Ramadan Tiba, Halaman Masjid Raya Mujahidin Pontianak Jadi Arena 'War Takjil'

Langkah Emas Raih Kemenangan

Ramadan Tiba, Halaman Masjid Raya Mujahidin Pontianak Jadi Arena 'War Takjil'

Ocsya Ade CP - detikKalimantan
Sabtu, 21 Feb 2026 17:02 WIB
Warga berburu takjil di pasar juadah Masjid Raya Mujahidin Pontianak.
Warga berburu takjil di pasar juadah Masjid Raya Mujahidin Pontianak. Foto: Ocsya Ade CP/detikKalimantan
Pontianak -

Pasar Juadah di halaman Masjid Raya Mujahidin, Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) kembali hadir saat Ramadan. Lebih dari sekadar tempat 'war takjil' alias berburu santapan buka puasa, suasana sore di sana memancarkan wajah toleransi yang hidup di tengah masyarakat.

Sejak pukul 14.00 WIB, lapak-lapak pedagang di bawah tenda sudah dijejali pembeli. Di sisi lain, payung-payung terbuka, antrean mengular, dan aroma aneka takjil menguar di udara. Warga tampak antusias memilih hidangan terbaik untuk berbuka puasa.

Tak hanya umat muslim yang membeli hidangan untuk persiapan berbuka puasa, warga nonmuslim pun tampak antusias memilih aneka jajanan tradisional yang hanya ramai saat Ramadan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah seorang pedagang, Selfi (23), mengaku sudah bersiap dagangannya sejak pagi. Warga Sungai Raya Dalam itu mulai berkemas di lapak pukul 11.00 WIB.

"Pengunjung mulai datang sekitar jam satu. Pengunjung dari berbagai kalangan dan lintas agama," ujarnya, Sabtu (21/2/2026).

Selfi merupakan satu dari 108 pedagang yang telah membuka lapak. Sejak beberapa tahun terakhir, Selfi sudah berjualan di pasar juadah tersebut. Ia menjajakan kue titipan, sebagian dibuat langsung oleh keluarganya di rumah. Di awal Ramadan kali ini, ia mengaku penjualannya cukup menggembirakan.

"Di awal-awal puasa memang selalu penuh pembeli," jelasnya.

Warga nonmuslim yang turut meramaikan pasar juadah ini salah satunya adalah Daniel (34). Warga Pontianak Barat ini mengaku setiap tahun selalu datang berburu takjil.

"Saya memang tidak puasa, tapi suka suasananya. Banyak pilihan makanan tradisional yang jarang ada di hari biasa. Sekalian beli untuk teman-teman kantor yang puasa," ujarnya.

Menurut Daniel, pasar juadah menjadi ruang kebersamaan lintas agama di Kota Pontianak. Ia menilai momen Ramadan justru memperlihatkan kerukunan warga yang saling menghargai.

"Ini sudah jadi budaya kota. Kita datang, beli, ngobrol sama pedagang. Semua cair saja," katanya.

Warga berburu takjil di pasar juadah Masjid Raya Mujahidin Pontianak.Warga berburu takjil di pasar juadah Masjid Raya Mujahidin Pontianak. Foto: Ocsya Ade CP/detikKalimantan

Pembeli nonmuslim lainnya, Maria (41), warga Purnama, Pontianak Selatan, juga mengaku sengaja datang lebih awal agar tidak kehabisan menu favorit keluarganya.

"Anak-anak saya suka kolak dan risoles di sini. Ramadan itu identik dengan makanan khas yang cuma muncul setahun sekali. Jadi kami ikut meramaikan," katanya.

Ibu tiga anak ini menilai pasar juadah menjadi simbol toleransi yang hidup di Pontianak. Menurutnya, momen Ramadan justru memperlihatkan kehangatan antarwarga tanpa memandang latar belakang agama.

"Kita datang bukan soal agama, tapi soal kebersamaan. Teman-teman saya yang puasa juga sering berbagi. Jadi suasananya terasa saling menghargai, rasanya saling menguatkan. Kita hidup berdampingan dengan nyaman," tambahnya.

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menyambut positif geliat ekonomi yang tampak di berbagai titik pasar juadah, termasuk di Masjid Raya Mujahidin. Ia pun menilai pasar juadah bukan hanya ruang transaksi ekonomi, tetapi juga simbol kebersamaan warga lintas agama.

"Kita bersyukur karena kegiatan ini sudah menjadi tradisi setiap Ramadan. Halaman Masjid Raya Mujahidin yang luas dimanfaatkan untuk pasar juadah, dan ini bagian dari syiar ekonomi kerakyatan agar UMKM bisa bangkit," kata Edi.

Ia menyebut pasar juadah tersebar di enam kecamatan di Pontianak dan selalu dipadati masyarakat dari berbagai latar belakang. Momentum Ramadan, menurutnya, bukan hanya tentang ibadah, tetapi juga kebangkitan ekonomi rakyat serta menjadi momentum memperkuat harmoni sosial.

"Pasar juadah ini menunjukkan semangat masyarakat dalam mengambil berkah Ramadan. Tidak hanya soal ibadah, tapi juga kebersamaan dan toleransi," pungkasnya.

Meski begitu, Edi mengingatkan para pedagang untuk tetap menjaga kualitas sajian. Kebersihan dan kesehatan makanan harus menjadi prioritas agar keberkahan Ramadan tak hanya dirasakan dari sisi keuntungan, tetapi juga keselamatan konsumen.

"Pasar juadah ini menunjukkan semangat masyarakat dalam mengambil berkah Ramadan. Kita ingin ini berjalan tertib, bersih, dan aman," pungkasnya.

Warga berburu takjil di pasar juadah Masjid Raya Mujahidin Pontianak.Warga berburu takjil di pasar juadah Masjid Raya Mujahidin Pontianak. Foto: Ocsya Ade CP/detikKalimantan

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Belajar Menarikan Tarian Khas dari Sanggar Seni di Singkawang"
[Gambas:Video 20detik]
(bai/bai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads