Menunggu waktu berbuka puasa sambil berjalan-jalan sore di kota menjadi momen yang ditunggu selama Ramadan. Di Banjarmasin dan Banjarbaru, ada banyak spot buat ngabuburit dan berburu takjil.
Kedua kota yang letaknya berdekatan ini, punya banyak spot menarik mulai dari kawasan tepi sungai yang sejuk hingga pusat jajanan yang hidup setiap Ramadan. Berikut ulasannya, dirangkum oleh tim detikKalimantan.
5 Rekomendasi Tempat Ngabuburit dan War Takjil di Banjarmasin-Banjarbaru
Nah detikers, ada beberapa rekomendasi tempat ngabuburit atau basambang di Banjarmasin dan Banjarbaru yang bisa kamu kunjungi. Selagi menunggu waktu azan magrib untuk buka puasa, kamu bisa menghabiskan waktu di tempat-tempat berikut untuk berjalan-jalan dan berburu takjil:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Taman Siring 0 Kilometer, Banjarmasin
Lokasinya ada di Jalan Jenderal Sudirman, Antasan Besar, Kecamatan Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, tepat di depan Masjid Raya Sabilal Muhtadin). Letaknya yang strategis membuat taman ini mudah diakses, bahkan menjadi titik awal wisata sungai menuju berbagai destinasi lain, termasuk Menara Pandang.
Taman Siring 0 Kilometer, yang juga dikenal sebagai Siring Sungai Martapura, merupakan ikon wisata utama sekaligus titik nol Kota Banjarmasin. Tempat ini merupakan jalur pedestrian yang berdampingan langsung dengan Sungai Martapura.
Ruang terbuka hijau tersebut nyaman digunakan untuk bersantai. Di dalamnya terdapat Monumen 0 Kilometer, simbol pusat kota yang menjadi spot foto favorit wisatawan.
Di area siring ini dibuka Pasar Wadai Banjarmasin. Di sini terdapat banyak UMKM yang menjajakan kudapan terbaik buat sajian buka puasa. Sebut saja seperti asinan, aneka wadai atau kue khas Banjar, dan masih banyak lagi.
2. Taman Mawar (Lansia), Banjarbaru
Taman ini terletak di Jalan Mawar, Loktabat Utara, Kecamatan Banjarbaru Utara, Kota Banjar Baru, Kalimantan Selatan. Taman ini biasa digunakan warga untuk tempat nongkrong dan bermain di area terbuka.
Taman ini punya banyak fasilitas bermain seperti perosotan dan ayunan, peralatan olahraga, hingga jalan setapak berbatu untuk melatih syaraf kaki. Di sekitar taman, saat memasuki waktu sore hari bakal banyak pedagang kaki lima berjualan.
Tak jauh dari situ, yakni di Jalan Pangeran Suriansyah (depan SMK), lebih banyak lagi pedagang kaki lima berjualan. Pas untuk ngabuburit sambil berburu takjil!
3. Area Jalan Kelayan, Banjarmasin
Titiknya ada di Jalan Kelayan A, Murung Raya, Kecamatan Banjarmasin Selatan, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Di sini menjadi titik ngabuburit yang sering disesaki warga setempat untuk berburu takjil.
Banyak pedagang wadai Banjar dan aneka jajanan lainnya untuk disantap berbuka puasa. Sebut saja seperti amparan tatak, bingka, dan masih banyak lagi yang rasanya lezat dan harganya pun murah.
Selain itu, jalan Kelayan identik dengan Taman Kelayan yang merupakan transformasi dari kawasan kumuh area Teluk Kelayan, Banjarmasin. Selain itu, jalan Kelayan juga dekat dengan salah satu pusat perbelanjaan. Kalau ingin ngadem, kamu bisa mampir ke Ramayana di area sentra Pasar Antasari.
Nah itulah tadi penjelasan tentang istilah basambang di Kalimantan Selatan, lengkap dengan rekomendasi tempat basambang di Banjarmasin dan Banjarbaru. Semoga membantu!
4. Pasar Wadai Ramadan Pelataran Banua, Banjarbaru
Di Banjarbaru ada tempat ngabuburit sekaligus berburu takjil di area hutan pinus. Letaknya ada di Hutan Cemara Landasan Ulin di Jl A. Yani KM. 29, Guntung Manggis, Banjarbaru.
Pasar wadai tersebut dibuka pada tanggak 21 Februari-16 Maret 2026. Selain aneka stan UMKM yang menjajakan takjil, ada beragam kegiatan seperti live music religi, festival anak soleh, playground kids, hingga festival Tanglong & bagarakan sahur.
5. Wisata Kelotok di Sungai, Banjarmasin
Menyusuri sungai menggunakan kelotok (perahu bermesin). Foto: ANTARA FOTO/BAYU PRATAMA S |
Ngabuburit sambil menikmati suasana alam pasti seru. Menikmati warna langit saat masuk senja sambil melintasi aliran sungai, bisa jadi kegiatan yang luar biasa.
Di Banjarmasin tepatnya area Siring Titik Nol Banjarmasin, jadi titik transit kelotok. Kamu bisa naik perahu kayu tradisional ini, melintasi Sungai Martapura.
Kamu bisa menyewa kelotok yang biasanya mangkal dari Sungai Lulut. Kelotok bakal mengangkut penumpang pulang-pergi ke Dermaga Sungai Lulut, dengan rute Pengambangan, Banuanyar, Sungai Jingah, Kampung Hijau, lalu transit di Siring Menara Pandang atau Patung Bekantan selama 45 menit, kemudian putar balik di Jembatan Dewi Pemko. Adapun biayanya untuk anak 6-10 tahun Rp 30 ribu dan dewasa Rp 50 ribu per orang.
Sekilas soal Penyebutan Ngabuburit di Banjar
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ngabuburit dirujuk dari kata mengabuburit, artinya menunggu azan magrib jelang berbuka puasa pada waktu Ramadan. Istilah ngabuburit yang populer di Indonesia ini sejatinya diambil dari Bahasa Sunda 'burit' yang berarti sore atau petang.
Namun di Kalimantan Selatan, khususnya dalam bahasa Banjar, ngabuburit biasa disebut basambang. Istilah ini menjadi bagian dari kekayaan bahasa dan budaya Banjar yang lekat dengan suasana Ramadan.
Basambang artinya aktivitas menunggu azan magrib berkumandang. Di dalamnya terkandung makna kebersamaan, kebudayaan, sekaligus identitas lokal masyarakat Banjar. Kata ini lahir dari akar bahasa yang menggambarkan suasana langit jingga saat senja, momen yang identik dengan BeritaKlik-BeritaKlik menjelang berbuka puasa.
Dirangkum dari laman LP2M UIN Antasari dan literatur di media sosial lainnya, istilah basambang belum lama ini dikenalkan oleh para budayawan Kalimantan Selatan.
Basambang memiliki makna yang sama dengan ngabuburit, yaitu menunggu azan magrib, terutama saat Ramadan. Basambang merujuk pada kegiatan berjalan-jalan atau bersantai di waktu senja menjelang berbuka.
Dr Mukhlis Maman dkk lah yang memperkenalkan kata basambang, diambil dari istilah sambang-simambang, artinya menunggu langit berwarna jingga waktu senja. Usulan kata ini datang dari kegelisahan orang Banjar yang merasa kurang nyaman mendengar kata ngabuburit.
Terdapat perbedaan arti 'burit' dalam bahasa daerah di Kalimantan. Dalam bahasa Banjar, burit memiliki arti pantat. Sehingga sastrawan Banjar berusaha menggali lagi kekayaan kosakata bahasa Banjar, dan ditemukanlah istilah basambang.
Sekadar diketahui, Bahasa Banjar adalah bahasa daerah khas masyarakat Suku Banjar. Penuturnya tidak hanya dituturkan oleh suku Banjar, tetapi juga oleh suku Dayak, Riau, Jambi dan sejumlah daerah di pesisir Sumatera.
Nah, itulah tadi rekomendasi tempat ngabuburit dan berburu takjil di Banjarmasin dan Banjarbaru. Semoga membantu!
Simak Video "Berenang di Danau Seran Sambil Menikmati Keindahan Alam Kalimantan Selatan "
[Gambas:Video 20detik]
(aau/bai)
