Di balik lebatnya rimba Kalimantan, tumbuh beragam jenis durian hutan asli. Raja buah di hutan Kalimantan ini menawarkan rasa unik, aroma khas, serta cerita panjang yang diwariskan dari generasi ke generasi. Berbeda dengan durian budidaya yang banyak dijumpai di pasar, durian hutan tumbuh secara alami tanpa campur tangan manusia.
"Salah satu yang paling dikenal adalah lahung atau durian merah. Buah ini memiliki daging berwarna merah hingga jingga dengan cita rasa manis berpadu sedikit pahit, teksturnya lembut, dan aromanya tidak terlalu menyengat sehingga menjadi favorit banyak pencinta durian," ujar seorang pekebun buah di Lamandau, Isai, Rabu (24/6/2026).
Selain lahung, ada pula durian pulu atau durian kuning yang memiliki warna daging cerah dengan rasa legit dan sedikit creamy. Jenis ini banyak ditemukan di kawasan pedalaman Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, hingga Kalimantan Timur yang masih memiliki tutupan hutan alami.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Keunikan lainnya hadir dari durian isau atau durian putih. Sesuai namanya, buah ini memiliki daging berwarna putih bersih dengan rasa manis ringan dan aroma yang lebih lembut dibandingkan durian biasa, sehingga cocok dinikmati oleh mereka yang kurang menyukai aroma tajam," ujarnya.
Di sejumlah kawasan hutan Kalimantan juga tumbuh durian kura-kura atau Durio testudinarius. Ukurannya relatif lebih kecil dengan kulit yang dipenuhi duri rapat, sementara rasa buahnya memadukan manis dan sedikit asam yang memberikan sensasi berbeda di lidah.
"Tak kalah menarik adalah durian lai yang banyak tumbuh di Kalimantan Timur dan sebagian wilayah Kalimantan Utara, sebagian di Kalimantan Tengah. Meski masih satu kerabat dengan durian, lai memiliki aroma yang lebih lembut, daging tebal berwarna kuning hingga oranye, serta rasa manis yang khas sehingga banyak dibudidayakan sebagai buah unggulan daerah," kata dia.
Keberadaan durian-durian hutan tersebut menjadi bagian penting dari kekayaan hayati Kalimantan. Selain bernilai ekonomi saat musim panen, pohon-pohon durian liar juga berperan menjaga keseimbangan ekosistem hutan sekaligus menjadi sumber pakan bagi berbagai satwa. Di tengah semakin berkurangnya kawasan hutan akibat alih fungsi lahan, keberadaan durian asli Kalimantan menjadi warisan alam yang patut dijaga.
"Melestarikan hutan berarti menjaga agar ragam durian endemik beserta cita rasa khasnya tetap dapat dinikmati oleh generasi mendatang, sekaligus mempertahankan identitas kuliner yang hanya dimiliki Pulau Borneo," pungkasnya.
Secara umum, Kalimantan memiliki sekitar 18-20 spesies durian liar (genus Durio), meskipun jumlahnya bisa berbeda tergantung hasil penelitian taksonomi terbaru. Indonesia, khususnya Pulau Kalimantan, merupakan salah satu pusat keanekaragaman durian di dunia.
Berikut 18 jenis durian yang dikenal tumbuh di Kalimantan:
- Durian Biasa (Durio zibethinus) - durian yang paling banyak dibudidayakan
- Lahung / Durian Merah (Durio dulcis) - daging merah hingga merah tua, rasa manis dengan sedikit pahit
- Lai (Durio kutejensis) - daging kuning-oranye, aroma lembut, banyak ditemukan di Kalimantan Timur
- Durian Putih / Isau (Durio oxleyanus) - daging putih, rasa manis dan lembut
- Durian Kura-kura (Durio testudinarius) buah kecil, rasa manis sedikit asam
- Durian Pulu (Durio graveolens) - daging kuning hingga oranye, aroma tidak terlalu menyengat
- Durian Daun Besar (Durio grandiflorus)
- Durian Munjit (Durio acutifolius)
- Durian Sukang (Durio carinatus)
- Durian Nyekak (Durio lanceolatus)
- Durian Telor (Durio lowianus)
- Durian Kuning Hutan (Durio dulcis, varian lokal di beberapa daerah)
- Durian Merah Jingga (varian lokal dari Durio graveolens)
- Durian Hutan Hijau (Durio excelsus)
- Durian Durio beccarianus
- Durian Durio kinabaluensis (terdapat di Kalimantan bagian utara/Borneo)
- Durian Durio oblongus
- Durian Durio griffithii
Selain itu, masyarakat adat di berbagai daerah di Kalimantan juga memberi nama lokal pada banyak varietas durian, seperti Lahung, Lai, Pulu, Isau, Pekawai, Selangan, dan Tuang, sehingga jumlah nama yang dikenal masyarakat jauh lebih banyak dibanding jumlah spesies ilmiahnya.
(des/des)
