Di tengah hiruk-pikuk aktivitas warga di kawasan Mendawai Sungai Arut, aroma rempah Coto Manggala dari Warung Mama Dewi mengundang orang untuk singgah. Di tempat inilah semangkuk Coto Manggala tersaji hangat, menawarkan cita rasa khas kuliner kebanggaan Pangkalan Bun.
Warung ini terletak di Jalan DAH Hamzah, Kelurahan Mendawai, Kecamatan Arut Selatan, Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalteng. Lokasinya tak jauh dari tepian Sungai Arut, sungai yang menjadi saksi perjalanan sejarah Pangkalan Bun.
Menikmati Coto Manggala di Mendawai terasa semakin istimewa karena ditemani suasana Sungai Arut yang tenang. Sembari menyantap hidangan hangat, pengunjung dapat menikmati lalu-lalang perahu di sungai yang menjadi jalur transportasi penting masyarakat sejak dahulu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sungai Arut. (MMC Kotawaringin Barat) |
Acil (Tante) Dewi selaku pemilik warung, menjelaskan Coto Manggala merupakan salah satu kuliner warisan yang hingga kini masih diminati masyarakat lokal maupun wisatawan.
"Banyak pengunjung yang awalnya penasaran karena namanya coto, tapi setelah mencoba mereka biasanya suka dan kembali lagi. Yang membuat berbeda adalah bahan manggala atau singkong yang menjadi ciri khas kuliner Pangkalan Bun," ujar Acil Dewi, ditemui detikKalimantan.
Sajian Coto Manggala begitu unik, karena menggunakan manggala atau singkong sebagai bahan utamanya. Coto Manggala disajikan dengan racikan bumbu tradisional yang telah diwariskan turun-temurun.
Semangkuk Coto Manggala hadir dengan kuah gurih yang kaya rempah. Potongan manggala yang lembut berpadu sempurna dengan kuah hangat, menciptakan rasa sederhana namun begitu membekas di lidah. Tak heran jika banyak pelanggan yang datang kembali hanya untuk menikmati sajian khas tersebut.
Harga semangkuk Coto Manggala berkisar Rp 15 ribu hingga 20 ribu. Ada beragam pilihan toppingnya, seperti ceker ayam, sayap ayam, atau hati ampela.
Harga terjangkau dan rasa yang enak, membuat sajian Coto Manggala buatannya jadi laris manis. Menurut Acil Dewi, menjaga cita rasa tradisional menjadi hal terpenting dalam mempertahankan kuliner khas daerah tersebut.
"Kami tetap mempertahankan resep yang sudah ada sejak dulu. Bumbu-bumbunya diracik seperti tradisi yang diajarkan orang tua kami. Alhamdulillah sampai sekarang masih banyak yang mencari Coto Manggala," katanya.
Sekedar diketahui, Coto Manggala juga menjadi bagian dari sejarah Kabupaten Kotawaringin Barat. Pada tahun 2009, Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat berhasil mencatatkan Rekor MURI dengan menyajikan sekitar 8.000 porsi Coto Manggala yang berjajar sepanjang dua kilometer.
Bagi para pecinta kuliner nusantara, berkunjung ke Pangkalan Bun rasanya belum lengkap tanpa mencicipi semangkuk Coto Manggala. Cita rasa yang lezat dan suasana tepian Sungai Arut yang menenangkan, membuatnya sulit dilupakan. Satu porsi sering kali terasa tidak cukup!
(aau/aau)
