Biang Kerok Mahalnya Gas Melon di Apokayan, Perbatasan Indonesia-Malaysia

Infografis

Biang Kerok Mahalnya Gas Melon di Apokayan, Perbatasan Indonesia-Malaysia

Tim detikKalimantan - detikKalimantan
Kamis, 25 Jun 2026 16:34 WIB
Infografis Biang Kerok Mahalnya Gas Melon di Apokayan
Biang kerok mahalnya gas melon di Apokayan/Foto: (Infografis ini diolah dengan NotebookLM)
Malinau -

Warga di wilayah perbatasan RI-Malaysia, tepatnya di Kecamatan Kayan Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, memilih menggunakan gas elpiji asal Malaysia dibandingkan elpiji 3 kg (gas melon) produksi Indonesia.

Keputusan itu didasari tingginya harga gas melon yang mencapai angka fantastis di tingkat eceran, serta sulitnya akses distribusi produk dalam negeri ke wilayah perbatasan.

Perbandingan Harga dan Efisiensi Volume Gas

Masyarakat di Desa Long Nawang dan Desa Nawang Baru menilai penggunaan gas asal negara tetangga jauh lebih ekonomis jika diakumulasikan secara volume dan biaya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

  • Harga Gas Melon: Di kawasan Apokayan, harga satu tabung gas melon mencapai Rp 150.000.
  • Biaya Kumulatif: Untuk mendapatkan volume gas yang setara dengan 14 kg, warga harus membeli lima tabung gas melon dengan total biaya Rp 750.000.
  • Harga Gas Malaysia: Tabung gas Petronas 14 kg dijual di kisaran Rp 550.000 per tabung, naik dari harga sebelumnya Rp 500.000 akibat kenaikan nilai tukar dolar.

Kendala Distribusi dan Infrastruktur Jalan

Meroketnya harga gas melon murni disebabkan oleh faktor logistik dan kondisi jalan yang menghambat rantai pasok.

  • Rantai Pasok Jalur Darat: Pasokan gas melon didatangkan dari Long Bagun, Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur.
  • Rincian Biaya: Di Long Bagun, harga gas sudah berada di kisaran Rp 70.000 - Rp 80.000, ditambah ongkos angkut darat sebesar Rp 50.000 per tabung menuju Apokayan.
  • Status Jalan: Tingginya harga disebabkan oleh kondisi jalan Trans-Nasional yang rusak parah.

Respons Pemerintah Kabupaten Malinau

Pemerintah daerah mengakui bahwa distribusi elpiji bersubsidi belum mampu menjangkau wilayah terpencil di Apokayan.

  • Keterbatasan Pangkalan: Saat ini, pangkalan gas dari dua agen utama (PT Naila dan PT Karyataman Nixon) masih terpusat di wilayah perkotaan Malinau karena kendala transportasi. Kabag Perekonomian dan SDA Setda Malinau, Erly Sumiati menyatakan, "Di daerah Apokayan memang kita belum ada penyaluran elpiji ke sana. Makanya mereka menggunakan yang Malaysia punya".
  • Tanpa Subsidi: Plt Camat Kayan Hulu, Setim Ala, menegaskan bahwa gas melon yang masuk ke wilayahnya tidak memiliki harga subsidi. "Di sana itu tabung gas 3 kg tidak ada subsidinya, itu memang harga dagang. Masyarakat akhirnya lebih memilih yang 14 kg asal Malaysia supaya tidak bolak-balik beli", jelasnya.

Upaya Solusi dan Harapan Masyarakat Perbatasan

Pihak berwenang tengah mencari solusi jangka panjang guna menstabilkan harga kebutuhan pokok di wilayah perbatasan.

  • Rencana Pangkalan Baru: Pemkab Malinau berencana membuka pangkalan resmi di Apokayan jika skema pengiriman memungkinkan.
  • Fokus Infrastruktur: Setim Ala menekankan bahwa perbaikan akses jalan adalah kunci utama penurunan harga, mengingat Apokayan saat ini menjadi daerah dengan harga kebutuhan material tertinggi di Indonesia. Ia mendesak pemerintah pusat untuk mengambil alih jalan konsesi agar menjadi jalur negara. "Kita tidak minta buat jalan baru, tapi harapannya jalan yang sudah ada itu diputihkan oleh negara untuk dijadikan akses bagi masyarakat kita di wilayah perbatasan. Akses jalan adalah kunci utama penurun harga", pungkasnya
(sun/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads