi bagian penting dari perayaan dan upacara resmi, seperti dalam Pesta Panen. Kini lalatip juga beralih fungsi menjadi sarana pemersatu masyarakat antar-generasi.

Pakaian dan Aksesori Penari Lalatip

Nilai seni tari lalatip turut ditonjolkan melalui busana tradisionalnya. Para penari pria mengenakan pakaian yang terbuat dari kulit kayu pohon aputul (Artocarpus kunstleri). Jaket kulit kayu tanpa lengan tersebut disebut 'Babaru puputul', yang dipadukan dengan cawat bernama 'avah puputul'.

Hiasan kepalanya, pria mengenakan topi 'lalandau' yang dihiasi dengan bulu burung Sewah Tahu (dalam bahasa Murut disebut bulu 'Tuwou'). Topi ini diikat kuat dengan kain bersulam agar tidak jatuh saat penari bergerak lincah. Satu-satunya aksesori tambahan di kaki dan tangan penari pria adalah 'holong', kain gantung berwarna kuning dan hitam.

Untuk menambah aura heroisme dan simbol keberanian penakluk musuh, para pria kerap membawa properti berupa parang ('hayang') dan perisai kayu ('kolid'). Dalam beberapa kesempatan, parang tersebut bisa diganti dengan tombak yang disebut 'tandus'.

Sementara itu, penari wanita tampil anggun dengan balutan busana bernama 'pinongkolo' yang dilengkapi dengan sabuk pinggang bernama 'pipirot'. Jika sabuk tersebut terbuat dari manik-manik lebar, maka ia dinamakan pipirot, namun jika terbuat dari besi atau perak, maka dikenal sebagai 'pipirot linggit'.

Hiasan kepala wanita terdiri dari mahkota manik-manik 'salupai' yang diikatkan di dahi, serta hiasan sanggul menjuntai di bagian belakang ('sinikot'), dipadukan dengan hiasan bulu tuwou. Penari wanita juga mengenakan anting manik-manik menjuntai ('sisingan') dan kalung 'rarangkol' yang dirangkai dari beragam manik-manik (seperti bungkas, kotos, aki pangungupu, bulul, atau olod).

Sebagai pelengkap di pergelangan tangan, dikenakan 'holong solod', yaitu gelang yang keseluruhannya terbuat dari manik-manik.

Alat Musik Pengiring

Tarian ini diiringi oleh ansambel instrumen gong. Penamaan set ansambel gong ini berbeda tergantung pada sub-suku etnis Murut yang membawakannya. Sebagai contoh, ansambel ini disebut 'Sampangigalan' oleh sub-suku Murut Timugon dan 'Aripason' oleh sub-suku Murut Paluan.

Satu kelompok ansambel umumnya terdiri atas 9 hingga 14 buah gong. Khusus untuk set 'Sampangigalan', terdapat 9 gong yang dibagi ke dalam 6 jenis instrumen, yaitu: 'jojolon/utaatangan', 'alipangon', 'tingkaraan', 'lubukon', 'kutambuon', dan 'taubon'.

Perpaduan alunan gong ini akan mengatur dinamika pertunjukan tarian lalatip atau magunatip, membawa ritme dan tempo perlahan yang kemudian berangsur-angsur menjadi semakin cepat.

Halaman 2 dari 3
(bai/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads