Nikmatnya Buah Lahung, Si Durian Merah Asal Kalimantan

Nikmatnya Buah Lahung, Si Durian Merah Asal Kalimantan

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Kamis, 21 Mei 2026 07:00 WIB
Buah lahung khas Kalimantan.
Foto: Dok. Kemenkeu
Samarinda -

Kepulauan tropis Indonesia terkenal punya banyak jenis buah yang hanya tumbuh di wilayah ini. Berbagai buah tropis endemik dan khas keberadaannya sangat melimpah, terutama di Kalimantan.

Salah satu buah yang banyak jenisnya di Kalimantan adalah durian. Di antara banyaknya jenis durian di pulau ini, lahung menjadi salah satu yang paling unik dan punya tampilan eksotis, lho!

Mengenal Buah Lahung

Buah lahung (Durio dulcis) dikenal sebagai durian merah karena kulitnya berwarna merah menyala, berbeda dari durian biasa yang kita kenal berwarna hijau kecokelatan. Lahung banyak ditemukan di Kalimantan dan sudah lama jadi buah yang dikonsumsi masyarakat Dayak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikutip dari buku Ensiklopedia Tanaman Endemik Indonesia, lahung adalah salah satu spesies durian asli Kalimantan dengan nama ilmiah Durio dulcis. Tanaman ini masih satu keluarga dengan Malvaceae dan masih satu genus dengan durian yang dijual di pasaran.

Secara taksonomi, lahung diklasifikasikan sebagai berikut:

Kerajaan: Plantae
Divisi: Tracheophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Malvales
Famili: Malvaceae
Genus: Durio
Spesies: Durio dulcis

Di beberapa daerah Kalimantan, buah ini juga disebut dengan nama tembranang. Sementara masyarakat Dayak Kenyah menyebutnya durian bala yang berarti durian merah.

Ciri Khas Buah Lahung

Durian Lahung. Foto: tangkapan layar buku Menggapai Laba dari Budidaya Durian ; Tanaman Banyak Manfaat oleh M Jawal Anwarudin SyahDurian Lahung. Foto: tangkapan layar buku Menggapai Laba dari Budidaya Durian ; Tanaman Banyak Manfaat oleh M Jawal Anwarudin

Ciri khas mencolok dari lahung tentu terletak pada warna kulit buahnya yang merah terang. Warna merah ini membuat lahung sangat mudah dibedakan dari jenis durian lainnya.

Bentuk buah lahung juga cenderung bulat seperti bola, berbeda dengan durian biasa yang lebih oval. Selain itu, durinya lebih panjang, runcing, dan tajam.

Kulit buah lahung sangat tebal, bahkan sampai daging buahnya jadi lebih sedikit dibanding ukuran dan ketebalan kulitnya.

Sama seperti durian lain, daging buah lahung berwarna kuning dengan tekstur lembut, halus, sedikit lembek, dan agak berair. Rasanya dominan manis dengan aroma khas durian yang sangat kuat.

Membuka lahung ternyata tidak semudah membelah durian biasa. Kalau membuka durian biasanya mengikuti garis belahan kulit buah, pada lahung garis itu cukup sulit ditemukan.

Maka dari itu, cara yang paling sering dilakukan adalah memotong buah secara melintang menggunakan parang atau pisau besar. Kulitnya yang tebal dan keras membuat proses membuka lahung juga membutuhkan tenaga lebih besar dibanding durian biasa.

Habitat dan Tempat Tumbuh Buah Lahung

Pohon lahung tumbuh tinggi dan besar, sekilas mirip pohon durian lainnya. Tanaman ini tumbuh subur pada daerah berketinggian sekitar 20 hingga 800 meter di atas permukaan laut.

Saat ini keberadaan lahung mulai semakin jarang ditemukan karena berkurangnya kawasan hutan di sekitar Kalimantan. Penelitian di Universitas Lambung Mangkurat dan Universitas Pontianak juga menyebut bahwa tanaman ini mulai langka, sehingga dilakukan kultur jaringan untuk memperbanyak lahung dan harapannya bisa ditanam kembali di habitat aslinya.

Obat Tradisional dari Buah Lahung

Bukan hanya dikonsumsi langsung, masyarakat Dayak telah lama memanfaatkan berbagai bagian lahung sebagai obat tradisional. Beberapa pemanfaatan tradisional lahung antara lain rebusan kulit batangnya untuk membantu mengatasi sariawan dan membantu meredakan diare, serta rebusan bunga digunakan untuk membantu menurunkan demam.

Meski manfaatnya sebagai obat tradisional sudah lama dikenal, penelitian terhadap Durio dulcis memang masih tergolong terbatas dibandingkan durian biasa. Tapi tenang, sejumlah studi mulai menemukan kandungan senyawa bioaktif yang berpotensi mendukung manfaat kesehatannya.

Penelitian berjudul Identifikasi Komponen Kimia dan Fitokimia Durian Lahung (Durio dulcis) Indigenous Kalimantan menemukan bahwa daging dan biji lahung mengandung senyawa fitokimia seperti alkaloid, asam lemak esensial, protein, serta beberapa komponen nutrisi penting lainnya.

Dalam studi tersebut menyebut lahung memiliki potensi dikembangkan sebagai pangan fungsional yang bermanfaat bagi kesehatan. Kandungan asam lemak esensial seperti linoleat, linolenat, EPA, dan DHA ditemukan pada buah lahung.

Meskipun begitu, penelitian klinis terkait manfaat kesehatan lahung pada manusia masih sangat terbatas. Karena itu, klaim pengobatan tradisional belum bisa sepenuhnya dijadikan pengobatan utama dan masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Jika berkunjung ke Kalimantan, jangan sampai tidak mencicipi lahung. Buah ini bisa dengan mudah ditemukan di pinggir jalan, terutama saat musim panen di bulan Desember hingga Februari.




(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads