Ramainya Suasana Saat Emak-emak Masak Bubur Asyura di Banjarmasin

Kalimantan Selatan

Ramainya Suasana Saat Emak-emak Masak Bubur Asyura di Banjarmasin

Khairun Nisa - detikKalimantan
Kamis, 25 Jun 2026 17:21 WIB
Ramainya Suasana Saat Emak-emak Masak Bubur Asyura di Banjarmasin. (Khairun Nisa)
Foto: Ramainya Suasana Saat Emak-emak Masak Bubur Asyura di Banjarmasin. (Khairun Nisa)
Banjarmasin -

Emak-emak di Jalan Uvaya, Kelurahan Pemurus Baru, Kecamatan Banjarmasin Selatan, Kalimantan Selatan tengah sibuk memasak bubur asyura, Kamis (25/6/2026). Riuh kebersamaan terasa di tengah ibu-ibu mengerjakan tugasnya masing-masing.

Seperti diketahui, memasak bubur asyura di Banjarmasin merupakan tradisi tahunan yang sudah turun temurun. Proses memasak bubur asyura pun dilakukan secara beramai-ramai dengan tetangga maupun keluarga.

Pantauan detikKalimantan, setiap orang punya tugas berbeda. Ada yang memotong sayur, mencuci sayur, menyusun bumbu-bumbu, mencuci beras, kemudian ada pula juru masak bubur asyura.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ramainya Suasana Saat Emak-emak Masak Bubur Asyura di Banjarmasin. (Khairun Nisa)Ramainya Suasana Saat Emak-emak Masak Bubur Asyura di Banjarmasin. (Khairun Nisa)

Mulyati dipercaya sebagai penanggung jawab bagian bubur. Ia menjadi juru masak, sekaligus penakar bumbu untuk bubur asyura. Kendati demikian, peran mengaduk bubur tetap diserahkan kepada ibu-ibu lainnya.

"Karena sekali membuat itu ada tiga wajan besar. Kalau mengaduk sendiri lelah, jadi harus beramai-ramai mengaduknya," kata Mulyati ditemui detikKalimantan.

Proses memasak bubur asyura itu dilakukan di kediaman Mulyati. Rumahnya memang setiap tahun jadi titik kumpul untuk pembuatan bubur asyura.

Sambil memasak, sesekali diselingi percakapan ibu-ibu membahas berita terkini, hingga lelucon yang terdengar seru. Sambil melupakan sejenak tugas di rumah, perkumpulan yang dilakukan setiap sepuluh muharram itu menjadi momen berharga bagi mereka.

"Semua dilakukan secara gotong royong dan bersama-sama. Sembari bercanda tawa," cerita Mulyati.

Ramainya Suasana Saat Emak-emak Masak Bubur Asyura di Banjarmasin. (Khairun Nisa)Ramainya Suasana Saat Emak-emak Masak Bubur Asyura di Banjarmasin. (Khairun Nisa)

Bubur yang bercita rasa gurih dan berlemak ini diolah dengan campuran 41 macam campuran isian. Proses persiapan bahan dimulai sejak pukul 08.00 Wita, ibu-ibu secara bergantian memotong sayur yang akan dimasukkan ke dalam bubur. Kemudian dilanjut oleh tim cuci sayur, dan dilanjut dengan mencuci beras.

Mulyati mengatakan, kegiatan membubur asyura itu sudah sejak puluhan tahun lalu dimulai. Kini, ia hanya tinggal melanjutkan tradisi yang dimulai oleh nenek-neneknya.

"Alhamdulillah tradisi ini juga diterima masyarakat sini. Jadi kita sangat nyaman untuk melanjutkan tradisinya," ujar Mulyati.

Jika ibu-ibu kebagian memasak, maka menjelang pukul 12.30 Wita, bapak-bapak sekitar pun mulai keluar. Aroma harum dari bubur yang menyeruak, bapak-bapak kebagian untuk mencicipi bubur asyura yang sudah matang.

"Sudah menjadi tradisi selesainya sebelum zuhur. Tetapi ada juga yang selesainya sesudah zuhur, itu untuk wajan kedua dan seterusnya," ungkap Mulyati.

Ramainya Suasana Saat Emak-emak Masak Bubur Asyura di Banjarmasin. (Khairun Nisa)Ramainya Suasana Saat Emak-emak Masak Bubur Asyura di Banjarmasin. (Khairun Nisa)

Posisi makan tiap mangkuk pun mulai diatur. Ibu-ibu memasukkan sendok demi sendok bubur ke dalam mangkok, maupun ke dalam wadah untuk dibawa pulang.

"Untuk bagian penyajian, kita berbagi peran. Ada yang menyendok bubur, ada yang memberi toping ayam dan telur, ada juga yang bagian mengemasnya," tutur Mulyati.

Proses pembagian bubur dilakukan secara bertahap dan dengan sistem estafet. Siapa pun yang melalui rumah tetangga lain, maka akan dititipkan satu porsi bubur untuk diantarkan.

Dengan sistem estafet itu, waktu proses pembagian bubur menjadi lebih efektif dan tidak perlu banyak tenaga. Hingga pukul 16.00 Wita pembagian bubur pun sudah selesai, setiap warga sekitar dipastikan sudah mencicipi bubur asyura tiap 10 Muharram tersebut.

"Kita berharap tradisi ini bisa terus dilanjutkan ke depannya," pungkas Mulyati.




(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads