Palangka Raya - Himba merupakan salah satu orang utan yang baru saja dilepasliarkan di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. Tak disangka, masa bayinya begitu kelam.
Foto Kalimantan
Perjalanan Himba dari Bayi Penuh Luka hingga Bisa Kembali ke Rimba
Pada 2 Oktober 2011, himba menjadi korban kebakaran hutan yang melanda kawasan sekitar Desa Takaras, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Ia yang penuh luka bakar diantar ke Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng milik BOS Foundation.
Saat tiba di Nyaru Menteng, kondisi Himba membuat seluruh tim dokter terenyuh. Usianya diperkirakan baru sekitar enam bulan dengan berat badan hanya 3,3 kilogram. Hampir seluruh tubuhnya mengalami luka bakar. Kulit di kepala, tangan, kaki, wajah, mulut, tengkuk hingga bagian anus melepuh. Dua jari tangan kanannya patah dan mengalami luka serius. Tubuhnya juga mengalami dehidrasi, demam tinggi, dipenuhi kotoran, serta sangat lemah akibat kehilangan induknya dalam kebakaran hutan.
Menyelamatkan nyawa Himba hanyalah langkah awal. Tantangan sesungguhnya adalah mengembalikan naluri liarnya agar ia mampu hidup mandiri di hutan tanpa bergantung pada manusia.
Sekitar 14 tahun sejak pertama kali ditemukan, Himba akhirnya dinyatakan siap kembali ke alam liar. Ia masuk dalam daftar pelepasliaran orang utan ke-47 yang disiapkan BOS Foundation. Ia dilepas ke habitat alaminya di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, kawasan hutan hujan tropis yang menjadi rumah bagi populasi orang utan Kalimantan.
Bertahun-tahun Himba menghabiskan hidupnya dalam proses rehabilitasi. Waktu terus berjalan. Luka bakar yang dulu memenuhi tubuhnya kini hanya menyisakan bekas. Bayi mungil yang dahulu tak berdaya telah tumbuh menjadi orang utan jantan dewasa yang gagah dan kuat. Ia sudah kembali ke rimba.
