Pertama kali mendengar nama makanan dokok-dokok telanjang, detikers mungkin akan penasaran seperti apa bentuk dan rasanya. Ini adalah kuliner tradisional khas Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat (Kalbar).
Bukan sekadar cemilan biasa, kue manis nan kenyal memiliki sejarah yang panjang. Bahkan makanan ini baru masuk ke dalam daftar Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia.
Lantas, seperti apa kue dokok-dokok telanjang ini? Simak sejarah hingga resepnya dalam artikel ini,
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Asal Muasal Dokok-dokok Telanjang
Nama makanan dokok-dokok sebetulnya tidak hanya dikenal di Mempawah, melainkan di sejumlah tempat. Misalnya di Sulawesi Selatan, namanya dikenal dengan doko-doko.
Diyakini bahwa doko-doko ini awalnya dibawa oleh masyarakat Bugis yang berlayar untuk membawa misi penyebaran agama Islam. Daerah yang dikunjungi salah satunya adalah Mempawah.
Secara harfiah doko-doko atau dokok-dokok berarti 'bungkusan' yang mengacu pada daun pisang pembungkus makanan ini. Sementara nama telanjang didapat karena kue ini tidak dibungkus daun pisang.
Cara penyajian dokok-dokok ada beberapa macam. Ada yang disajikan dengan siraman kuah santan kental yang manis dan gurih, dan ada yang disajikan dengan benar-benar 'telanjang' karena disajikan tanpa kuah maupun bungkusan.
Kebanggaan Mempawah di Tahun 2026
Nilai historis, sosial, dan cita rasa yang khas ini akhirnya mendapatkan pengakuan resmi dari negara. DIkutip dari situs Pemkab Mempawah, beberapa kuliner tradisional Mempawah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh Kementerian Kebudayaan RI.
Adapun penyerahan sertifikat WBTb dilakukan dalam perayaan HUT ke-69 Pemprov Kalimantan Barat tanggal 28 Januari 2026. Penetapan ini merupakan wujud kebanggaan dan komitmen untuk menjaga pusaka Bumi Galaherang agar tak lekang oleh zaman.
Resep Dokok-dokok Telanjang
Buat detikers yang ingin membuat dokok-dokok telanjang sendiri di rumah, caranya cukup mudah. Berdasarkan video dari channel YouTube WonderfulMempawah, berikut resepnya:
Bahan-bahan
- Kelapa setengah tua (kelapa pirang) parut
- Gula merah dan gula pasir
- Santan
- Tepung ketan
- Tepung terigu
- Tepung beras
- Daun pandan dan air
Langkah-langkah Pembuatan:
Membuat Isian
- Panaskan gula merah bersama air hingga mencair. Setelah larut, saring cairan gula merah tersebut agar kotorannya tidak ikut masuk.
- Masukkan kelapa parut. Takaran yang disarankan adalah 8 ons gula merah untuk setiap 1 kg kelapa.
- Tambahkan sedikit tepung terigu sebagai pengikat agar isian menyatu dan tidak hancur (berderai) ketika digigit.
- Masak dan aduk terus hingga isian matang, kalis, dan tidak lengket di wajan.
Membuat Kulit Kue
- Siapkan adonan dengan mencampur 1 kg tepung ketan dan 2,5 ons (250 gram) tepung terigu.
- Tambahkan air sedikit demi sedikit ke dalam campuran tepung tersebut hingga bisa dibentuk.
- Ambil sebagian adonan tepung, masukkan isian (inti) ke dalamnya, lalu bentuk bulat-bulat memanjang.
Membuat Kuah Santan (Opsional)
Jika detikers ingin mencoba dokok-dokok dengan kuah, berikut cara membuatnya:
- Masak santan bersama dengan larutan tepung beras.
- Proses memasak kuah ini memakan waktu sekitar 30 menit. Selama memasak, kuah harus terus diaduk agar santannya tidak pecah.
- Masukkan daun pandan yang sudah dicuci bersih untuk memberikan aroma wangi pada kuah.
Jadi, jika Anda berkesempatan mengunjungi Kabupaten Mempawah, pastikan Anda mencicipi kue legit sarat sejarah ini. Sebuah gigitan manis yang akan membawa Anda menyelami sejarah panjang harmoni budaya di pesisir Kalimantan Barat!
