Di kawasan Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur (Kaltim), ada sebuah pulau tersembunyi yang unik. Keunikannya ada pada danau yang terdapat di tengah-tengah pulau. Tidak sampai di situ saja, danau tersebut dipenuhi oleh ribuan ubur-ubur!
Danau Kakaban, diambil dari nama yang sama dengan Pulau Kakaban, adalah danau air asin seluas sekitar 400 hektare yang terbentuk dari proses geologis jutaan tahun lalu. Saat itu, kawasan ini merupakan bagian dari laut, namun akibat pergerakan tektonik, terumbu karang terangkat ke permukaan dan membentuk cekungan yang menjebak air laut di tengah pulau.
Seiring waktu, air laut tersebut bercampur dengan air hujan dan rembesan tanah, sehingga airnya tidak lagi asin, melainkan membentuk ekosistem air payau di tengah pulau.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi ini membuat biota di dalamnya berevolusi secara unik, berbeda dari kerabatnya di laut lepas. Salah satunya adalah ubur-ubur yang hidup di dalam danau ini. Bukan hanya banyak jumlahnya, tetapi juga memiliki karakter yang berbeda dari ubur-ubur pada umumnya.
Di Danau Kakaban, setidaknya terdapat empat spesies utama ubur-ubur yang hidup berdampingan. Keempatnya memiliki bentuk, perilaku, dan cara adaptasi yang berbeda-beda. Yuk, kita bahas.
Jenis-jenis Ubur-ubur di Danau Kakaban
Berikut empat jenis ubur-ubur yang tinggal di Danau Kakaban:
1. Ubur-Ubur Emas (Mastigias cf. albipunctatus)
Foto: Ubur-Ubur Emas. (dok Biodiversity Warrior) |
Spesies yang paling mendominasi di Danau Kakaban adalah ubur-ubur emas. Spesies ini mudah dikenali dari warna tubuhnya yang mencolok berwarna kecokelatan hingga oranye keemasan. Warna ini bisa terlihat semakin cerah saat terkena sinar matahari, terutama ketika mereka berenang berkelompok di permukaan air.
Dilihat dari ciri fisiknya, ubur-ubur emas punya tubuh berbentuk payung yang cukup tebal dengan bagian bawah dipenuhi tentakel pendek bercabang, bukan tentakel panjang seperti ubur-ubur laut pada umumnya. Bentuk tentakel inilah yang menjadi ciri khas, sekaligus jadi tempat hidup alga mikroskopis di dalam tubuhnya.
Alga yang hidup di dalam tubuh ubur-ubur bulan adalah zooxanthellae, yaitu alga yang mampu berfotosintesis. Alga tersebut menghasilkan energi yang dimanfaatkan oleh ubur-ubur, sehingga mereka tidak sepenuhnya bergantung pada makanan dari luar. Karena itu, ubur-ubur emas memiliki perilaku mengikuti matahari dengan berenang ke arah cahaya agar proses fotosintesis tetap optimal.
2. Ubur-Ubur Bulan (Aurelia aurita)
Foto: Ubur-Ubur Bulan (Aurelia aurita). (dok Okinawa Institute of Science and Technology) |
Berbeda dengan ubur-ubur emas yang warnanya mencolok, ubur-ubur bulan punya bentuk tubuh dan warna yang lebih sederhana tapi justru memiliki anatomi yang sangat kompleks. Tubuhnya berbentuk payung (bell) yang tipis, transparan, dan nyaris tidak berwarna.
Bagian tubuhnya yang transparan ini adalah bagian dari adaptasi untuk melindungi diri terhadap potensi ancaman di lingkungan perairan terbuka.
Ubur-ubur bulan termasuk dalam famili Ulmaridae dan ordo Semaeostomeae yang ciri khasnya memiliki tentakel halus di tepi tubuhnya. Tentakel ini juga dilengkapi nematosista atau sel penyengat, tetapi di danau Kakaban, struktur tersebut mengalami reduksi fungsi akibat evolusi.
Keunikan lain dari ubur-ubur ini terletap pada sistem sarafnya. Hidup tanpa otak terpusat, ubur-ubur bulan mengandalkan jaringan saraf sederhana (nerve net) yang berguna dalam merespon cahaya, gravitasi, dan sentuhan. Sistem saraf ini cukup untuk mendukung pergerakan pasif mengikuti arus air dan perubahan cahaya di Pulau Kakaban.
3. Ubur-Ubur Kotak (Tripedalia sp)
Tripedalia cystophora. Foto: Wikimedia Commons |
Ubur-ubur yang satu ini adalah jenis ubur-ubur yang paling kecil di Kakaban, hanya sekitar sebesar ibu jari. Meski ukurannya mungil, tubuhnya justru lebih kompleks dibanding yang lainnya.
Spesies ini termasuk dalam kelompok Tripedalia sp yang berada dalam kelas Cubozoa yang dikenal dengan bentuk tubuhnya yang menyerupai kotak dengan sudut-sudut tegas.
Secara morfologi, tubuh ubur-ubur kotak berbentuk kubus dengan empat sisi, berbeda dari ubur-ubur lain yang cenderung membulat. Dari setiap sudut tubuh, menjulur tentakel yang berfungsi untuk menangkap mangsa. Bentuk kotak ini mendukung pergerakan yang lebih terarah dan lincah di dalam air.
Keunikan utama ubur-ubur kotak juga ada pada sistem sensoriknya. Mereka memiliki struktur yang disebut rhopalia, yaitu organ mirip mata yang mampu mendeteksi cahaya, bayangan, bahkan rintangan di sekitarnya. Kemampuan ini membuatnya lebih responsif terhadap lingkungan dibanding ubur-ubur lain yang umumnya hanya mengandalkan arus air.
Di Danau Kakaban, adaptasi ini sangat penting karena habitatnya dipenuhi akar-akar mangrove yang menjulur ke dalam air. Dengan kemampuannya mendeteksi rintangan, ubur-ubur kotak bisa bergerak lebih lincah dan presisi.
4. Ubur-Ubur Terbalik (Cassiopea sp)
Foto: Ubur-ubur terbalik. (dok SaltWaterAquarium.com) |
Kalau yang paling unik ada pada ubur-ubur terbalik dengan nama ilmiah Cassiopea sp. Berbeda dari ubur-ubur lain yang berenang bebas air, spesies ini justru lebih sering berdiam di dasar danau dalam posisi terbalik, dengan bagian tentakel menghadap ke atas.
Tubuhnya cenderung datar dan bagian bawahnya dipenuhi tentakel bercabang yang jika dilihat mirip akar atau bahkan tampak seperti bunga kalau dilihat dari atas. Tampilan inilah yang membuatnya sering disalahartikan sebagai tumbuhan atau karang oleh pengunjung.
Keunikan posisi terbalik ini punya hubungan simbiosis dengan alga mikroskopis (zooxanthellae), sama seperti ubur-ubur emas. Dengan membalikkan tubuhnya, tentakel yang menjadi tempat hidup alga bisa langsung terpapar sinar matahari, sehingga proses fotosintesis bisa berjalan.
Adaptasi ini membuat ubur-ubur terbalik tidak terlalu aktif berburu, karena sebagian kebutuhan energinya sudah dipenuhi dari hasil fotosintesis alga.
Ubur-Ubur yang Tidak Menyengat
Salah satu hal paling menarik dari ubur-ubur di Danau Kakaban adalah mereka tidak menyengat manusia. Padahal, secara umum, ubur-ubur memiliki sel penyengat yang disebut nematosit. Sel ini berfungsi untuk melumpuhkan mangsa dan melindungi diri dari predator.
Di Danau Kakaban, kondisi lingkungannya sangat berbeda. Selama ribuan tahun, ubur-ubur di sini hidup tanpa predator alami seperti penyu atau ikan besar. Akibatnya, mereka tidak lagi membutuhkan mekanisme pertahanan.
Secara evolusi juga kemampuan menyengat tersebut menjadi tidak terlalu berguna. Energi yang sebelumnya digunakan untuk mempertahankan sengatan kemudian dialihkan ke fungsi lain, seperti pertumbuhan atau reproduksi. Jadi, sengat pada ubur-ubur di Kakaban masih ada, tetapi sangat lemah.
Hal yang Dilarang di Pulau Kakaban
Ada beberapa aturan yang harus ditaati ketika detikers berkunjung ke pulau ini. Meskipun terlihat aman untuk berenang, ekosistem Danau Kakaban sangat sensitif. Berikut aturannya:
- Membersihkan tubuh dan peralatan sebelum masuk ke danau untuk mencegah kontaminasi dari luar
- Tidak menggunakan tabir surya, lotion, atau anti-nyamuk karena bahan kimianya dapat merusak ekosistem air
- Masuk ke danau hanya melalui dermaga utama yang telah disediakan
- Berenang secara perlahan dan tidak menyentuh atau mengganggu ubur-ubur
- Dilarang menggunakan sepatu katak (fin) maupun melakukan aktivitas menyelam dengan SCUBA
- Tidak diperbolehkan membawa masuk atau mengambil apa pun dari dalam danau, termasuk makhluk hidup
- Dilarang melakukan aktivitas memancing atau budidaya perikanan
Itu dia keanekaragaman ubur-ubur yang ada di Pulau Kakaban, Kalimantan Timur. Tertarik untuk berenang di antaranya?



