Kalimantan Timur khususnya Balikpapan dan Samarinda terkenal punya logat khas dalam percakapan sehari-hari. Siapa pun yang pernah tinggal atau merantau cukup lama di Benua Etam pasti culture shock saat pertama kali mendengar logat khas Kaltim itu.
Walaupun juga dikenal dengan wilayah yang tidak punya logat khas, nyatanya Kaltim punya! Lama-kelamaan, yang awalnya mungkin hanya ikut-ikutan karena sering mendengar orang di sekitar berkomunikasi, beberapa kata dan logat pasti akan nempel dan masuk ke dalam percakapan sehari-hari.
Kalimantan Timur sendiri dikenal sebagai daerah yang sangat heterogen. Penduduknya berasal dari berbagai suku seperti Kutai, Banjar, Bugis, Jawa, Dayak, dan pendatang dari berbagai daerah di Indonesia. Karena itulah bahasa sehari-hari masyarakat Kaltim menjadi unik, dipengaruhi berbagai budaya, terutama bahasa Banjar yang cukup dominan digunakan di Balikpapan dan Samarinda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Banyak pendatang mengaku logat Kaltim cukup cepat menular, bahkan ketika pulang kampung mereka sering kali masih membawa logat khas itu. Nah, ada lima logat khas Kaltim yang paling cepat menular ke mulut pendatang.
1. "Iya Kah?"
Kalau di banyak daerah orang berkata masa sih?, beneran?, atau serius?, di Kaltim lebih akrab dengan kalimat iya kah? Ungkapan ini diucapkan ketika ada perasaan terkejut, penasaran, atau saat mengonfirmasi suatu informasi yang diterima.
Contoh 1
Rangga: Besok libur tiga hari
Cinta: Iya kah?
Contoh 2
Cinta: Dia sudah pindah kerja.
Rangga: Iya kah?
Contoh 3
Kata iya kah juga bisa diganti dengan bujuran, yang dalam bahasa Banjar berarti benar kah?
Rangga: Eh, MBG disetop
Cinta: Bujuran, kah?!
Bagi para pendatang, kata ini biasanya menjadi kosakata pertama yang tanpa sadar ikut digunakan. Setelah beberapa bulan tinggal di Samarinda, Balikpapan, dan beberapa kota Kaltim lainnya, banyak yang mulai mengganti masa sih dengan iya kah? dalam percakapan sehari-hari.
2. "Itu Sudah"
Kalimat itu sudah secara harfiah memang artinya sudah selesai. Tetapi, dalam percakapan sehari-hari masyarakat Kaltim, itu sudah lebih menegaskan, menyetujui, atau membenarkan pernyataan lawan bicara. Berikut contohnya.
Contoh 1
Budi: Ah capek betul belajar banyak, nggak ada yang masuk.
Anto: Itu sudah, aku juga jadi malas belajar.
Contoh 2
Anto: Panas betul hari ini.
Budi: Itu sudah, dari pagi sudah panas.
3. "Iya Itu Nah"
Kalau ada satu ungkapan yang paling identik dengan logat Kaltim, mungkin jawabannya adalah imbuhan -nah. Dalam bentuk kalimat biasanya iya itu nah, maknanya menyatakan persetujuan atau menunjukkan bahwa sesuatu yang dimaksud memang benar. Berikut contohnya.
Contoh 1
Rhoma: Yang dekat lampu merah itu, kan?
Ani: Iya itu nah.
Contoh 2
Ani: Orangnya yang itu kah?
Rhoma: Iya, itu nah orangnya
Contoh 3
Kata nah di Kaltim juga banyak digunakan dalam berbagai konteks, bisa sebagai penegas pula.
Ani: Jangan begitu, nah
Rhoma: Dia memang begitu nah
4. Akhiran "Pang"
Selain kata nah sebagai penegas, kata pang juga punya fungsi yang sama. Kata ini memperkuat atau memberikan penegasan terhadap suatu kalimat. Dalam Bahasa Indonesia pun tidak ada padanan yang benar-benar sama, makananya seperti memang atau jelas. Contoh kalimatnya:
- Dia rajin banar pang.
- Murah pang di situ.
- Macet pang kalau jam segini.
Kalimat murah pang di situ misalnya berarti bahwa tempat tersebut memang terkenal murah. Sementara macet pang kalau jam segini menunjukkan bahwa di waktu itu memang hal biasa jika terjadi kemacetan. Bagi pendatang mungkin awalnya kata ini sangat asing terdengar, tapi lama-kelamaan akan menjadi kebiasaan menambahkan pang diakhir kalimat sehari-hari.
5. Akhiran "Iss"
Kalau pang digunakan untuk menegaskan, maka iss biasanya digunakan untuk menunjukkan rasa heran, kagum, atau juga bisa untuk mengeluh, mirip dengan ish dalam Bahasa Indonesia. Contohnya:
- Iss, banyak banar orangnya.
- Iss, panasnya hari ini.
- Iss, cantik banar tempatnya.
- Iss, ga bisa aku.
Dengan berbagai latar belakang suku di Kaltim, ada Kutai, Banjar, Bugis, Jawa, hingga Dayak, membuat wilayah ini sangat fleksibel dalam bertutur dan memunculkan logat-logat baru. Logat itu juga selain khas, tapi mudah diterima dan diadaptasi oleh siapa saja termasuk para pendatang.
Tak heran kalau banyak pendatang mengaku sulit melepaskan logat tersebut setelah bertahun-tahun tinggal di Benua Etam. Nah, logat Kaltim mana yang paling menempel di telinga detikers?
Simak Video "Menikmati Pesona Alam Maratua Paradise, Kalimantan Timur "
[Gambas:Video 20detik]
(des/des)
