Hutan hujan tropis yang membentang luas menjadi rumah bagi berbagai satwa unik, termasuk sejumlah spesies kucing liar yang jarang ditemukan di tempat lain. Dengan penampilan yang eksotis dan perilaku yang misterius, kucing-kucing asli Borneo menjadi bagian penting dari kekayaan fauna yang dimiliki pulau terbesar ketiga di dunia tersebut.
Di balik lebatnya rimba Kalimantan, terdapat beberapa jenis kucing liar yang hidup secara tersembunyi dan sulit dijumpai manusia. Mulai dari kucing merah Borneo hingga macan dahan, masing-masing memiliki karakteristik unik yang menjadikannya begitu istimewa.
Keberadaan mereka tidak hanya menarik perhatian para peneliti, tetapi juga pencinta satwa dari berbagai belahan dunia. Sayangnya, pesona kucing-kucing lokal Borneo kini menghadapi berbagai ancaman, mulai dari hilangnya habitat hingga perburuan liar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengenal Jenis Kucing Lokal dari Tanah Borneo
Tahun lalu, masyarakat gempar dengan keberadaan kucing merah Kalimantan yang tertangkap kamera pengawas atau kamera trap di kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), Malinau, Kalimantan Utara (Kaltara). Kucing ini kembali terlihat wujudnya setelah 20 tahun 'lenyap' dari pandangan.
Namun selain kucing merah, ada banyak jenis kucing lokal lainnya di Kalimantan. Berikut beberapa jenisnya, dirangkum detikKalimantan dari berbagai literatur:
1. Kucing Merah
Kucing merah. (Instagram FMIPA Universitas Lambung Mangkurat) |
Jenis kucing merah atau Borneo Bay Cat (Catopuma badia) berasal dari Pulau Kalimantan, termasuk dalam famili Felidae. Hewan ini juga dijuluki kucing teluk Kalimantan, kucing merah Kalimantan, kucing marmer, atau kucing batu Kalimantan.
Kucing ini punya sifat pemalu, tidak banyak yang diketahui tentangnya karena jarang terlihat. Keberadaan kucing merah diketahui sangat langka sehingga sangat sulit untuk diteliti bahkan untuk mendapatkan fotonya bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan.
Kucing liar kecil ini hidup di Asia Selatan dan Asia Tenggara, terutama di di Sabah, Serawak, dan hutan Kalimantan. Kucing merah hidup di pepohonan di hutan tropis lembap dan hutan campuran berdaun lebat dan hijau abadi.
Kucing merah memiliki ukuran tubuh lebih kecil dibandingkan Kucing Emas Asia, kucing langka dari Sumatra. Bulunya berwarna cokelat terang dan lebih pucat di tubuh bagian bawah. Warna bulu pada kaki serta ekor berwarna merah dan agak pucat.
Ekornya memanjang, meruncing pada ujungnya dengan garis putih di sisi bawah. Telinga kucing ini bulat, warna bulu pada bagian luar cokelat kehitaman, sedangkan bagian dalam berwarna lebih terang.
Kucing merah memiliki habitat bervariasi mulai dari hutan rawa, dataran rendah, dipterocarp hutan, sampai hutan bukit pada ketinggian sekitar 500 meter. Lokasi tersebar di Sungai Kapuas Hulu di Kalimantan Barat, dan di Taman Nasional Gunung Palung.
Hewan ini menghadapi ancaman habitat karena penggundulan hutan akibat perkebunan kelapa sawit, serta perdagangan satwa liar ilegal. Hal ini merupakan penyebab utama hilangnya habitat fauna di pulau tersebut, termasuk kucing merah yang jarang terlihat.
Kucing liar endemik pulau Kalimantan ini lebih jarang ditemui dibanding spesies kucing lainnya yang simpatrik. Hewan nokturnal ini jarang ditemukan di daerah terbuka atau dekat aktivitas manusia.
Jenis hewan ini menurut Uni Internasional untuk Konservasi Alam mengklasifikasikan sebagai spesies hutan terancam punah karena penurunan populasi yang diperkirakan lebih dari 20% pada tahun 2020 karena hilangnya habitat.
Selang 20 tahun sejak 2003, kucing ini tertangkap kamera inventarisasi kawasan di Kaman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), Malinau, Kalimantan Utara (Kaltara). Satwa ini masuk dalam spesies terancam punah menurut IUCN, dengan populasi diperkirakan kurang dari 2.500 individu dewasa.
Kucing marmer juga merupakan satwa yang dilindungi sesuai Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan Dan Satwa. Jika menemukannya, warga dapat menyerahkannya ke petugas berwenang agar dapat kembali ke habitatnya, dijelaskan dalam laman Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan.
2. Macan Dahan Borneo
Macan Dahan. (BKSDA Kalsel) |
Macan Dahan Borneo (Neofelis diardi borneensis) adalah subspesies macan dahan yang hanya ditemukan di Pulau Kalimantan. Mereka termasuk kucing liar yang sangat pemalu dan sulit dijumpai. Meskipun disebut "macan", mereka sebenarnya lebih dekat ke keluarga kucing besar seperti macan tutul.
Macan dahan tinggal di hutan hujan tropis Kalimantan, termasuk hutan primer dan sekunder, hutan rawa, dan daerah perbukitan. Hewan ini adalah pemanjat pohon yang ulung, sering berburu atau arboreal, dan kerap beristirahat di atas pohon.
Macan dahan adalah makhluk nokturnal atau aktif di malam hari, dan binatang soliter atau mandiri dan tidak berkelompok. Macan dahan termasuk binatang karnivora pemangsa monyet, burung, rusa kecil, trenggiling, bahkan hewan yang hidup di pohon.
Keterampilannya bisa turun dari pohon dengan kepala lebih dulu, melompat antarpohon dengan lincah, cakarnya tajam, dan ekor panjangnya mampu membantu menjaga keseimbangan.
Kehidupan macan dahan memang misterius, tak banyak orang yang mengetahuinya. Namun sayang, meskipun mereka menjadi predator terbesar di hutan Kalimantan, mereka tak kuasa menghadapi manusia.
Macan dahan dievaluasikan sebagai rentan di dalam IUCN Red List. Spesies ini didaftarkan dalam CITES Appendix l, yang artinya segala bentuk perdagangan internasional dilarang.
Status macan dahan dalam IUCN saat ini rentan atau Vulnerable. Macan dahan merupakan salah satu satwa dilindungi dalam P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018.
Kini keberadaannya terancam punah sehingga masuk dalam kategori hewan langka yang dilindungi dunia. Pemerintah Kabupaten Kutai Barat mengabadikan dan mensosialisasikan perlindungan macan dahan, dengan menjadikannya sebagai maskot.
3. Kucing Macan Tutul Sunda
Kucing Macan Tutul Sunda (Prionailurus javanensis) Foto: Wikimedia Commons |
Kucing macan tutul Sunda (Prionailurus javanensis) tampak seperti macan tutul versi mini. Kaki panjang dan lebih ramping, kepala bulat, moncong pendek dan sempit, serta telinga bulat besar.
Beberapa subspesies kucing macan tutul Sunda menunjukkan tempat hidupnya, antara lain di P. b. borneoensis di Kalimantan, P. b. javenensis di Jawa dan Bali, dan P. b. sumatranus di Sumatera dan pulau lepas pantai Tebingtinggi, Sumatera Utara. Beberapa subspesies juga hidup di Filipina. Kucing ini dilarang diburu di Indonesia, Malaysia, dan Filipina.
4. Kucing Kepala Datar
Kucing Kepala Datar (Prionailurus planiceps) Foto: Jim Sanderson/Wikimedia Commons |
Kucing langka bernama latin Prionailurus planiceps ini hidup di Kalimantan, Sumatera dan semenanjung Malaysia. Pada tahun 2021, peneliti Chela Powell dan Muhammad Iqbal melaporkan kucing ini tampak di semenanjung Kampar, Riau 11 kali dalam 4 tahun via kamera jebak di kawasan hutan rawa gambut di sana.
Diketahui, semenanjung Kampar mengalami alih fungsi hutan, pengeringan lahan gambut, dan kebakaran yang disebabkan manusia. Kucing kepala datar masuk daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) sebagai hewan terancam punah.
5. Kucing Batu
kucing batu Foto: A.J. Hearn and J. Ross |
Kucing batu atau disebut marbled cat (pardofelis marmorata) sangat dicari oleh para peneliti. Lewat kamera pengintai, hewan langka yang hidup di Pulau Kalimantan dan Sumatera itu akhirnya bisa terekam penampakannya pada tahun 2016.
Andrew Hearn, kandidat doktoral dari Wildlife Conservation Research Unit di University of Oxford Inggris menyatakan, dalam penelitian itu memperlihatkan kucing batu sedang memburu seekor burung dan primata kecil.
Dari pengamatan tersebut, informasi soal kucing batu yang dapat diketahui adalah hewan itu punya panjang tubuh berkisar antara 45-62 cm dengan panjang ekor 35-55 cm dan tubuh seberat 2-5 kg.
Ciri kucing batu agak mirip macan dahan. Hewan ini memiliki ekor yang panjang dan berbulu sangat tebal. Ukuran dan bentuk ekor ini mempunyai fungsi sebagai penjaga keseimbangan ketika kucing batu bergerak di dahan atau ranting pohon. Selain itu, kedua pasang kakinya besar dan kokoh.
Populasi kucing batu tersebar di kawasan Indomalaya, terbentang dari timur India, Nepal, China sampai Asia Tenggara di Pulau Sumatera dan Kalimantan.
Nah, itulah tadi informasi tentang kucing-kucing lokal dari tanah Borneo yang keberadaannya makin langka.
Sumber:
1. Arsip liputan BeritaKlik
2. Media sosial Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Utara
3. Laman Pusat Penyuluhan BP2SDM, Kementerian Kehutanan
4. Laman Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah
5. Laman IUCN/SSC Cat Specialist Group
6. Oryx: The International Journal of Conservation, Cambridge University Press
7. Laman Livescience





