Dugaan pencabulan terhadap perempuan berusia 18 tahun di Palopo, Sulawesi Selatan, dibantah oleh terduga pelaku yang merupakan Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Palopo. Guru besar berinisial Prof ER itu mengaku hanya membantu perempuan yang saat itu tengah pingsan.
Dilansir detikSulsel, Prof ER mengatakan kronologi yang beredar belakangan itu tidak benar. Ia mengaku hanya membantu yang bersangkutan karena pingsan, tanpa ada niat tertentu ke arah seksual.
"Tindakan pertolongan yang saya berikan semata-mata atas dasar kemanusiaan, tidak ada niat sedikitpun ke arah dorongan nafsu atau seksual," ujar Prof ER, Selasa (3/2/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Prof ER juga berharap agar berbagai pihak untuk menunggu dan menghormati proses hukum yang berjalan. Harapannya juga, proses hukum ini dapat berjalan secara terbuka dan tidak ditunggangi oleh kepentingan tertentu yang bermaksud merugikannya.
"Melalui ini saya berharap dan memohon agar kiranya kita bersabar menunggu dan menghormati proses hukum yang sedang berlangsung dan terbuka tanpa ditunggangi kepentingan," lanjutnya.
Pada saat kejadian hari Sabtu (31/1) siang, kata Prof ER, ia baru selesai memotong rumput di belakang ruko miliknya. Saat itulah dia melihat ada seorang perempuan pingsan di depan tokonya.
"Begitu saya akan membuka kunci pintu ruko saya melihat ada seorang perempuan yang pingsan di depan ruko dan ditopang oleh laki-laki (rekan kerjanya) yang membawa es kristal," tutur Prof ER.
Rekan dari perempuan tersebut memanggil Prof ER dan meminta bantuan untuk mengangkat temannya yang pingsan. Prof ER pun membantu menggotong perempuan pingsan itu ke dalam rukonya.
"Saya dipanggil oleh laki-laki yang sedang menopang wanita itu untuk membantu mengangkatnya. Dalam kondisi terik matahari pinggir jalan saya melihat tidak ada tempat memberi pertolongan pertama kecuali di dalam ruko," lanjutnya.
Perempuan itu dibaringkan di sebuah tempat tidur dalam ruko. Prof ER kemudian menutup ruko tempat jualannya, sementara si perempuan pingsan dijaga oleh keponakan perempuan Prof ER.
"Dia dijaga oleh ponakan saya yang perempuan, setelah kami berdua masuk kembali melihat dan menanyakan keponakan yang menjaga 'Bagaimana?' namun tidak ada respons dari ponakan saya," lanjutnya.
Rekan perempuan itu kemudian pergi untuk mengabari bosnya. Sementara itu, Prof ER mengaku melihat ada sejumlah sayatan di tangan perempuan tersebut. Ia mencoba melihatnya lebih rinci.
"Saya kembali melihat lebih dekat jangan sampai telah terjadi pendarahan sebelumnya, saya mengatakan dengan memanggil 'hei hei, sadarki' disaksikan oleh ponakan saya yang perempuan yang tinggal di ruko," katanya.
Prof ER pun mengaku berinisiatif melakukan tindakan pertolongan pertama. Ia juga menurunkan baju korban yang sempat terlipat ketika diangkat ke dalam ruko.
"Pertolongan pertama menyingsingkan jilbabnya dengan menepis di bagian depan pada area pernapasan dan saya menepuk-nepuk kepala samping kiri. Sayapun menurunkan baju bagian bawah yang terangkat akibat gotongan," ceritanya.
Beberapa saat kemudian, perempuan itu akhirnya sadar dan melihat ada Prof ER duduk di kursi. Wanita itu diberi minum, lalu keluar setelah cukup kuat. Namun sesampai di luar ruko, kata Prof ER, wanita tersebut malah berteriak menuduhnya telah melecehkan.
"Lalu dia keluar dari ruko dan tiba-tiba perempuan itu menunjuk-nunjuk saya sambil berkata 'kau melecehkan saya'," katanya.
Sementara itu, UIN Palopo memastikan dugaan pelecehan terjadi di luar kampus dan korban bukan mahasiswinya. Korban diduga bekerja di dekat ruko milik Prof ER.
"(Korban) kerja di dekat ruko (milik Prof ER) dan kejadiannya di luar kampus, tapi saya pastikan dia bukan mahasiswa UIN Palopo. Banyak yang salah paham, dipikir mahasiswi UIN ini terduga korban, jadi kami pastikan itu bukan," ucap Humas UIN Palopo Reski Azis, Senin (2/2/2026).
Baca selengkapnya di detikSulsel.