Ada Dugaan Masalah Keluarga, Ortu Pelaku Bom Molotov Kubu Raya Diperiksa

Ada Dugaan Masalah Keluarga, Ortu Pelaku Bom Molotov Kubu Raya Diperiksa

Ocsya Ade CP - detikKalimantan
Jumat, 06 Feb 2026 09:01 WIB
Kapolda Kalbar tinjau SMPN 3 Sungai raya usai pelemparan bom molotov.
Kapolda Kalbar tinjau SMPN 3 Sungai raya usai pelemparan bom molotov. Foto: Dok. Istimewa
Kubu Raya -

Kepolisian masih mendalami kasus pelemparan bom molotov ke SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat (Kalbar). Lima orang saksi telah diperiksa, dan orang tua siswa pelaku dijadwalkan untuk menjalani pemeriksaan.

Kabid Humas Polda Kalbar Kombes Pol Bambang Suharyono mengatakan penanganan perkara tersebut sepenuhnya dilakukan oleh Polres Kubu Raya. Pemeriksaan saksi dan pihak keluarga dilakukan untuk mengungkap secara menyeluruh latar belakang serta motif di balik aksi berbahaya tersebut.

"Saat ini kasus ditangani Polres Kubu Raya. Saksi yang sudah diperiksa ada lima orang, dan juga akan dilakukan pemeriksaan terhadap orang tua yang bersangkutan," ujar Bambang, Jumat (6/2/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Diketahui, terduga pelaku berinisial RY, siswa kelas IX SMPN 3 Sungai Raya. Berdasarkan hasil pendalaman awal, dia diduga mengalami tekanan psikologis yang cukup berat, baik dari lingkungan keluarga maupun sekolah.

Tekanan tersebut disebut berkelindan dengan dugaan perundungan atau bullying yang dialaminya. Hal itu memicu munculnya keinginan untuk melakukan aksi balas dendam.

Selain faktor psikologis, kepolisian juga menelusuri dugaan keterlibatan RY dalam sebuah grup yang memuat ideologi kekerasan ekstrem. Dugaan ini menjadi salah satu fokus penyelidikan karena dinilai berpotensi memengaruhi pola pikir dan mendorong pelaku melakukan tindakan kekerasan.

"Secara umum, latar belakang anak ini sebenarnya tergolong baik. Namun minimnya pendampingan psikososial dan literasi digital membuat yang bersangkutan rentan terpapar narasi bernuansa kekerasan, yang secara keliru dianggap dapat memberi identitas diri," katanya.

Menurut Bambang, pengawasan terhadap aktivitas anak di media sosial juga menjadi faktor krusial. Perubahan perilaku maupun penurunan prestasi anak di sekolah bisa menjadi indikator awal yang harus dicermati.

"Semua bisa dilihat, apakah ada perubahan perilaku atau penurunan nilai. Di sini orang tua perlu berkolaborasi dengan pihak sekolah. Melalui konseling akan diketahui perubahan-perubahan tersebut," tuturnya.

Aksi pelemparan bom molotov tersebut terjadi pada Selasa (3/2/2026). Meski tidak menimbulkan korban jiwa, peristiwa ini sempat menimbulkan kepanikan di lingkungan sekolah dan masyarakat sekitar. Aparat kepolisian bergerak cepat mengamankan situasi serta melakukan penyelidikan untuk memastikan tidak ada ancaman lanjutan.

Bambang menegaskan penanganan kasus ini tidak hanya berfokus pada aspek penegakan hukum, tetapi juga memperhatikan pendekatan perlindungan anak dan upaya pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang.

"Pencegahan maupun penanganan anak yang terpapar paham ekstrem adalah tanggung jawab kita semua. Peran guru dalam proses belajar mengajar sangat penting, begitu juga peran orang tua," katanya.

Menurutnya, orangtua memegang peran sentral sebagai pendidik karakter utama. Orangtua diharapkan mampu menanamkan nilai empati, saling menghormati, etika, serta membangun komunikasi yang terbuka dengan anak.

"Anak harus merasa memiliki ruang aman untuk bercerita tentang apa yang dialami atau disaksikan, tanpa rasa takut dihakimi. Selain itu, pengawasan terhadap aktivitas anak di dunia digital juga sangat penting untuk mencegah risiko cyberbullying," katanya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Kronologi Polres Jaktim Diserang Massa Perusuh"
[Gambas:Video 20detik]
(des/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads