Cara Bertahan Hidup Suku Punan Batu di Belantara Hutan Kalimantan

Cara Bertahan Hidup Suku Punan Batu di Belantara Hutan Kalimantan

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Senin, 20 Apr 2026 10:03 WIB
Ilustrasi. Foto: Freepik
Ilustrasi. Foto: Freepik
Bulungan -

Suku Punan Batu adalah suku terakhir di Kalimantan yang masih mengandalkan berburu dan meramu di tengah hutan. Jauh dari hiruk pikuk kota, jauh dari polusi dan suara bising mesin-mesin besar, mereka hidup di sekitar Pegunungan Karst Benau, Desa Sajau, Kecamatan Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.

Di saat sebagian besar dari kita hidup bergantung pada hasil pertanian dan memiliki pekerjaan, Suku Punan justru mengandalkan hutan sebagai sumber makanan, tempat tinggal, sekaligus ruang menghibur diri. Kehidupan mereka dianggap sebagai salah satu bentuk kesinambungan budaya berburu-meramu yang sudah ada di Kalimantan sejak ribuan tahun lalu.

Banyak peneliti bahkan melihat kehidupan Punan Batu sebagai gambaran hidup manusia purba yang masih bertahan hingga sekarang. Cara mereka memanfaatkan hutan, tinggal di gua, berburu satwa liar, hingga mematuhi aturan adat menunjukkan hubungan yang sangat erat antara manusia dan alam.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tinggal di Jantung Hutan Karst Benau

Suku Punan Batu hidup di sekitar Pegunungan Karst Benau yang dipenuhi hutan tropis lebat, sungai, tebing batu kapur, serta puluhan gua alami. Kawasan ini berada di sekitar aliran Sungai Sajau dan menjadi ruang hidup utama mereka.

Bagi masyarakat Punan Batu, hutan bukan hanya tempat mencari makan. Hutan adalah rumah, sumber kehidupan, sekaligus bagian penting dari kepercayaan mereka.

Mereka tidak hidup menetap di satu lokasi seperti masyarakat desa pada umumnya. Sebaliknya, mereka hidup berpindah-pindah mengikuti musim, sumber makanan, dan jalur perburuan.

Dalam satu kali perpindahan, mereka biasanya bergerak sejauh 4-5 kilometer setiap satu hingga dua minggu. Jika suatu area sudah tidak banyak menyediakan makanan, madu, atau hewan buruan, mereka akan berpindah ke lokasi lain. Mobilitas seperti ini menjadi salah satu cara utama mereka bertahan hidup di tengah hutan.

Hidup dari Berburu Satwa Liar

Cara utama Suku Punan Batu bertahan hidup adalah dengan berburu satwa liar. Seperti yang dilaporkan dalam penelitian Prasetijo berjudul Orang Punan Batu Benau Sajau: Kesinambungan Hunter-Gatherer dan Warisan Budaya Karst di Kalimantan Utara, hewan yang paling sering mereka buru adalah babi hutan, rusa, dan berbagai satwa lain yang hidup di pedalaman Kalimantan. Hasil buruan ini menjadi sumber protein utama bagi keluarga mereka.

Untuk berburu, masyarakat Punan Batu menggunakan berbagai cara tradisional seperti tombak, jerat, perangkap sederhana, dan anjing pemburu. Anjing memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan berburu mereka.

Hewan ini digunakan untuk melacak jejak satwa di tengah hutan yang rapat. Saat menemukan jejak babi hutan atau rusa, para pemburu akan mengikuti arah lari hewan tersebut sampai berhasil menangkapnya.

Berburu biasanya dilakukan secara berkelompok. Beberapa orang bertugas mengikuti jejak satwa, sementara yang lain menunggu di jalur yang diperkirakan akan dilalui hewan buruan.

Daging hasil buruan biasanya langsung dimasak dan dimakan bersama keluarga. Tetapi jika jumlahnya terlalu banyak, sebagian daging akan diasap atau disimpan di dalam gua agar lebih awet.

Mobilitas masyarakat Punan Batu juga mengikuti siklus atau musim hutan. Pada musim tertentu, mereka akan berpindah ke gua atau pondok yang berada dekat sumber madu, rotan, atau sumber makanan lainnya. Sementara pada musim berburu babi hutan, kelompok keluarga akan bergerak mengikuti jejak satwa liar.

Seperti pola khas masyarakat hunter-gatherer yang nomaden, rata-rata perpindahan dilakukan setiap satu hingga dua minggu dengan jarak sekitar 4-5 kilometer.

Salah satu Punan Batu sedang berburu. Foto: Mongabay/Muhibar Sobary ArdanSalah satu Punan Batu sedang berburu. Foto: Mongabay/Muhibar Sobary Ardan

Meramu Hasil Hutan untuk Bertahan Hidup

Selain berburu, Suku Punan Batu juga bertahan hidup dengan meramu berbagai hasil hutan. Bukan hanya kebutuhan protein, mereka sangat bergantung pada sayur-sayuran, mulai dari umbi-umbian liar, buah hutan, daun dan tumbuhan yang bisa dimakan, hingga rotan, gaharu, dan madu hutan.

Umbi-umbian adalah makanan yang paling disukai ketika hasil buruan sedang sedikit. Mereka mengenali berbagai jenis umbi liar yang aman dimakan dan mengetahui lokasi tumbuhnya di dalam hutan. Buah-buahan hutan juga tidak kalah saing, mereka sangat memahami musim buah dan tahu kapan harus berpindah ke wilayah tertentu untuk mencari sumber pangan.

Selain untuk dimakan, hasil hutan seperti rotan, gaharu, dan madu juga dimanfaatkan sebagai kerajinan, dupa, bahkan untuk membangun tempat tinggal. Hasil hutan tersebut kemudian ditukar dengan beras, garam, pakaian, atau kebutuhan lain dari masyarakat luar.

Gua Jadi Tempat Tinggal Sementara

Hal yang paling unik dari kehidupan Suku Punan Batu adalah mereka memanfaatkan gua di sekitar hutan sebagai tempat tinggal sementara. Di kawasan Karst Benau terdapat banyak gua, liang, dan ceruk batu kapur yang dimanfaatkan saat musim hujan datang atau ketika mereka sedang berburu jauh dari lokasi sebelumnya.

Di mulut gua, keluarga Punan Batu biasanya membuat tungku api untuk memasak, menghangatkan tubuh, sekaligus mengusir binatang buas. Bagi mereka, gua jauh lebih aman dibanding pondok sederhana di tengah hutan terbuka karena terlindung dari hujan deras, panas, dan cuaca buruk.

Tapi bukan hanya sebagai tempat tinggal, gua juga menjadi gudang alami untuk menyimpan madu hutan, rotan, daging hasil buruan, hingga alat berburu. Bagian dalam gua yang sejuk membuat hasil hutan lebih awet. Daging yang tidak langsung dimakan biasanya digantung di ceruk batu agar aman dari hewan liar.

Beberapa gua juga diberi nama sesuai barang yang biasa disimpan di dalamnya, seperti Liang Madu atau Liang Rotan. Di zaman dulu, gua menjadi tempat persembunyian saat terjadi konflik. Orang tua Punan Batu menceritakan dalam penelitian tersebut, bahwa ketika ada ancaman dari kelompok lain atau saat tentara masuk ke wilayah mereka pada era 1960-an, keluarga-keluarga Punan Batu bersembunyi di gua-gua yang sulit dijangkau di lereng karst dan tengah hutan.

Karena itulah, bagi masyarakat Punan Batu, gua bukan hanya sebagai tempat berteduh, tapi jadi bagian penting dari strategi bertahan hidup mereka di belantara Kalimantan.

Cara hidup Suku Punan Batu sering dianggap sebagai gambaran bagaimana manusia bertahan hidup di hutan Kalimantan sejak ribuan tahun lalu.

Pulau Kalimantan sendiri dikenal sebagai salah satu wilayah penting dalam arkeologi Asia Tenggara. Situs seperti Gua Niah di Sarawak menunjukkan jejak manusia sejak lebih dari 35.000 tahun lalu.

Sementara itu, kawasan Sangkulirang-Mangkalihat di Kalimantan Timur menyimpan lukisan cadas berusia sekitar 40.000 tahun. Kehidupan Punan Batu pun juga menunjukkan hubungan erat antara manusia, hutan, dan gua di Kalimantan.

Halaman 2 dari 2
(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads