Fakta Menarik Jahe Balikpapan, Flora Endemik Kebanggaan Kota Minyak

Fakta Menarik Jahe Balikpapan, Flora Endemik Kebanggaan Kota Minyak

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Rabu, 17 Jun 2026 11:31 WIB
Jahe Balikpapan.
Foto: Jahe Balikpapan (Dok. Hutan Lindung Sungai Wain)
Balikpapan -

Balikpapan punya rempah endemik yang hanya tumbuh di tanah Kota Minyak ini saja. Rempah kebanggaan itu ialah jahe Balikpapan (Etlingera balikpapanensis) yang jadi salah satu maskot Kota Balikpapan sejak 2022.

Walaupun namanya belum sepopuler anggrek hitam atau talas borneo, jahe Balikpapan menyimpan banyak fakta menarik. Mulai dari asal-usul penemuannya, statusnya sebagai flora khas Balikpapan, hingga potensi manfaatnya bagi dunia kesehatan dan konservasi.

Satu-Satunya Flora yang Menggunakan Nama Balikpapan

Salah satu fakta paling unik dari jahe Balikpapan adalah nama ilmiahnya. Tanaman ini merupakan satu-satunya flora yang menggunakan nama Balikpapan dalam nama ilmiahnya, yaitu Etlingera balikpapanensis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Spesies ini pertama kali ditemukan oleh ahli botani asal Denmark, Axel Dalberg Poulsen, saat melakukan penelitian di kawasan Hutan Lindung Sungai Wain, Balikpapan.

Endemik Kalimantan Timur dan Terancam Kehilangan Habitat

Jahe Balikpapan termasuk tumbuhan endemik yang memiliki wilayah penyebaran sangat terbatas. Hingga saat ini, keberadaannya hanya diketahui di beberapa kawasan hutan Kalimantan Timur, terutama di sekitar Balikpapan dan wilayah yang masih memiliki tutupan hutan alami.

Kondisi ini membuat jahe Balikpapan rentan terhadap berbagai ancaman. Alih fungsi lahan, pembangunan infrastruktur, kebakaran hutan, hingga fragmentasi habitat menjadi faktor utama yang dapat mengurangi populasi tanaman ini di alam.

Maskot Flora Kota Balikpapan

Pemerintah Kota Balikpapan menetapkan jahe Balikpapan sebagai maskot flora daerah pada tahun 2022. Penetapan ini dilakukan sebagai bentuk apresiasi terhadap kekayaan biodiversitas lokal sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga flora endemik.

Sebagai maskot flora, jahe Balikpapan memiliki nilai ekologis yang tinggi. Sebagian besar populasi tumbuh di kawasan konservasi dan hutan yang aksesnya terbatas, seperti kawasan Kebun Raya Balikpapan dan Hutan Lindung Sungai Wain.

Dibantu Mikroorganisme untuk Bertahan Hidup

Di balik pertumbuhannya, jahe Balikpapan ternyata butuh bantuan oleh makhluk mikroskopis. Seperti yang dijelaskan dalam publikasi Jahe Balikpapan dan Sekutu Mikroskopisnya: Dari Peta Bakterioma ke Strategi Konservasi dan Pupuk Hayati di laman Universitas Airlangga, makhluk itu adalah mikroorganisme yang hidup di sekitar akar maupun di dalam jaringan tanaman.

Komunitas mikroorganisme ini dikenal sebagai mikrobioma, yang terdiri dari berbagai bakteri dan mikroba bermanfaat. Mereka membantu tanaman menyerap unsur hara, meningkatkan ketahanan terhadap kekeringan, melindungi dari serangan patogen, dan mendukung pertumbuhan akar.

Bakteri tertentu juga mampu melarutkan fosfat yang sulit diserap tanaman dan menghasilkan senyawa mirip hormon pertumbuhan, serta membantu menyediakan nitrogen yang dibutuhkan untuk pertumbuhan.

Memiliki Potensi sebagai Antibakteri

Tidak hanya penting dari sisi konservasi, Jahe Balikpapan juga menunjukkan potensi dalam bidang kesehatan. Penelitian terhadap ekstrak daun Jahe Balikpapan menemukan adanya beberapa senyawa metabolit sekunder yang berpotensi sebagai bahan bioaktif, yaitu senyawa fenolik, steroid, dan tanin. Ketiga kelompok senyawa tersebut dikenal memiliki aktivitas biologis yang beragam, termasuk sebagai antioksidan dan antibakteri.

Dalam pengujian laboratorium menggunakan metode difusi agar, ekstrak daun Jahe Balikpapan terbukti mampu menghambat pertumbuhan sejumlah bakteri penyebab penyakit, di antaranya Escherichia coli, Salmonella typhi, Bacillus subtilis, dan Staphylococcus aureus.

Hasil penelitian oleh Rhamadhani dkk. berjudul Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Jahe Balikpapan (Etlingera balikpapanensis) itu juga menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak 50 persen menjadi konsentrasi paling efektif untuk menghambat pertumbuhan E. coli, S. typhi, dan B. subtilis. Sementara itu, terhadap Staphylococcus aureus, aktivitas penghambatan sudah terlihat efektif pada konsentrasi 40 persen.

Temuan ini membuka peluang pemanfaatan Jahe Balikpapan sebagai sumber senyawa alami yang berpotensi dikembangkan lebih lanjut dalam bidang farmasi dan kesehatan.

Itulah dia lima fakta jahe Balikpapan yang punya banyak potensi, bukan hanya sebagai maskot kebanggaan Balikpapan saja, tapi juga sebagai herbal yang bermanfaat bagi kesehatan. Yuk, jaga populasinya di alam liar!

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Bersantai Mengapung di Laut Derawan, Kalimantan Timur"
[Gambas:Video 20detik]
(des/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads