Dewi Astutik, buron kasus sabu 2 ton senilai Rp 5 triliun itu, akhirnya ditangkap oleh tim BNN, Interpol, dan BAIS di Sihanoukville, Kamboja. Dia telah dibawa ke Indonesia pada Selasa (2/5) kemarin untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.
Dewi Astutik adalah buronan kelas kakap jaringan narkoba internasional, perempuan asal Ponorogo itu masuk daftar pencarian Interpol. Namanya selama ini dikenal sebagai aktor penting penyelundupan 2 ton sabu senilai Rp 5 triliun di perairan Karimun, Kepulauan Riau (Kepri).
Sabu sebanyak 2 ton itu diangkut Kapal MT Sea Dragon Tarawa dikendalikan oleh seorang warga negara Thailand bernama Chancai. Pria tersebut merupakan buron kepolisian Thailand dan kini telah ditetapkan sebagai DPO internasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dewi disebut kerap berpindah-pindah negara dan mengubah penampilan demi menghindari kejaran aparat. Dihimpun BeritaKlik, Rabu (3/12/2025), Dewi Astutik ditetapkan sebagai DPO kasus narkoba sejak tahun 2024 lalu. Dewi Astutik diyakini memiliki keterkaitan dengan puncak jaringan internasional di kawasan Asia Tenggara yang melibatkan jaringan Indonesia.
Sarno kaget bukan main, wajah istrinya tiba-tiba tersebar di media sosial karena ditangkap polisi sebagai buronan kelas kakap jaringan narkoba internasional. Istrinya bernama Paryatin, namun nama samaran yang tersebar ialah Dewi Astutik. Paryatin selama ini menyamar menggunakan nama adik kandungnya.
Sarno selama ini sibuk hidup kerja serabutan untuk menghidupi anak-anaknya. Sebagian uang kehidupan sehari-hari dibantu oleh istrinya, yang kerap pamit untuk pergi ke luar negeri. Ia mengira selama ini Paryatin alias Dewi Astutik bekerja sebagai tenaga kerja wanita (TKW) biasa, bukan bisnis haram narkoba seperti yang dituduhkan.
"Keluarga syok, tidak mengira, katanya ya baik-baik kerjanya," ujar Sarno, Rabu (3/12/2025).
Sarno mengaku terkejut ketika melihat foto istrinya beredar di media. Ia mengaku hanya bisa pasrah meski tak percaya jika Paryatin disebut terlibat jaringan narkoba.
"Di media ada fotonya, saya syok dan kaget. Tapi saya pasrah. Di rumah saja susah didiknya. Tapi ya gimana," tuturnya.
"Soal gembong narkoba? Saya tidak tahu, soal sepak terjangnya nggak tahu saya," imbuhnya.
Sarno menceritakan, pada 2024 sebelum Ramadan, Paryatin sempat berpamitan hendak pergi ke rumah majikan lamanya di Taiwan. Menurutnya, tak ada penjelasan lain yang disampaikan sang istri saat itu.
"Sebelum puasa tahun 2024, pamitnya ke rumah bosnya yang dulu di Taiwan," katanya.
"Ya pamitnya kayak gitu, aku nggak tahu sama sekali. Katanya ke rumah majikan yang dulu," lanjutnya.
Sarno mengatakan, sejak saat itu ia tidak mengetahui lagi keberadaan sang istri. Komunikasi hanya terjadi sesekali, itu pun sangat jarang.
"Sudah itu nggak tahu ke mana-mana," ucapnya.
"Waktu awal-awal berangkat dulu, ngomongin tanya kabar anak. Meneleponnya sebulan sekali," tambahnya.
Ia menyebut selama bekerja, istrinya tetap mengirim uang untuk kebutuhan anak. Tidak banyak, namun cukup untuk jajan dan kebutuhan sehari-hari.
"Selama kerja kirim uang buat anak, jajan anak gitu aja," tuturnya.
(aau/aau)