Pohon nyatanya tidak tumbuh di tanah subur saja. Berbeda dengan hutan hujan tropis yang membentang di sepanjang Kalimantan, hutan pohon-pohon di hutan kerangas justru tumbuh di atas tanah yang miskin unsur hara, berpasir, dan sifatnya sangat asam.
Dalam bahasa Dayak Iban, kerangas berarti tanah yang tidak bisa ditanami padi. Hal ini karena memang kondisi lahannya yang sulit dimanfaatkan untuk pertanian karena kandungan nutrisinya sangat rendah.
Hutan kerangas adalah tipe hutan tropis yang tumbuh di atas tanah podsol dan pasir kuarsa dengan tingkat keasaman tinggi. Dalam buku Tropical Rainforest of the Far East karya Whitmore (1984), dijelaskan bahwa lantai hutan kerangas tersusun dari tanah podsol dan pasir kuarsa yang miskin unsur hara dengan pH sangat rendah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagian besar hutan kerangas berada di Kalimantan, terutama di Kalimantan Barat (Kalbar) dan Kalimantan Tengah (Kalteng). Tanahnya memiliki pH sekitar 3-4, kandungan silika tinggi, dan kemampuan menyerap air dengan baik. Tapi karena sangat miskin unsur hara, pohon-pohon di hutan kerangas jika diamati tidak tumbuh terlalu besar dan tinggi.
Hutan kerangas biasanya berada di dataran rendah dengan ketinggian kurang dari 800 meter di atas permukaan laut. Pepohonan di sana sangat bergantung pada lapisan humus tipis yang terbentuk dari serasah daun dan ranting yang membusuk di lantai hutan.
Tetapi, meskipun terlihat tandus, hutan kerangas justru punya fungsi yang sangat penting bagi lingkungan, masyarakat, dan keberlangsungan berbagai spesies tumbuhan serta satwa liar. Yuk, kita bahas.
Fungsi Hutan Kerangas
Sedikitnya ada empat fungsi dari hutan kerangas. Berikut penjelasannya:
1. Fungsi Hidrologi
Salah satu fungsi terpenting hutan kerangas adalah menjaga aliran air di sekitar kawasan. Tanah berpasir dan lapisan humus di hutan kerangas mampu menyerap air hujan dengan baik sehingga membantu mengurangi risiko banjir pada musim hujan.
Hutan kerangas juga punya peran sebagai penyimpan air alami yang menjaga ketersediaan air bagi sungai, rawa, dan bahkan masyarakat di sekitarnya. Jika hutan kerangas rusak, air hujan akan langsung mengalir ke pemukiman warga sehingga meningkatkan risiko banjir dan erosi.
2. Fungsi Ekologi
Hutan kerangas adalah habitat penting bagi banyak spesies tumbuhan dan satwa liar. Walaupun vegetasinya tidak serapat hutan tropis lainnya, kawasan ini menjadi tempat hidup berbagai tumbuhan langka yang tidak bisa tumbuh di tempat lain.
Komposisi flora hutan kerangas sangat khas dan berbeda dengan hutan dataran rendah biasa. Menurut Kartawinata dalam publikasinya berjudul Diversitas Ekosistem Alami Indonesia, beberapa jenis tumbuhan yang bisa ditemukan di hutan kerangas antara lain:
- Casuarina nobilis
- Cotylelobium burckii
- Cotylelobium malayanum
- Cratoxylum glaucum
- Cratoxylum arborescens
- Combretocarpus rotundatus
- Dacrydium elatum
- Shorea balangeran
- Shorea coriacea
- Shorea havilandii
Selain itu, hutan kerangas juga membantu menjaga rantai makanan, kualitas udara, serta keseimbangan ekosistem di sekitarnya. Banyak hewan kecil, serangga, ikan, reptil, hingga burung yang menggantungkan hidup mereka pada kawasan ini.
3. Fungsi Biokimia
Hutan kerangas memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah besar melalui lapisan humus, vegetasi, dan serasah di lantai hutan. Fungsi ini penting dalam membantu mengurangi dampak perubahan iklim.
Jika hutan kerangas rusak akibat kebakaran atau penebangan, karbon yang tersimpan di dalam tanah dan vegetasi akan terlepas ke atmosfer. Karena itu, menjaga hutan kerangas adalah salah satu cara menjaga kestabilan iklim.
4. Fungsi Ekonomi dan Masyarakat
Bagi masyarakat sekitar, hutan kerangas memiliki manfaat ekonomi yang cukup besar. Kawasan ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber kayu, tempat mencari ikan, serta sumber tumbuhan obat tradisional.
Penelitian yang dilakukan Sari dkk. dengan judul Composition And Distribution Of Medicinal Plants Based On The Levels Of Vegetation In Kerangas Forest Of South Barito District, menyebut sedikitnya ada 36 jenis tumbuhan hutan kerangas yang menghasilkan metabolit sekunder untuk bahan obat-obatan. Beberapa di antaranya adalah:
- Jungharab (Baeckea frutescens)
- Kantong semar (Nepenthes spp.)
- Tabat barito (Ficus deltoidea)
- Senduduk (Melastoma malabathricum)
Jika dikelola dengan baik, hutan kerangas juga berpotensi menjadi kawasan wisata alam dan penelitian. Selain itu, keberadaan hutan kerangas membantu masyarakat mengurangi risiko banjir, menjaga kualitas air, dan mempertahankan sumber daya alam untuk jangka panjang.
Wah, ternyata tanah yang miskin unsur hara pun masih punya banyak manfaat bagi lingkungan dan makhluk hidup di sekitarnya. Tetapi perlu diingat, hutan kerangas termasuk ekosistem yang sangat rapuh dan sulit pulih jika sudah rusak. Karena itu, mari kita jaga ekosistem hutan ini agar manfaatnya bisa terus dirasakan!
Baca juga: Melihat Kantong Semar Langsung di Alam! |