Tari kuda gipang merupakan seni pertunjukan tradisional dari masyarakat Banjar yang memancarkan pesona warisan budaya Nusantara. Jika di Jawa ada kuda lumping, di Banjar ada kuda gipang dengan bentuk berbeda.
Kesenian ini lahir dari wilayah Desa Pangabuan, Kecamatan Haruyan. Seiring berjalannya waktu, persebaran tarian tersebut meluas ke berbagai daerah seperti Desa Bihara, Paringin, Amuntai, dan Kota Banjarmasin.
Kesenian ini hingga kini masih lestari, meskipun berkurang digerus zaman. Untuk mengenal apa itu tarian kuda gipang, simak penjelasannya mulai dari sejarah, perbedaan dengan kuda lumping, properti, musik, hingga gerakannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejarah dan Legenda Kuda Gipang
Dikutip dari buku Warisan Budaya Takbenda Indonesia Penetapan Tahun 2016 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, asal mula tarian ini sangat erat kaitannya dengan riwayat Lambung Mangkurat yang berlayar dengan kapal Prabayaksa menuju Kerajaan Majapahit.
Usai seminggu bertemu Raja Majapahit lewat perantara Gajah Mada, ia pamit pulang ke Negara Dipa sambil membawa hadiah seekor kuda putih nan gagah. Insiden mengejutkan lantas terjadi saat Tumenggung Tatah Jiwa menyarankan sang tokoh untuk mencoba menunggangi kuda pemberian itu. Secara tak terduga, kuda tersebut tiba-tiba menjadi lumpuh usai tiga kali dicoba untuk dinaiki oleh Lambung Mangkurat.
Berbekal kesaktiannya, Lambung Mangkurat akhirnya mengepit kuda lumpuh itu di ketiaknya saat naik ke kapal Prabayaksa hingga tiba kembali di Banjar. Peristiwa legendaris kepulangan sang tokoh inilah yang dipercaya menjadi akar tradisi mengapa properti kuda gipang selalu dimainkan dengan cara dijepit.
Tari kuda gipang dari Kalsel. Foto: dok YouTube Taman Budaya Kalimantan Selatan |
Perbedaan dengan Kuda Lumping
Secara kasat mata, kesenian asal Kalimantan Selatan ini memang memiliki sedikit kemiripan dengan pertunjukan kuda lumping atau kuda kepang di Pulau Jawa. Walaupun begitu, kedua tarian ini justru mempunyai gaya permainan yang amat berbeda jika diperhatikan secara lebih saksama.
Pada kuda lumping, properti dimainkan dengan cara ditunggangi selayaknya menaiki punggung kuda sungguhan. Sebaliknya, kuda gipang hanya dikepit pada bagian ketiak sembari penarinya menggenggam seutas cemeti pemukul.
Tari kuda gipang juga secara konsisten menampilkan formasi barisan yang gagah dan berwibawa layaknya pasukan pengawal raja. Hal ini berbeda dengan tarian kuda lumping yang sering kali sengaja menampilkan atraksi mistis atau momen kesurupan para penarinya.
Properti Kuda dan Musik Pengiring
Dalam Koleksi Kesenian Tradisional Museum Negeri Propkalsel Lambung Mangkurat Hubungannya Dengan Muatan Lokal Kurikulum 1994 oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, dijelaskan kuda gipang dirakit sedemikian rupa menggunakan material alam berupa bambu, paikat atau rotan, serta benang lawai.
Bambu dan rotan dianyam untuk menyusun tulang badan kuda yang pipih seperti wayang kulit. Sedangkan benang lawai dikreasikan menjadi bulu leher dan ekornya.
Agar terlihat makin menawan saat pentas, properti ini disapu dengan cat minyak yang umumnya menggunakan warna dasar putih atau hitam. Hiasan corak pada kuda lantas ditambahkan dalam beraneka ragam paduan warna yang diselaraskan dengan lakon masing-masing penarinya.
Pada era lampau, langkah tari ini diatur oleh paduan bunyi alat musik tradisional seperti kurung-kurung, babun, sarunai, dan gong. Saat ini, pertunjukan tersebut lebih sering memadukan hentakan gamelan Banjar yang membuat gerak tari menjadi jauh lebih selaras dan dinamis.
Gerakan, Tata Busana, dan Fungsi Tarian
Sebagai sebuah tari rakyat berkonsep baris-berbaris, kuda gipang dibawakan dengan langkah tegap yang memancarkan pesona kekompakan kelompok. Para penari biasanya merangkai gerakan langkah empat maju-mundur, bergeser kiri-kanan, mengatur posisi berhadapan dan berbelakangan, hingga menyusun formasi lingkaran penuh.
Untuk urusan tata busana, penampilan mereka disempurnakan dengan pakaian kida-kida, kemeja lengan panjang, dan celana panjang yang dihiasi pita. Gaya ala pasukan militer tersebut kian lengkap dengan adanya atribut selempang di bahu, sepatu tertutup, serta kaos kaki yang ditarik hingga selutut.
Dahulu, para pria yang menarikan kuda gipang ini difokuskan sebagai bagian penting dari upacara arak-arakan pengantin Banjar. Namun pada masa sekarang, tarian ini telah meluas perannya menjadi sajian hiburan bagi masyarakat luas pada momen perayaan hari besar seperti 17 Agustus dan berbagai acara lainnya.

