Manis Gurih Putri Mandi, Takjil Warisan Kesultanan Melayu di Pontianak

Manis Gurih Putri Mandi, Takjil Warisan Kesultanan Melayu di Pontianak

Ocsya Ade CP - detikKalimantan
Rabu, 25 Feb 2026 16:01 WIB
Putri mandi, kuliner khas Pontianak yang jadi incaran untuk buka puasa
Adonan putri mandi, kuliner khas Pontianak yang jadi incaran untuk buka puasa. Foto: Ocsya Ade CP/detikKalimantan
Pontianak -

Berburu takjil di Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar), saat Ramadan belum lengkap tanpa mencicipi putri mandi. Kue tradisional berbahan dasar beras ketan ini selalu jadi incaran warga karena cita rasanya yang manis dan gurih.

Putri mandi terbuat dari adonan pulut ketan yang dibentuk bulatan kecil, kemudian disajikan dengan kuah gula aren dan gula pasir. Teksturnya kenyal dengan siraman kuah manis yang lembut di lidah.

Salah satu pembuat putri mandi di Pontianak, Nurhayati, mengatakan permintaan kue Putri Mandi saat Ramadan ini cukup meningkat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kapan mau makan, saya buat. Tapi kalau bulan puasa ini permintaan meningkat," ujar Nurhayati.

Ia mengaku, resep kue putri mandi ini diperolehnya secara turun-temurun dari keluarga. Untuk mempercantik tampilannya, adonan diberi pewarna makanan seperti hijau, merah, atau kuning agar lebih menarik minat pembeli.

"Ini adalah kue tradisional yang masih bertahan sampai sekarang," katanya.

Adonan putri mandi, kuliner khas Pontianak yang jadi incaran untuk buka puasa.Adonan putri mandi, kuliner khas Pontianak yang jadi incaran untuk buka puasa. Foto: Ocsya Ade CP/detikKalimantan

Saat Ramadan, putri mandi mudah ditemukan di pasar juadah dan lapak takjil di Pontianak. Harganya pun relatif terjangkau, mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 10.000 per kantong.

"Kalau bulan puasa ini banyak yang jual. Kalau hari biasa, kita kalau lagi pengen kita buat," kata seorang warga, Nova Juliani.

Di tengah menjamurnya kuliner modern, putri mandi tetap bertahan sebagai simbol warisan budaya Melayu yang hidup dan terus dinikmati lintas generasi di Pontianak. Selain digemari karena rasanya yang manis dan gurih, kue ini menyimpan jejak sejarah panjang dalam tradisi Melayu.

Secara historis, putri mandi merupakan bagian dari khazanah kuliner Melayu yang telah dikenal sejak masa Kesultanan Pontianak pada abad ke-18. Bahan utama seperti beras ketan, kelapa, dan gula aren merupakan komoditas penting dalam kehidupan masyarakat pesisir Sungai Kapuas saat itu.

Dalam tradisi Melayu, kue-kue berbahan ketan kerap disajikan pada acara adat, kenduri, hingga perayaan keagamaan. Putri Mandi menjadi salah satu hidangan yang melambangkan kelembutan dan kebersamaan, terutama karena disajikan dalam kuah santan atau gula yang menyatukan seluruh adonan di dalam satu wadah.

Nama "putri mandi" sendiri dipercaya muncul dari tampilannya. Bulatan pulut ketan yang disiram kuah manis terlihat seolah-olah sedang 'mandi', sementara warna-warni adonan mencerminkan keindahan layaknya seorang putri.

Filosofi ini memperkuat identitasnya sebagai kue tradisional yang lekat dengan budaya perempuan Melayu di dapur keluarga. Di Pontianak yang memiliki akar budaya Melayu kuat, putri mandi kemudian menjadi sajian khas Ramadan dan bertahan lintas generasi hingga kini.




(des/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads