Ramai-ramai Warga Sebangau Besar Tangkap Buaya 5 Meter Pemangsa Manusia

Kalimantan Flashback

Ramai-ramai Warga Sebangau Besar Tangkap Buaya 5 Meter Pemangsa Manusia

Tim detikKalimantan - detikKalimantan
Jumat, 03 Jul 2026 15:01 WIB
Buaya 5 Meter Pemangsa Manusia Ditangkap di Kalteng
Foto: Buaya 5 Meter Pemangsa Manusia Ditangkap di Kalteng (dok BKSDA Kalteng)
Pulang Pisau -

Warga Desa Sebangau Besar, Kalimantan Tengah dikejutkan dengan kemunculan seekor buaya muara 'raksasa' sepanjang 5 meter. Buaya tersebut diduga telah memangsa seorang warga.

Peristiwa itu terjadi pada Sabtu (20/1/2018) silam, warga meyakini buaya tersebut memangsa Aman, warga RT 02 RW 01 Desa Sebagau Jaya, Kecamatan Katingan Kuala, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Warga yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan, bahkan sempat berhenti beraktivitas di sungai selama hampir 2 minggu karena trauma dan takut dimangsa buaya.

Dalam arsip liputan detikNews, BBKSDA Kalteng menyatakan buaya berukuran besar ini diyakini memangsa Aman yang sedang mencari udang di Muara Sungai Sebangau Besar, Kabupaten Pulang Pisau. Setelah dicari warga, jasad Aman ditemukan ditindih buaya dalam kondisi sudah tidak utuh akibat diserang buaya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sungai di lokasi kejadian memang berbatasan langsung dengan laut. Menurut Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Kalimantan Tengah, Junaedy Slamet Wibowo, wilayah Sebangau Besar memang merupakan habitat buaya muara.

Buaya 5 Meter Pemangsa Manusia Ditangkap di KaltengBuaya 5 Meter Pemangsa Manusia Ditangkap di Kalteng. (dok BKSDA Kalteng)

"Buaya jantan sifatnya teritorial, kalau ada buaya jantan di satu wilayah, buaya lain tidak akan berani masuk ke wilayah tersebut. Ini dibuktikan juga oleh warga yang mengangkat tubuh korban saat itu, kata dia buaya itu memang yang menindih korban," tuturnya menjelaskan.

Buaya muara jantan sepanjang 5,18 m, lebar 70 cm, dan bobot 1 ton itu kemudian diburu warga dan delapan orang petugas BKSDA Kalteng pada Sabtu (20/1/2018). Junaedy dan tim awalnya berniat menangkap buaya itu hidup-hidup, namun ternyata medannya sulit.

"Kami diperintahkan melakukan evakuasi karena semenjak ada peristiwa itu masyarakat jadi trauma, tidak berani beraktivitas sehari-hari. Kebetulan itu daerah muara yang berbatasan langsung dengan laut," kata Junaedy.

"Kalau untuk penangkapan secara manual susah dilakukan. Pertama wilayah dan kondisi ombak. Kedua Pantai yang ada di situ berlumpur. Tim susah beraktivitas saat menangkap, malah nantinya resiko keselamatan tinggi," sambungnya.

Susahnya Menangkap dan Mengevakuasi Buaya 'Raksasa'

Buaya 5 Meter Pemangsa Manusia Ditangkap di KaltengBuaya 5 Meter Pemangsa Manusia Ditangkap di Kalteng. (dok BKSDA Kalteng)

Delapan orang dari tim BKSDA Kalteng terjun ke lokasi pada Senin (29/1/2018) pagi ke Desa Sebangau Jaya dan baru sampai sore hari karena medan yang cukup sulit. Setibanya di lokasi, tim langsung bergerak mengumpulkan informasi.

Hari kedua, tim BKSDA Kalteng bersama warga mulai melakukan penelusuran setelah kepala masyarakat setempat menunjukkan lokasi kejadian. Tim berupaya maksimal, namun hasilnya nihil.

"Berhubung saking luasnya wilayah sungai yang lebarnya sekitar 100 meter, jadi buaya itu belum dapat ditemukan pada seharian itu. Malamnya kami tidak dapat melakukan survei karena kondisi laut, cuaca ombak pasang tinggi," cerita Junaedy.

Tim BKSDA kemudian menyiapkan opsi lain dengan memasang jerat dengan umpan monyet ekor panjang. Monyet ini populasinya cukup banyak di lokasi. Jerat dipasang di tiga titik tempat kemungkinan buaya itu muncul.

"Menurut info masyarakat, makanan yang paling digemari buaya ya monyet ekor panjang atau kera ekor panjang itu," ujar Junaedy.

"Jadi jeratnya itu semacam pancing, dikasih daging umpan, digantung di atas permukaan air dengan pelampung, istilahnya kalau air pasang dia nggak akan tenggelam, kalau surut nggak akan nyentuh permukaan tanah. Seperti mancing ikan," sambungnya.

Junaedy mengatakan, dua jerat yang dipasang umpannya hilang, namun menurut Junaedy kemungkinan terhempas arus air atau dimakan hewan lainnya, diduga biawak.

Dua umpan monyet yang hilang pun diganti, salah satunya diganti umpan bebek. Tapi sayang, menurut Junaedy, tim BKSDA Kalteng tidak bisa berbuat banyak pada tanggal 31 Januari itu karena kondisi alam yang tidak bersahabat bersamaan dengan fenomena super blue blood moon.

Pada Kamis (1/2) pagi, tim kembali memeriksa jerat yang dipasang namun hasilnya nihil. Setelah mempertimbangkan sejumlah hal, tim akhirnya memutuskan meninggalkan lokasi untuk menangani sejumlah laporan warga soal satwa liar di wilayah lain. Meski begitu warga tetap mengawasi jerat yang dipasang.

Setelah beberapa hari, upaya warga dan petugas pun membuahkan hasil. Buaya ini ditemukan dalam keadaan mati pada Jumat (2/2) pagi. Kemungkinan buaya ini terjerat malam hari sehingga mati kelelahan terjerat.

"Hari kelima kami kembali ke Palangka, pas di pertengahan jalan ada informasi Jumat pagi (2/2) buayanya terjerat. Infonya buaya tersebut sudah dalam kondisi mati. Jadi dari hasil koordinasi dengan aparat, dikuburkan di lokasi penemuan tersebut," jelas Junaedy.

Buaya itu akhirnya berhasil ditangkap pada Jumat (2/2/2018) di muara Sungai Sebangau Besar. Butuh waktu selama hampir seminggu untuk menjerat buaya ini.

BKSDA Kalteng menyatakan buaya itu ditemukan sudah dalam keadaan mati, setelah memakan umpan yang disiapkan di kalang (alat tangkap ikan) dengan umpan monyet.

Buaya 5 Meter Pemangsa Manusia Ditangkap di KaltengBuaya 5 Meter Pemangsa Manusia Ditangkap di Kalteng Foto: Buaya 5 Meter Pemangsa Manusia Ditangkap di Kalteng (dok BKSDA Kalteng)

Warga pun ramai-ramai melihat buaya ini. Ukurannya besar, yakni panjang 5,18 meter dan lebar 70 cm. "Beratnya sekitar 1 ton," ucap Junaedy.

Junaedy menyebut karena buaya ditemukan dalam keadaan mati, buaya akhirnya langsung dikubur.

"Buaya tersebut sudah dalam kondisi mati. Jadi dari hasil koordinasi dengan aparat, dikuburkan di lokasi penemuan tersebut," ujarnya.

Penyebab Buaya Menyerang Warga

Buaya 5 Meter Pemangsa Manusia Ditangkap di KaltengBuaya 5 Meter Pemangsa Manusia Ditangkap di Kalteng. (dok BKSDA Kalteng)

Junaedy menjelaskan kemungkinan buaya muara tersebut menyerang karena reflek. Jika habitat terganggu, biasanya buaya tidak akan langsung menyerang.

"Kasus ini berdasarkan informasi warga, mereka melihat buaya tersebut mempunyai anak atau sedang bersama anaknya, mungkin melindungi," kata Junaedy saat dihubungi BeritaKlik lewat telepon, Selasa (13/2/2018).

"Bisa juga memang pas korban menyelam, pas buaya itu sama-sama di bawah air. Jadi reflek dari binatang ini kalau terkejut kan menyerang," sambungnya.

Junaedy mengatakan, sejumlah hewan lain bisa bereaksi menyerang saat bertemu manusia di habitatnya. Misalnya, beruang dan ular.

"Seperti ular kalau terinjak langsung menyerang. Begitu juga beruang, begitu ketemu pas sama-sama kaget langsung menyerang, habis itu kabur dia. Itu salah satu bentuk pembelaan diri," ujarnya.

Junaedy melanjutkan, sungai di wilayah Desa Sebangau Besar memang merupakan habitat buaya muara. Dia menilai, ada juga kemungkinan buaya menyerang manusia karena habitatnya mulai terganggu.

"Kalau kondisi di sana, kondisi sungai masih alami, cuma kondisi di daratan cukup ada diskresi hutan. Ya Secara umum bisa untuk permukiman, bisa untuk kebun masyarakat atau swasta," ucapnya.

Sebagai antisipasi, BKSDA Kalimantan Tengah telah memasang papan imbauan di Desa Sebagau Jaya dan di sekitar muara Sungai Sebangau Besar. Papan imbauan itu dipasang agar warga tetap waspada.




(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads