Infografis: Skenario Pemindahan Badak Kalimantan dengan Helikopter

Infografis: Skenario Pemindahan Badak Kalimantan dengan Helikopter

Tim detikKalimantan - detikKalimantan
Jumat, 26 Jun 2026 13:30 WIB
Skenario Pemindahan (Translokasi) Badak Pari
Skenario pemindahan (translokasi) Badak Pari/Foto: (Infografis ini diolah NotebookLM dengan sumber dari detikEdu)
Mahakam Ulu -

Spesies badak Kalimantan (Dicerorhinus sumatrensis harrissoni) berada di ambang kepunahan. Populasinya hanya menyisakan dua ekor saja.

Karena kedua individu yang tersisa-bernama Pahu dan Pari-adalah betina, para ahli konservasi berencana menerapkan teknologi reproduksi berbantuan atau program bayi tabung, untuk memastikan keberlangsungan subspesies ini.

Kondisi Populasi dan Pentingnya Intervensi Sains

Keberadaan badak Kalimantan menjadi perhatian dunia konservasi karena jumlahnya yang sangat kritis dan keterbatasan individu pejantan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

  • Populasi Tersisa: Saat ini hanya ada dua ekor badak Kalimantan betina yang terdeteksi, yaitu Pahu dan Pari.
  • Status Pari: Pari merupakan satu-satunya badak Kalimantan yang masih hidup bebas di hutan Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) tanpa pasangan, sehingga tidak dapat melanjutkan garis keturunan secara alami.
  • Status Pahu: Pahu telah lebih dulu berada di Suaka Badak Kelian, Kalimantan Timur, di bawah pengawasan ketat.
  • Urgensi Waktu: Pemerintah menekankan pentingnya tindakan cepat agar spesies ini tidak hilang dalam satu dekade ke depan. Kasubdit Pengawetan Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan, Budi Mulyanto, menyatakan, "Kalau kita tidak bertindak sekarang, mungkin 10 tahun lagi kita hanya bisa melihatnya di buku sejarah".

Mekanisme Program Bayi Tabung untuk Satwa Langka

Teknologi reproduksi ini dipilih sebagai langkah darurat untuk menyelamatkan materi genetik yang masih tersisa dari kedua badak betina tersebut.

  • Pengambilan Sel Telur: Sel telur dari Pari yang dinilai relatif muda dan sehat akan diambil, disimpan, dan dikembangkan.
  • Penyimpanan Genetik: Meskipun saat ini tidak ada pejantan, sel telur tersebut diharapkan dapat menghasilkan keturunan baru melalui bantuan sains di masa depan.
    Keterlibatan Ahli: Operasi pelestarian ini melibatkan kolaborasi antara ilmuwan, dokter hewan, petugas lapangan, hingga tokoh adat setempat.

Skenario Pemindahan (Translokasi) Badak Pari

Untuk memaksimalkan perawatan dan pengamanan, Pari harus dipindahkan dari hutan Mahulu menuju lokasi konservasi yang lebih aman.

  • Metode Evakuasi: Skenario pemindahan direncanakan menggunakan helikopter khusus guna menjamin keamanan satwa dan meminimalkan tingkat stres.
  • Standar Internasional: Aliansi Lestari Rimba Terpadu (Alert) memastikan setiap langkah evakuasi, mulai dari pemilihan vendor hingga pembuatan perangkap, mengikuti prosedur internasional.
  • Adaptasi di Lokasi Baru: Pari akan menjalani masa karantina dan adaptasi selama tiga bulan di Suaka Badak Kelian untuk pemeriksaan kesehatan menyeluruh dan pemantauan perilaku.

Dukungan Masyarakat Adat dan Perlindungan Habitat

Upaya pelestarian ini tidak hanya berfokus pada individu satwa, tetapi juga pada penjagaan ekosistem asalnya.

  • Peran Masyarakat Adat: Ketua Dewan Adat Dayak Kalimantan Timur, Victor Juan, menegaskan dukungan masyarakat Mahulu terhadap misi ini. Victor mengungkapkan, "Hutan dan isinya adalah bagian dari kehidupan masyarakat adat. Karena itu kami mendukung penuh agar satwa ini tidak punah sehingga keseimbangan alam tetap terjaga".
  • Areal Preservasi: Habitat alami Pari di Mahulu diusulkan menjadi kawasan lindung khusus (Areal Preservasi) yang akan tetap dijaga meski badaknya telah dipindahkan. Kepala BKSDA Kalimantan Timur, Ari Wibawanto, menegaskan, "Kita tidak mengambil badak lalu meninggalkan hutannya begitu saja. Hutan ini tetap dijaga agar tidak rusak karena diusulkan menjadi kawasan preservasi".
(sun/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads