Di tengah hiruk pikuk Kota Banjarmasin yang dikenal sebagai Kota Seribu Sungai, berdiri sebuah masjid bersejarah yang menjadi bagian penting dari perjalanan dakwah Islam di daerah tersebut. Masjid Jami Banjarmasin bukan hanya sekadar tempat ibadah, tetapi juga saksi bisu perkembangan kehidupan religius masyarakat Banjar dari masa ke masa.
Keberadaan masjid ini memiliki nilai historis yang kuat karena telah berdiri sejak masa lampau, jauh sebelum Banjarmasin berkembang menjadi kota besar seperti sekarang.
Masjid Jami berlokasi di Jalan Mesjid Jami No.40, RT.1, Sungai Jingah, Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Letak masjid yang tidak jauh dari aliran Sungai Martapura juga mencerminkan karakter khas Banjarmasin sebagai kota yang tumbuh dan berkembang di sekitar jaringan sungai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejarah Masjid Jami Banjarmasin
Masjid Jami Banjarmasin. Foto: (Laman MMC Kalimantan Selatan) |
Dikutip dari buku Sejarah Dakwah Islam di Kalimantan (Studi Pendekatan dan Jaringan) oleh Dr H.M. Tahir, sejarah Masjid Jami Banjarmasin tak lepas dari pengaruh Syekh Arsyad al-Banjari dan sebagian keturunannya yang menyebarkan Islam di wilayah tersebut.
Adanya sejumlah masjid bersejarah di Kalimantan Selatan, kemungkinan tidak terlepas dari peran mereka. Dibangun salah satunya Masjid Jami Banjarmasin untuk membantu dakwah keturunan dan murid Abah Guru Sekumpul.
Selain itu ada pula masjid lainnya yang dibangun di era itu, sebut saja Masjid Sultan Suriansyah, Masjid Palajau Barabai, Masjid Sungai Banar Alabio, Masjid Pusaka Banua Lawas dan Masjid Pusaka Puain Tanjung-Tabalong. Beberapa tokoh masyarakat Dayak Maanyan yang telah masuk Islam juga ikut membantu membangun masjid-masjid tersebut.
Pada laman Badan Amil Zakat Nasional Kalimantan Selatan (Baznas Kalsel), dijelaskan Masjid Jami Banjarmasin atau yang lebih dikenal dengan Masjid Sungai Jingah dibangun pada tahun 1777.
Diketahui Masjid Jami didirikan pada hari Sabtu tanggal 17 Syawal 1195 Hijriah atau bertepatan pada 1777 masehi. Masjid Jami Banjarmasin menjadi masjid tertua kedua di Banjarmasin.
Masjid Jami Banjarmasin menjadi masjid pertama dibangun sekitar tahun 1777-1780 Masehi pada masa pemerintahan Pangeran Tamjidillah.
Masjid ini memiliki 41 pintu masuk untuk memudahkan jamaah menuju ruang utama yang mampu menampung sekitar 5.000 orang. Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, Masjid Jami Banjarmasin juga dilengkapi berbagai fasilitas pendidikan dan sosial.
Di kompleks masjid ini terdapat Taman Kanak-kanak, Pondok Pesantren Hunafa yang berdiri sejak 1985, serta Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Jami yang berdiri pada 1989. Fasilitas lainnya meliputi tempat wudu, ruang pemandian jenazah, serta berbagai sarana pendukung kegiatan keagamaan.
Bahkan masjid ini juga memiliki lahan pemakaman di daerah Gambut, Kabupaten Banjar, dengan kapasitas sekitar 375 liang kubur. Selain itu, terdapat pula Taman Pendidikan Al-Qur'an yang dikelola oleh Angkatan Muda Masjid Jami.
Arsitektur Masjid Jami Banjarmasin
Masjid Jami Banjarmasin. Foto: (Laman MMC Kalimantan Selatan) |
Masjid Jami Banjarmasin berarsitektur Banjar dan kolonial (indish), dengan bahan dasar kayu ulin. Masjid Jami Banjarmasin dikenal juga sebagai Masjid Jami Sungai Jingah.
Bangunan Masjid Jami yang ada sekarang didirikan pada tahun 1352 Hijriah atau sekitar tahun 1934 Masehi. Pemindahan masjid dilakukan karena lokasi lama yang berada di tepi sungai dianggap rawan longsor.
Selain itu, kapasitas masjid lama sudah tidak mampu menampung jumlah jamaah yang terus meningkat. Oleh karena itu, pada tahun 1932 masjid dipindahkan ke lokasi yang sekarang, sekitar 200 meter dari Sungai Martapura.
Proses pembangunan kembali masjid dilakukan secara swadaya oleh masyarakat. Konon perancangan konstruksi masjid juga melibatkan Ir Pangeran Muhammad Noor, hingga akhirnya pembangunan masjid selesai pada tahun 1934.
Masjid ini memiliki arsitektur perpaduan ornamen kesultanan Banjar, Jawa dan beberapa sentuhan Belanda yang masih kokoh berdiri. Warna hijau mendominasi bangunan sebagai ciri khasnya.
Bangunan di Masjid Jami terbilang filosofis, misalnya tiang-tiang utama yang ada dalam masjid berjumlah 17, sebagai simbol jumlah rakaat shalat 5 waktu.
Atap dari kubah yang ada di dalam masjid juga di buat berjenjang 5 melambangkan rukun islam yang berjumlah demikian. Di antara susunan atap tersebut terdapat dinding pembatas yang dilengkapi jendela mengelilingi bangunan.
Pada bagian barat ruang utama terdapat mihrab yang dilengkapi empat pintu dan sepuluh jendela. Di area ini juga terdapat mimbar dari kayu ulin berbentuk panggung dengan tujuh anak tangga berukuran sekitar 3,5 x 1,3 meter.
Mimbar tersebut dicat dengan warna dasar hitam dan menjadi salah satu bagian bersejarah yang masih dipertahankan sejak awal pembangunan masjid.
Kini, Masjid Jami Banjarmasin tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat kegiatan dakwah dan pendidikan Islam bagi masyarakat Banjarmasin dan sekitarnya.
(aau/aau)

