Panen buah lokal di Kecamatan Krayan Selatan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara melimpah dan membawa berkah. Lewat ajang Wisata Panen & Cita Rasa Buah Lokal Krayan Selatan yang digelar 9-31 Maret 2026, kawasan perbatasan ini sukses menarik perhatian wisatawan, bahkan hingga ke negara tetangga, Malaysia.
Camat Krayan Selatan, Oktavianus Ramli, menyebut antusiasme pengunjung sangat tinggi sejak ajang ini diluncurkan. Wisatawan diajak untuk menginap di homestay rumah warga dan membaur langsung dengan masyarakat di 13 desa yang terbagi dalam dua lokus utama, yakni Long Layu (8 desa) dan Tang Laan (5 desa).
"Sejak peluncuran kemarin, memang banyak peminat ke sini. Kita arahkan mereka ke homestay, jadi istilahnya seperti kunjungan keluarga. Mereka berbaur dengan masyarakat, ikut kegiatan ke kebun buah, ke mana mereka suka," ujar Oktavianus kepada detikKalimantan, Sabtu (14/3/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yang membuat wisatawan rela jauh-jauh datang ke Krayan Selatan adalah varietas buah lokalnya yang eksotis, tua, dan belum mengalami persilangan genetika (hybrid). Oktavianus menjelaskan ada beberapa jenis durian langka yang menjadi incaran utama yakni Durian Kuning dan Durian Balung.
"Kalau durian kuning dagingnya tebal, satu biji saja sudah bikin kenyang. Untuk durian Balung ini berkulit hijau yang ukurannya sangat besar bak keranjang pengeram ayam (balung)," ceritanya.
"Durian Ubi ini tidak pernah lembek seperti durian biasa. Kalau dimakan teksturnya seperti ubi mentah, tapi rasanya manis. Ini durian-durian peninggalan nenek moyang, sudah ada sejak saya lahir, dan belum tentu ada di wilayah Krayan lainnya," imbuhnya.
Keaslian buah inilah yang menjadi daya tarik utama bagi turis asal Malaysia. Melalui grup WhatsApp keluarga lintas negara, informasi wisata panen ini menyebar cepat.
"Kalau komentar mereka dari Malaysia, buah di sana kebanyakan sudah silang atau perkawinan varietas. Kalau di sini kan asli peninggalan dulu, tidak ada campur-campur. Jadi selain berwisata menikmati buah, momen ini juga jadi ajang pulang kampung dan reuni keluarga," tambah Oktavianus.
Kondisi jalan yang rusak parah dan rute penerbangan yang sangat terbatas (hanya satu kali ke Krayan Selatan) membuat kunjungan wisata dan distribusi buah tidak bisa maksimal. Oktavianus tak menampik banyak wisatawan yang mengurungkan niat setelah mengetahui sulitnya akses menuju lokasi.
"Sebenarnya banyak pemborong buah dari Malaysia yang sudah menghubungi kita. Mereka mau bawa buah ini langsung ke Lawas, Malaysia. Tapi kembali lagi, masalahnya di akses jalan yang lumayan rusak. Kalau jalan ini bagus, pasti akan jauh lebih banyak orang dan perputaran ekonomi yang masuk ke sini," pungkasnya.
(sun/aau)