Presiden Belarus Aleksandr Lukashenko mengadakan kunjungan ke Indonesia dan disambut Presiden RI Prabowo Subianto di Istana Merdeka. Kedatangannya juga disambut dengan upacara kenegaraan serta Tarian Enggang asal Kalimantan Timur.
Dilansir detikNews, Presiden Lukashenko tiba di Istana Merdeka pada Kamis (2/7/2026) pukul 11.25 WIB. Proses penyambutan berlangsung sejak rombongan Presiden Lukashenko memasuki gerbang Istana Merdeka, diiringi pasukan berkuda dan pengawal bermotor (patwal).
Presiden Lukashenko juga disambut tari tradisional dari Suku Dayak Kenyah yang merupakan simbol penghormatan menyambut tamu. Setelah bertemu langsung dengan Presiden Prabowo, keduanya langsung berjabat tangan dan berpelukan akrab.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penyambutan dilanjutkan dengan upacara dan diperdengarkannya lagu kebangsaan Belarus, dilanjutkan dengan lagu kebangsaan Indonesia. Selepas upacara, kedua kepala negara melakukan inspeksi pasukan kehormatan dengan mengelilingi halaman Istana.
Kunjungan Lukashenko ke Indonesia ini merupakan kunjungan balasan atas lawatan Prabowo ke Belarus pada 15 Juli 2025 lalu. Kunjungan ini juga menjadi yang kedua bagi Lukashenko ke Indonesia setelah tahun 2013.
Mengenal Tari Enggang Suku Dayak Kenyah
Tarian Enggang, atau yang juga dikenal dengan nama Tari Kancet Lasan, merupakan tarian tradisional khas suku Dayak Kenyah di Kalimantan Timur. Mengutip studi oleh Astri Rahel dkk. dari ISI Yogyakarta, tarian ini diciptakan sebagai bentuk penghormatan kepada nenek moyang yang diyakini berasal dari langit dan turun ke bumi menyerupai burung enggang.
Simbolisme dan Makna
Burung enggang merupakan lambang pemersatu suku Dayak Kenyah dan simbol perdamaian. Setiap bagian tubuh burung ini dalam tarian memiliki makna simbolis tersendiri.
- Sayap yang tebal: Menggambarkan sosok pemimpin yang melindungi masyarakatnya
- Suara: Melambangkan suara pemimpin yang selalu didengar oleh rakyat
- Ekor yang panjang: Menjadi simbol kemakmuran bagi masyarakat
Melalui tarian ini, masyarakat Dayak Kenyah merefleksikan sifat-sifat burung enggang, yaitu berani, jujur, dan rendah hati.
Fungsi Tarian
Pada awalnya, Tarian Enggang bersifat sakral dan ditarikan dalam upacara adat atau ritual untuk memohon kemakmuran kepada nenek moyang. Namun, seiring berjalannya waktu, fungsinya berkembang menjadi tarian hiburan yang dipentaskan pada pesta panen padi, acara ulang tahun desa, penyambutan tamu, hingga pernikahan.
- Fungsi Sakral dan Ritual
Pada awalnya, tarian ini merupakan tarian sakral yang hanya ditarikan dalam upacara adat atau ritual tertentu. Tujuannya adalah untuk memohon kemakmuran kepada nenek moyang serta sebagai bentuk penghormatan dan pemujaan terhadap nenek moyang yang diyakini berasal dari langit dan turun ke bumi.
- Fungsi Hiburan dan Sarana Sosial
Seiring berjalannya waktu, fungsi tarian ini bergeser dan kini lebih sering dipentaskan sebagai tarian hiburan bagi masyarakat. Tarian ini umum ditampilkan dalam berbagai acara sosial dan perayaan, seperti upacara pesta panen padi, acara ulang tahun desa, penyambutan tamu, acara pernikahan, hingga ritual pengobatan.
- Simbol Pemersatu dan Perdamaian
Secara filosofis, tarian ini berfungsi sebagai lambang pemersatu suku Dayak Kenyah. Hal ini terlihat dari adanya pemimpin tari yang menyimbolkan persatuan di antara para penari. Selain itu, tarian ini merepresentasikan Burung Enggang sebagai simbol perdamaian
Tarian ini juga menggambarkan kehidupan sehari-hari burung enggang sekaligus merefleksikan sifat-sifat yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Dayak Kenyah, yaitu berani, jujur, dan rendah hati.
Jumlah Penari dan Durasi
Tarian ini dibawakan secara berkelompok oleh penari perempuan. Jika ditampilkan di lamin (rumah adat), jumlah penarinya sekitar 12-20 orang, sedangkan di lapangan terbuka bisa mencapai 22-30 orang
Kemudian, gerakan tari ini meniru tingkah laku burung enggang, seperti saat sedang terbang, berpindah tempat, serta membuka dan menutup sayapnya. Estetika gerakannya dinilai sederhana namun tetap indah untuk dinikmati. Penampilan tarian enggang biasanya berlangsung selama 5 hingga 7 menit.
Busana, Properti, dan Musik Pengiring
Penampilan Tarian Burung Enggang sangat menonjolkan keindahan estetika melalui pakaian dan atributnya. Berikut macam-macam atribut untuk Tarian Enggang.
- Sapai dan Ta'ah: Penari mengenakan baju (Sapai) dan rok (Ta'ah) berbahan kain hitam yang dihiasi manik-manik berwarna cerah membentuk motif hewan, tumbuhan, atau manusia
- Kirip: Properti utama berupa bulu Burung Enggang yang dipegang di tangan, yang akan bergerak cantik saat dibuka dan ditutup mengikuti gerakan penari
- Aksesori: Dilengkapi dengan topi tradisional, anting, kalung, serta gelang tangan dan kaki
Sementara itu, suasana gembira dalam tarian ini dibangun melalui iringan alat musik tradisional, antara lain:
- Sape: Alat musik petik yang mirip dengan gitar.
- Jatung Utang: Alat musik yang mirip dengan kulintang.
- Gong.
Demikian fakta-fakta tentang Tarian Enggang dari Suku Dayak Kenyah. Semoga bermanfaat!
Sumber: Estetika Tari Burung Enggang Khas Suku Dayak Kenyah di Kalimantan Timur dalam IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol. 18, No. 2, 2023, pp.73-80.
(des/des)
