Kasihan Orang Utan Terlantar di Kalimantan, Ada yang Pungut Sampah-'Mengemis'

Kasihan Orang Utan Terlantar di Kalimantan, Ada yang Pungut Sampah-'Mengemis'

Tim detikKalimantan - detikKalimantan
Sabtu, 31 Jan 2026 14:01 WIB
Bayi orangutan yang diselamatkan dari lokasi aktivitas pertambangan ilegal di Ketapang.
Bayi orang utan Kalimantan. Foto: Dok. YIARI
Balikpapan -

Sam, orang utan berusia sekitar 18-20 tahun ditemukan warga tengah mencari makan di tumpukan sampah Simpang Perdau, Kecamatan Bengalon, Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur (Kaltim). Sam ditemukan sedang duduk dan fokus menikmati makanan yang dipegangnya.

Usai video warga menemukan Sam jadi viral, BKSDA Kaltim bersama Conservation Action Network (CAN) Borneo dan Centre for Orangutan Protection (COP), langsung turun ke lokasi untuk mencari keberadaan Sam. Orang utan itu kemudian dievakuasi pada Selasa, 27 Januari 2026 dan telah dilepasliarkan ke Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat.

Fenomena ini mengundang rasa iba, banyak yang khawatir dengan nasib primata penghuni asli tanah Borneo ini. Sebab nyatanya, kemunculan orang utan di lokasi tumpukan sampah itu bukan yang pertama.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Berdasarkan keterangan warga, ini bukan pertama kali. Sudah beberapa kali orang utan datang ke situ mencari makan. Yang sekarang viral karena ada videonya," ujar Founder dan Direktur dari Conservation Action Network (CAN) Borneo, Paulinus Kristanto kepada detikKalimantan.

Orang Utan Bernama SamOrang Utan Bernama Sam dievakuasi. Foto: Istimewa (dok CAN Borneo)

Paulinus menuturkan pengelolaan sampah yang benar harus menjadi solusi agar ini tidak terulang lagi. Hidup berdampingan dengan orang utan, membuat kebiasaan manusia membuang sampah di pinggir jalan dapat menjadi faktor perubahan perilaku hewan dilindungi tersebut.

Selain karena sampah, hutan bagi orang utan juga sudah mulai menyempit. Dari hasil pengambilan gambar tim CAN Borneo, di bagian kiri dan kanan hutan sudah habis karena aktivitas pertambangan.

"Saat tim di sana juga menemukan bahwa faktor kehilangan habitat atau berkurangnya habitat alami mendorong orang utan keluar dari hutan dan mendekati permukiman jalan lokasi oleh tim kita. Itu mungkin jarak sekitar 100 sampai 50 meter sudah tambang semua," bebernya.

Secara tidak langsung, ia menggambarkan bentang hutan di koridor Simpang Perdau hingga arah Wahau sudah tidak lagi ideal sebagai ruang jelajah orang utan. Satwa yang masih bertahan disebut berada dalam kondisi terpaksa karena sumber pakan dan wilayah hidup yang terus menyusut.

Foto drone hasil investigasi di Landskap Karaitan, Simpang Perdau Jalan Poros Sangatta-Bengalon. (Dokumentasi Jaringan Penulis Alam)Foto drone hasil investigasi di Landskap Karaitan, Simpang Perdau Jalan Poros Sangatta-Bengalon. (Dokumentasi Jaringan Penulis Alam)

"Ketika land clearing sudah sampai ke jalan, praktis tidak ada lagi habitat tersisa. Waktu hutan tinggal sedikit saja mereka sudah makan sampah, apalagi kalau benar-benar habis," katanya.

Paulinus memandang kondisi ini sebagai peringatan dini bahwa tekanan terhadap habitat berdampak langsung pada perubahan perilaku satwa liar dan meningkatkan potensi konflik dengan manusia.

Senada, Kepala BKSDA Kaltim, M Ari Wibawanto menyebut lokasi penemuan orang utan yang makan di tempat sampah memang sudah tidak layak. Karena berdekatan dengan jalan, kebun sawit, dan tambang.

Menurutnya, ada banyak faktor orang utan di Simpang Perdau turun ke jalan. Faktor terbesar adalah seringnya diberi makan hingga di lokasi tak ada pakan lagi.

"Kemudian faktor kalau dia sudah tua, dewasa, dan dia sudah tidak bisa naik ke atas pohon lagi dan mainnya sekarang di tanah saja, jadi kita tidak bisa memastikan kenapa dia begitu, banyak faktor yang memengaruhi," tutur Ari.

Selain itu di Kaltim memang terkenal dengan orang utan jenis Morio atau Pongo pygmaeus morio. Salah satu orang utan yang mampu survive dalam kondisi apapun.

"Jadi Morio ini adalah salah satu orang utan terpintar dari beberapa orang utan yang ada di Indonesia, meskipun dia tidak terlalu besar, tapi kecenderungan mereka bisa survive, jadi karena itu juga (faktor) jadi karena mereka sudah dikasih makan, merasakan makanan manusia jadi mereka mencari makanan manusia," pungkasnya.

Nasib Orang Utan di Kalimantan: Ada yang Ditemukan Kurus-'Mengemis'

Bayi orang utan Jack dipangku artis Ramon Y Tungka di PPS Longsam, Kampung Merasa, Berau.Bayi orang utan Jack dipangku artis Ramon Y Tungka di PPS Longsam, Kampung Merasa, Berau. Foto: Dok. Istimewa

Berkaca pada beberapa waktu sebelumnya, nasib orang utan yang memprihatinkan juga sempat terkuak dalam beberapa peristiwa. Pada akhir November 2025 lalu, seekor bayi orang utan ditemukan warga di area perkebunan kelapa sawit di Desa Miau Baru, Kecamatan Kongbeng, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur (Kaltim).

Bayi orang utan yang diberi nama Jack itu ditemukan berada di bawah pohon sawit dan sempat dirawat warga selama tiga hari sebelum diserahkan ke pihak berwenang. Jack ditemukan di perkebunan dalam keadaan mengkhawatirkan, yakni stres dan demam.

Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, Jack diperkirakan belum berusia satu tahun. Kondisinya sangat kurus atau berada pada Body Condition Score (BCS) 1, mengalami dehidrasi ringan, serta terdapat luka lecet bernanah di telapak tangan dan kaki akibat duri kelapa sawit.

Lalu pada Desember 2025 lalu, viral video yang memperlihatkan individu orang utan turun ke jalan di wilayah Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur (Kaltim). Disebutkan orang utan itu turun ke jalan di wilayah Bengalon-Kaliorang.

Tangkapan layar orang utan turun ke jalanan Kutai Timur dan diberi makan pengendara.Tangkapan layar orang utan turun ke jalanan Kutai Timur dan diberi makan pengendara. Foto: dok Istimewa

Dalam video tersebut terlihat orang utan dengan ukuran cukup besar duduk di pinggir jalan. Pengendara yang melintas pun memberinya makan pisang. Lokasi tersebut diketahui memang sering ditemukan aktivitas orang utan.

Tak sampai di situ, akhir Januari 2026 warga menemukan Jani, bayi orangutan betina yang ditemukan terlantar tanpa induk di kebun sawit milik warga di Desa Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar). Jani terpantau tidak banyak bergerak dan terlihat kebingungan menunggu induknya.

Kini, Jack dan Jani telah dirawat sampai kondisinya memungkinkan untuk dilepasliarkan di wilayahnya masing-masing. Sementara orang utan yang kedapatan 'mengemis' di Kutim tak diketahui identitasnya.

Temuan orang utan terlantar ini mencerminkan tekanan yang terus meningkat terhadap habitat satwa liar, akibat landskap yang terfragmentasi. Sekedar diketahui, dalam laman WWF Indonesia disebut orang utan Kalimantan berada dalam status Endangered/EN (terancam punah) menurut IUCN (lembaga konservasi dunia).

Orang utan merupakan satwa yang dilindungi dalam hukum nasional, berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta PP nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Tidak hanya itu, pada level internasional orangutan menempati status Appendix I dalam CITES, sebuah konvensi yang mengatur perdagangan spesies di dunia. Itu artinya, orangutan bukan spesies yang boleh diperjualbelikan.

Laman Taman Nasional Sebangau juga menjelaskan orang utan kalimantan dalam status endangered (terancam) sejak tahun 1994. Pemerintah Indonesia juga telah memasukkan spesies ini sebagai satwa yang dilindungi. Hal ini disebabkan populasi orangutan kalimantan yang semakin hari mengalami penurunan akibat dari rusaknya habitat (kerusakan hutan), kebakaran hutan, pembalakan hutan, menciutnya luas hutan, serta perburuan dan perdagangan liar.




(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads