Nama Panglima Batur diadopsi menjadi nama jalan di beberapa kota. Panglima Batur sejatinya salah satu tokoh penting yang mempertahankan wilayah Kalimantan di masa pemerintah kolonial Belanda.
Panglima dari Suku Dayak Bakumpai itu dikenal sebagai pemimpin yang pemberani, setia, dan pantang menyerah. Tidak sendiri, ia berjuang bersama Sultan Muhammad Seman dalam Perang Barito yang menjadi perang lanjutan setelah Perang Banjar.
Panglima Batur memiliki nama asli Batur bin Barui. Ia lahir di Buntok Kecil yang sekarang masuk ke wilayah Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, pada tahun 1852.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pejuang itu memiliki darah Dayak karena berasal dari Suku Dayak Bakumpai, salah satu subetnis Dayak yang bermukim di sepanjang aliran Sungai Barito. Walaupun berdarah Dayak, Panglima Batur diketahui telah memeluk agama Islam dan menjadi salah satu panglima yang setia mendukung perjuangan Kesultanan Banjar.
Semangat perjuangannya juga tidak lepas dari latar belakang keluarga. Ayahnya, Barui adalah seorang tokoh masyarakat sekaligus panglima yang terlibat dalam perjuangan melawan kolonial Belanda di wilayah Barito.
Pada masa itu, gelar panglima adalah sebuah jabatan penting sebagai pemimpin keamanan wilayah yang memiliki pasukan sendiri. Seorang panglima dipilih karena keberanian, kecerdasan, kewibawaan, serta kemampuannya memimpin masyarakat.
Tokoh Penting dalam Perang Barito
Menurut buku Cerita Rakyat Kalimantan Selatan (1984), perlawanan terhadap Belanda di Kalimantan Selatan telah dimulai sejak pecahnya Perang Banjar pada 1859 yang dipimpin Pangeran Antasari. Setelah Pangeran Antasari wafat pada 1862, perjuangan diteruskan putranya, Sultan Muhammad Seman.
Bersama Sultan Muhammad Seman, Panglima Batur memimpin perlawanan di pedalaman Sungai Barito yang kemudian dikenal sebagai Perang Barito. Perjuangannya membuahkan hasil, sejumlah wilayah direbut dari tangan Belanda.
Panglima Batur memimpin penyerangan ke Kasintu, merebut Jaan yang sebelumnya menjadi basis perjuangan Kesultanan Banjar, hingga menghancurkan Benteng Kuala Sirat milik Belanda. Bersama Sultan Muhammad Seman, ia juga melancarkan serangan terhadap Benteng Muara Teweh dan Benteng Rakit yang menjadi pusat pertahanan kolonial di wilayah Barito Utara.
Pada Januari 1905, ketika Panglima Batur mendapat tugas mencari persediaan mesiu ke Kesultanan Pasir, Belanda melancarkan serangan besar ke Benteng Manawing. Dalam pertempuran tersebut, Sultan Muhammad Seman gugur setelah terkena tembakan.
Sekembalinya ke Manawing, Panglima Batur mendapati benteng telah hancur dan pemimpin perjuangannya telah wafat. Meski kehilangan kerabat seperjuangannya, Panglima Batur memilih tetap melanjutkan perlawanan terhadap Belanda.
Menjadi Tawanan Belanda
Sudah lama Panglima Batur menjadi target penjajah, tapi percobaannya selalu gagal. Kesulitan menangkap Panglima Batur membuat Belanda menggunakan cara lain. Mereka mengetahui bahwa sang panglima sangat menyayangi keluarga dan anak buahnya.
Kesempatan itu datang ketika salah seorang keponakannya menggelar upacara pernikahan adat di Kampung Lemo. Belanda menangkap sejumlah anggota keluarga Panglima Batur dan menjadikannya sandera.
Melalui perantaraan sepupunya, Haji Kuwit, Belanda menyampaikan syarat bahwa keluarga tersebut akan dibebaskan apabila Panglima Batur bersedia menyerahkan diri untuk berunding.
Demi menyelamatkan keluarga yang tidak bersalah, Panglima Batur akhirnya keluar dari persembunyiannya. Namun, janji perundingan itu hanyalah tipu muslihat. Sesampainya di Muara Teweh pada 24 Agustus 1905, ia langsung ditangkap, diadili, lalu dibawa ke Banjarmasin sebagai tawanan.
Sebelum menjalani hukuman, Panglima Batur sempat diarak keliling Kota Muara Teweh oleh pemerintah kolonial sebagai bentuk propaganda untuk menunjukkan bahwa salah satu pemimpin perlawanan telah berhasil ditangkap.
Wafat di Tiang Gantungan
Pengadilan kolonial menjatuhkan hukuman mati kepada Panglima Batur atas tuduhan melakukan pemberontakan terhadap pemerintah Hindia Belanda. Menjelang eksekusi, permintaan terakhir yang ia sampaikan sangat sederhana, yakni agar dibacakan dua kalimat syahadat. Panglima Batur kemudian dihukum gantung di Banjarmasin pada 5 Oktober 1905 dalam usia sekitar 53 tahun.
Semula, jasadnya dimakamkan di belakang Masjid Jami Banjarmasin. Tetapi pada 21 April 1958, jenazahnya dipindahkan ke Kompleks Makam Pangeran Antasari di Kuburan Muslimin Banjarmasin sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya.
Untuk mengenang perjuangannya, pemerintah juga mendirikan Patung Panglima Batur di tepi Jalan Negara Muara Teweh-Banjarmasin, tepatnya di Desa Sikui, Kabupaten Barito Utara. Patung tersebut menjadi simbol keberanian seorang putra Dayak Bakumpai yang memilih mempertahankan kehormatan bangsanya hingga akhir hayat.
(sun/des)
