Manohara menceritakan momen yang mengubah pandangan hidupnya hingga memutuskan menjadi relawan dalam perlindungan satwa dan lingkungan hidup. Perjalanan itu dimulai saat pertama kali berinteraksi dengan bayi orang utan di pusat penyelamatan beberapa tahun silam.
"Pertama kali saya jadi relawan untuk hewan itu, kami menjemput bayi orang utan di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS)," kenang Manohara saat mengisi acara di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, Minggu (28/6/2026).
Di lokasi tersebut, Manohara melihat pemandangan yang sangat memukul batinnya. Berbagai jenis hewan liar berada di dalam kandang dengan kondisi jauh dari kata ideal. Pengalaman tersebut membuatnya mulai mempertanyakan nasib satwa-satwa malang tersebut setelah mereka diselamatkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pada saat itu di PPS banyak sekali hewan, berbagai macam jenis yang dikandang, dan bisa dibilang kondisinya tidak idealah. Dan, pada saat itu saya bertanya, ini hewan-hewannya masa depan mereka akan seperti apa?" kenangnya.
Jawaban yang diterima Manohara saat itu justru semakin membuatnya terpukul. Ia menyadari menyelamatkan hewan dari kandang perdagangan baru langkah awal yang sangat kecil.
Masalah yang lebih besar adalah tidak adanya lahan atau hutan yang cukup aman sebagai tempat mereka kembali, serta minimnya program rehabilitasi yang memadai untuk mengembalikan sifat liar satwa tersebut.
"Sayangnya banyak sekali yang hanya akan begitu saja karena tidak ada tempat untuk merilis mereka dan tidak ada program-program rehabilitasi untuk mereka," tuturnya.
Kejadian itu yang menjadi titik balik bagi kehidupan Manohara. Ia akhirnya memahami bahwa memperjuangkan kesejahteraan hewan tidak akan pernah cukup tanpa menjaga kelestarian alam itu sendiri.
"Pada saat itu saya baru benar-benar sadar bahwa kesejahteraan hewan itu tidak bisa dipisahkan dengan konservasi, dengan kesejahteraan alam. Jadi if you really care about animals, you have to care about nature because one can't exist without the other," tegasnya.
Sejak saat itu, Manohara secara konsisten menyuarakan pentingnya menjaga habitat alami satwa liar melalui berbagai platform. Ia aktif menggunakan media sosial miliknya untuk memberikan edukasi mengenai keterkaitan erat antara kerusakan hutan dan hilangnya populasi hewan.
"Kalau ekosistemnya rusak sekecil apa pun itu akan snowball effect dan ujung-ujungnya akan dampak ke kita juga sebagai user," pungkasnya.
(sun/sun)
