Asal-usul Kue Si Kentut dari Singkawang, Lezat dan Ternyata Tak Berbau

Asal-usul Kue Si Kentut dari Singkawang, Lezat dan Ternyata Tak Berbau

Anindyadevi Aurellia - detikKalimantan
Rabu, 20 Mei 2026 09:01 WIB
Daun kentut dan kue kentut. (Media sosial @sibungbung dan @onebitebigbite)
Foto: Daun kentut dan kue kentut. (Media sosial @sibungbung dan @onebitebigbite)
Singkawang -

Kalimantan Barat tidak hanya dikenal lewat ragam kuliner bercita rasa Melayu yang khas, tetapi juga memiliki jajanan tradisional dengan nama unik yang mengundang rasa penasaran. Salah satunya adalah kue si kentut, camilan tradisional yang cukup populer di kalangan warga Singkawang dan sekitarnya.

Kue si kentut sebetulnya berasal dari Bangka, Bangka Belitung. Namun juga populer di Singkawang dan Pontianak, Kalimantan Barat.

Meski namanya terdengar lucu dan sedikit nyeleneh, kue ini justru memiliki cita rasa gurih dan tekstur lembut yang disukai banyak orang. Tak ada bau kentut yang dibayangkan sebagian orang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Asal-usul Kue Si Kentut

Kue Si Kentut. (Jejak Si Gundul Trans 7)Kue Si Kentut. (Jejak Si Gundul Trans 7)

Kue si kentut merupakan salah satu kuliner tradisional khas Kepulauan Bangka Belitung yang lekat dengan budaya masyarakat suku Khek di daerah tersebut. Kue tradisional ini dipercaya telah hadir sejak ribuan tahun lalu bersamaan dengan kedatangan masyarakat Tionghoa suku Hakka atau Khek ke wilayah Bangka Belitung.

Disadur dari buku Kuliner Khas Tionghoa di Indonesia oleh Nicholas Molodysky, kue ini sudah ribuan tahun dikonsumsi komunitas Hakka, yang kemudian menyebar sesuai tempat tinggal masyarakatnya. Menyebarnya masyarakat komunitas Hakka juga sampai ke Kalimantan Barat, sehingga memungkinkan penyebaran jenis kulinernya.

Kue si kentut punya nama lain yakni kai si then cho yang artinya rumput beraroma kotoran ayam, koi sai tin kwe, dan chu phi then. Kue si kentut juga dikenal dengan nama ta phi pan dalam bahasa Hakka.

Nama kue kentut berasal dari penggunaan daun kentut (Paederia foetida) sebagai salah satu bahan utama dalam proses pembuatan. Daun kentut biasa disebut daun simbukan, atau nama lainnya daun ta phi.

Daun ini memiliki aroma cukup menyengat hampir menyerupai bau kentut. Rasanya juga dikenal pahit. Namun setelah melalui proses masak, hasilnya tidak begitu bau dan justru harum dan nyaman dimakan.

Kue kentutKue kentut Foto: grid.id / TikTok @nanakoot & @sibungbung/ budaya-indonesia.com

Kue berwarna hijau tua atau hijau lumut ini dihasilkan dari daun kentut yang memang punya warna sama. Kue kentut dicicipi oleh banyak food vlogger atau food reviewer karena nama yang unik.

Tidak seperti namanya yang terdengar 'menjijikan', kue ini sebenarnya punya aroma daun yang lezat dengan cita rasa dominan manis. Tekstur kue ini lembut, rasanya manis dan gurih, sedikit mengingatkan kita dengan kue lapis. Kue kentut termasuk jenis kue basah yang dimasak dengan cara dikukus.

Tekstur kue si kentut kenyal dan lembut menyerupai dodol. Bentuknya pun beragam, mulai dari bentuk lapis seperti kue lapis, bentuk gulung menyerupai dadar gulung atau Fo Thung, hingga bentuk bulat dengan motif timbul yang dibuat menggunakan cetakan khusus.

Dalam tradisi masyarakat Tionghoa, kue ini memiliki makna khusus dan biasa disantap setahun sekali, tepat pada tanggal 8 bulan 4 dalam Kalender Tionghoa. Konon kue ini dimakan setiap perayaan Sie Ngiet Cho Pat karena dipercaya membawa kemakmuran melimpah dan dampak bagi kesehatan.

Namun, seiring perkembangan zaman dan arus modernisasi, keberadaan kue ini kini mulai jarang ditemukan.

Mengenal Daun Kentut dan Manfaatnya

Kue kentutKue kentut. Foto: grid.id / TikTok @nanakoot & @sibungbung/ budaya-indonesia.com

Kue si kentut dibuat menggunakan daun kentut yang dikenal memiliki aroma cukup menyengat menyerupai bau kentut ketika masih mentah. Meski demikian, setelah melalui proses pengolahan dan pemasakan, aroma tersebut berubah menjadi lebih harum dan khas sehingga tetap lezat untuk disantap.

Dirangkum dari arsip liputan Jejak Anak Negeri dan Jejak Si Gundul Trans 7, daun kentut merupakan tumbuhan menahun dari famili Rubiaceae atau suku kopi-kopian yang memiliki karakter tumbuh merambat dan memanjat pada tanaman lain.

Tanaman ini berasal dari kawasan beriklim sedang, kemudian tersebar ke berbagai negara di Asia Timur dan Asia Tenggara, seperti Cina bagian selatan dan timur, Jepang, Korea, India, Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Malaysia, Indonesia, hingga Filipina.

Di Indonesia, tumbuhan ini dikenal dengan berbagai nama daerah, seperti sembukan atau simbuan di Jawa, kahitutan dalam bahasa Sunda, dan bintaos di Madura. Nama ilmiah Paederia foetida pertama kali diperkenalkan oleh ahli botani Carolus Linnaeus melalui karya Species Plantarum pada tahun 1767.

Tanaman ini dikenal sebagai tumbuhan merambat yang tumbuh cepat dengan batang ramping sepanjang sekitar 1,5-7 meter. Batangnya biasanya melilit tumbuhan lain sebagai penopang.

Habitat tumbuhan ini cukup beragam, mulai dari semak belukar, tepi hutan, hutan sekunder yang hijau sepanjang tahun maupun yang menggugurkan daun, hingga area terbuka di hutan primer. Tanaman ini dapat ditemukan pada ketinggian 1.800 meter di wilayah Himalaya, termasuk pada lereng curam dan kawasan pantai berpasir maupun berbatu.

Salah satu ciri khas utama daun kentut adalah aroma menyengat yang keluar dari hampir seluruh bagian tanaman ketika diremas. Meski memiliki bau khas yang cukup kuat, tumbuhan ini justru cukup populer di kawasan Asia sebagai tanaman obat tradisional.

Selain tumbuh liar di alam, daun kentut juga banyak dibudidayakan dan diperjualbelikan sebagai bahan herbal maupun tanaman hias. Daun kentut yang dipakai sebagai bahan utama kue ini secara turun-temurun digunakan untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan.

Daun kentut mengandung zat asam organik seperti zat asam karporat dan asam kaprik yang cukup tinggi. Kandungan ini membuatnya menghasilkan bau tak sedap, namun juga kaya antioksidan. Daun kentut juga dipercaya mengandung anti-inflamasi, vitamin C, alkaloid, sitosterol, flavonoid, dan masih banyak lagi.

Tanaman ini dipercaya memiliki banyak manfaat kesehatan, seperti membantu meredakan perut kembung, meredakan peradangan, mengatasi gangguan lambung dan usus, melancarkan buang air kecil, hingga digunakan sebagai obat tradisional beragam penyakit lainnya.

Cara Membuat Kue Si Kentut

Kue kentutKue kentut Foto: grid.id / TikTok @nanakoot & @sibungbung/ budaya-indonesia.com

Kue kentut memiliki tekstur kenyal lentur karena terbuat dari campuran daun kentut dengan tepung. Dalam proses pembuatannya, daun kentut muda terlebih dahulu dibersihkan lalu dipisahkan dari tangkainya sebelum ditumbuk hingga halus. Hanya daun yang masih segar yang dapat digunakan untuk jadi bahan olahan kuliner.

Proses menumbuk menjadi cara menghilangkan bau daun kentut, supaya getahnya keluar terlebih dahulu. Kemudian tumbukan daun kentut dicuci dan diperas-peras di air, supaya getahnya hilang.

Guna membantu mengurangi aroma khas daun kentut sekaligus mempercantik warna hijau pada kue, biasanya saat proses penumbukan turut ditambahkan daun pandan atau daun suji. Sehingga daun kentut dan kedua daun tadi ditumbuk bersamaan.

Adonan dasarnya dibuat dari campuran tepung beras, santan kelapa tua, gula, serta tepung tapioka yang berfungsi memberikan tekstur lebih lembut dan kenyal. Kelapa tua mengandung banyak minyak dan bagus untuk jadi santan.

Mulanya santan dicampur dengan gula pasir dan sedikit garam. Aduk, lalu masukkan air daun kentut dan pandan.

Tambahkan tepung tapioka dengan perbandingan 1:1 tepung beras supaya adonan kental. Kue kentut kemudian dikukus dengan kuali selama 15 menit. Setelah jadi, kue kentut dapat digulung. Atau jika membuat adonan cukup tebal, maka bisa dicetak menyerupai bentuk daun (sebelum proses pengukusan).

Nah, itulah tadi penjelasan tentang kue si kentut. Apakah kamu pernah menyantapnya?

Halaman 2 dari 3
(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads