Ini Asam Payak, 'Salak' Khas Kalimantan yang Nggak Ada Manis-manisnya

Ini Asam Payak, 'Salak' Khas Kalimantan yang Nggak Ada Manis-manisnya

Anindyadevi Aurellia - detikKalimantan
Sabtu, 30 Mei 2026 07:00 WIB
Kreator konten Meimei Mecin mencicipi buah asam payak. (Instagram @japmei)
Foto: Kreator konten Meimei Mecin mencicipi buah asam payak. (Instagram @japmei)
Balikpapan -

Pulau Kalimantan dikenal memiliki kekayaan hayati yang unik, termasuk berbagai jenis buah khas yang jarang ditemukan di daerah lain. Salah satunya asam payak, buah hutan yang sekilas tampak seperti salak tetapi memiliki cita rasa sangat berbeda.

Belum lama ini kreator konten Meimei Mecin mengunggah videonya mencicipi buah asam payak dari Kalimantan. Ia pun tak mampu menahan ekspresinya saat merasakan rasa asam dari buah lokal Kalimantan itu.

Jika salak identik dengan rasa manis sedikit sepat, asam payak justru terkenal karena rasa asamnya yang kuat hingga membuat banyak orang terkejut saat pertama kali mencicipinya. Buah ini banyak ditemukan di wilayah pedalaman Kalimantan dan tumbuh liar di kawasan hutan tropis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bentuk kulitnya bersisik cokelat membuatnya kerap disamakan dengan salak. Namun begitu dibuka, rasa buah ini jauh dari ekspektasi kebanyakan orang karena hampir tidak memiliki rasa manis sama sekali.

Mengenal Asam Payak

Buah asam payak. (YouTube I Like It Fruit)Buah asam payak. (YouTube I Like It Fruit)

Buah asam payak (kadang ditulis asam paya) dikenal banyak tumbuh di hutan Kalimantan Barat. Buah ini juga dikenal dengan nama salak hutan, kelubi, atau asam maram.

Buah asam payak memiliki bentuk yang menyerupai salak dengan susunan tandan kecil, tetapi tampil dengan warna yang lebih cerah serta rasa yang jauh lebih asam. Karena cita rasanya yang khas tersebut, asam payak kerap dimanfaatkan sebagai bahan dasar manisan.

Meski banyak ditemukan di kawasan hutan, pemanfaatan asam payak hingga kini masih tergolong minim. Sebagian masyarakat biasanya hanya memetik buah ini dalam jumlah secukupnya untuk dikonsumsi sendiri.

Kulit buah asam payak bersisik warna coklat, kadang disamakan dengan kulit salak atau leci. Bau dagingnya dan tekstur kulitnya persis seperti salak.

Saat dibuka, dagingnya berwarna kuning muda kecoklatan dan teksturnya mirip dengan leci. Rasanya sangat asam, membuat siapapun yang mencicipinya bakal merem melek saking tak kuat menahan asam di lidah.

Konten kreator Meimei Mecin sempat mengunggah momennya mencicipi asam payak yang dibeli oleh temannya di Pontianak, Kalimantan Barat. Ia kemudian mencoba menaburkan gula di atasnya, namun rasa asamnya tetap tak bisa mengalahkan.

Biasanya buah ini dijadikan manisan, direndam dalam larutan gula sekaligus dengan kulitnya. Namun tetap saja rada masam pada buah ini masih begitu kuat!

Buah dari Hutan Pulau Kalimantan

Buah ini mudah ditemukan di hutan Kalimantan, terutama di tanah yang lembab sekitaran sungai, sebagaimana pernah diunggah Kreator konten I Like It Fruit dalam unggahan YouTubenya.

Pohon buah asam payak punya ciri khas batangnya berduri. Batang tumbuhannya ramping dan berwarna kehijauan, mirip seperti pohon salak. Cara mengambil buahnya yakni dicongkel menggunakan pisau besi yang cukup panjang.

Asam payak memiliki bentuk yang sekilas menyerupai salak, terutama karena kulitnya yang bersisik dan tumbuh dalam tandan. Namun ukurannya cenderung lebih kecil dengan warna kulit yang tampak lebih cerah dibandingkan salak yang biasanya berwarna kemerahan.

Sesuai namanya, buah ini memiliki rasa asam yang kuat sehingga kerap dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan manisan. Sebagian orang Kalimantan juga suka mengkonsumsinya sambil dicocol sambal kacang, atau campuran micin dan gula.

Bedanya Asam Payak dengan Buah Manau

Buah Rotan atau Manau. Foto: tangkapan layar akun instagram @info_kubar/ GhadlyeBuah Rotan atau Manau. Foto: tangkapan layar akun instagram @info_kubar/ Ghadlye

Sekilas, asam payak juga mirip dengan buah manau, buah lokal Kalimantan. Rasanya pun sama-sama asam. Tapi, jika buah manau sudah panen masak, dagingnya bisa terasa manis-manis asam. Beda dengan kelubi atau asam payak yang memang rasa buahnya betul-betul asam.

Sekedar diketahui, Manau (Calamus manan) adalah buah khas Indonesia yang tumbuh dari pohon rotan dan memiliki rasa yang asam dan manis. Buah ini banyak terdapat di Pulau Kalimantan, Kepulauan Bangka Belitung, hingga Pulau Sumatra.

Jika masyarakat lokal mengolah buah asam payak menjadi manisan, buah manau bisa dijadikan bahan utama sambal atau diolah menjadi asinan dan rujak. Selain itu, warna kulit buah manau juga lebih terang dibanding asam payak, meski teksturnya sama-sama bersisik.

Dikutip dari media sosial Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, baik buah asam payak atau manau, keduanya punya kandungan vitamin C serta antioksidan yang cukup tinggi sehingga dipercaya membantu menjaga daya tahan tubuh dan kesehatan kulit.




(aau/bai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads