Di tengah perkembangan tren fesyen modern, baju teluk belanga masih mempertahankan eksistensinya sebagai salah satu identitas budaya masyarakat Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Busana adat pria ini masih kerap digunakan dalam berbagai acara
Teluk belanga merupakan pakaian adat pria yang terdiri dari kemeja longgar berpotongan sederhana dengan lengan panjang. Busana ini umumnya dipadukan dengan kain sarung atau songket yang dililitkan di pinggang, menciptakan penampilan yang rapi dan berwibawa.
Kesederhanaan desainnya justru menjadi ciri khas yang mencerminkan nilai-nilai budaya Melayu yang berkembang di wilayah Kotawaringin Barat. Bagi masyarakat Pangkalan Bun, teluk belanga bukan sekadar pakaian tradisional, namun juga simbol penghormatan terhadap adat istiadat yang telah diwariskan secara turun-temurun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada berbagai kegiatan resmi, busana ini masih sering dikenakan sebagai bentuk pelestarian identitas lokal, misalnya dalam kegiatan keagamaan, hingga acara resmi yang mengangkat nilai-nilai budaya daerah.
Penggiat budaya Kotawaringin Barat, Kaspul Indah, menilai teluk belanga memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar penutup tubuh.
"Baju teluk belanga bukan hanya sekadar pakaian adat, tetapi juga mencerminkan identitas masyarakat Melayu di Kotawaringin Barat. Di dalamnya terkandung nilai kesopanan, kehormatan, dan kebersamaan yang diwariskan oleh para leluhur," ujarnya kepada detikKallimantan, Kamis (18/6/2026).
Pakaian adat teluk belanga khas Melayu Kalteng. Foto: Sigit Pamungkas/detikKalimantan |
Menurut Kaspul, nilai-nilai tersebut tercermin dari bentuk dan cara pemakaian teluk belanga yang sederhana namun tetap menunjukkan kewibawaan. Busana ini menjadi representasi karakter masyarakat yang menjunjung tinggi tata krama dan penghormatan terhadap sesama.
Ia juga menekankan pentingnya memperkenalkan teluk belanga kepada generasi muda agar warisan budaya tersebut tidak tergerus oleh perkembangan zaman.
"Generasi muda perlu memahami makna yang terkandung dalam setiap unsur pakaian adat. Jika tidak diperkenalkan sejak dini, dikhawatirkan warisan budaya ini akan semakin jauh dari kehidupan masyarakat. Karena itu, kita harus terus menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya sendiri," katanya.
Upaya pelestarian teluk belanga terus dilakukan melalui berbagai kegiatan budaya, pendidikan, serta festival daerah yang menampilkan kekayaan tradisi lokal. Kehadiran busana adat ini tidak hanya menjadi pelengkap seremoni, tetapi juga sarana untuk mengenalkan sejarah dan jati diri masyarakat Kotawaringin Barat kepada generasi penerus.
Tata Cara Penggunaan Baju Teluk Belanga
Kaspul Indah juga menjelaskan bahwa busana adat Melayu tersebut diperuntukkan bagi kaum pria dan pada masa Kesultanan Kutaringin. Dulunya teluk belanga digunakan dalam berbagai acara penting kerajaan maupun kegiatan resmi masyarakat.
Menurutnya, baju teluk belanga identik dengan warna kuning yang melambangkan kebesaran Melayu. Dalam perkembangannya, masyarakat juga menggunakan warna-warna selain kuning.
Dalam pemakaian lengkap, baju ini dipadukan dengan kain songket atau tapih yang diikat untuk menutupi bagian pinggul dan paha. Selain baju atasan dan bawahan, pakaian ini dilengkapi kopiah atau tanjak sebagai penutup kepala.
"Tata cara pemakaian songket juga memiliki makna tersendiri. Untuk kalangan bangsawan, posisi kain songket berada di atas lutut, sedangkan masyarakat biasa menggunakan songket di bawah lutut hingga setengah betis," ujar Kaspul.
Ia menjelaskan, meskipun baju teluk belanga memiliki kantong di bagian depan, kain songket tetap dianjurkan menutupi bagian tersebut. Tradisi ini mencontoh tata busana para sultan pada masa lalu.
"Kita bisa mencontoh sultan. Walaupun baju teluk belanga memiliki kantong di depan, kain songket tetap dimasukkan ke dalam. Kecuali jika menggunakan pakaian sejenis jas," katanya.
Sementara itu, cara melipat atau mengikat kain songket tidak memiliki aturan baku. Ada yang melipatnya dari kiri ke kanan seperti saat mengenakan sarung untuk salat, ada pula yang mengikatnya di bagian samping sesuai kebiasaan masing-masing.
Adapun untuk kaum perempuan, busana yang digunakan adalah baju kurung yang biasanya dipadukan dengan kebaya serta hiasan manik-manik khas Melayu. Terdapat berbagai aturan dan filosofi yang menyertainya.

