Di Kalimantan Selatan, detikers bisa menemukan satu wisata unik yang hampir tidak bisa ditemukan di tempat lain. Di mana kerbau-kerbau bisa berenang dengan stabil dalam waktu yang lama.
Tanah Kalimantan memang didominasi rawa. Di Kalimantan Selatan sendiri, Badan Pusat Statistik pada 2023 mencatat sebesar 66% wilayahnya merupakan rawa.
Karena itulah, kehidupan di sini banyak berlangsung di atas air, dari aktivitas masyarakat sampai ekosistemnya, semua menyesuaikan dengan kondisi rawa, termasuk juga kerbau rawa Amuntai. Mereka berenang, mencari makan, bahkan menjalani sebagian besar hidupnya di dalam air. Di sini, detikers bisa melihat pemandangan ratusan kerbau yang mengapung di permukaan danau, saat matahari terbit atau tenggelam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Habitat Unik di Danau Panggang
Kerbau yang hidup di kawasan ini dikenal sebagai kerbau rawa Amuntai dengan nama ilmiah Bubalus bubalis carabanensis. Mereka termasuk dalam kelompok kerbau air yang memang secara alami memiliki kemampuan beradaptasi dengan lingkungan basah seperti rawa, sungai, dan danau.
Berbeda dengan kerbau darat yang lebih sering berada di padang rumput, kerbau rawa justru menjadikan air sebagai bagian utama dari kehidupannya. Tubuh mereka dirancang untuk kondisi tersebut, mulai dari kemampuannya untuk berenang jarak jauh, bertahan lama di dalam air, dan cara bergerak yang unik saat mengapung.
Habitat mereka di Danau Panggang, terletak di Kota Amuntai, ibu kota dari Kabupaten Hulu Sungai Utara. Daerah ini sering dijuluki sebagai 'Negeri di Atas Air' karena sekitar 70% wilayahnya berupa rawa. Danau Panggang sendiri merupakan salah satu ekosistem rawa terbesar di Kalimantan Selatan, luasnya mencapai sekitar 38.000 hektare.
Adaptasi Kerbau Rawa
Kemampuan kerbau rawa untuk hidup di lingkungan perairan adalah hasil dari adaptasi yang berlangsung lama. Mereka memiliki naluri alami untuk menjadikan air sebagai tempat beraktivitasnya.
Kerbau-kerbau ini bisa berenang dengan stabil dalam waktu yang lama. Bahkan saat bergerak di air, mereka sering memiringkan tubuhnya. Ini adalah teknik yang digunakan untuk membantu menjaga keseimbangan. Tidak jarang mereka terlihat hanya menampakkan kepala di permukaan, sementara sebagian besar tubuhnya terendam.
Yang lebih menarik, sumber makanan utama mereka juga berasal dari air. Mereka mengonsumsi berbagai tanaman air seperti kangkung air, eceng gondok, serta kumpai. Ketika terdesak, kerbau rawa bahkan bisa menyelam untuk mengambil makanan dari dasar perairan.
Karena ketersediaan pakan melimpah di alam, peternak hampir tidak perlu memberi makan tambahan. Hal inilah yang membuat sistem peternakan kerbau rawa sebagai salah satu bentuk peternakan yang sangat bergantung pada keseimbangan ekosistem alami.
Secara morfologi, kerbau rawa memiliki ciri khas yang membedakannya dari kerbau darat. Tanduknya cenderung lebih panjang, tubuhnya kekar dengan lingkar dada lebar, dan warna kulitnya sering terlihat abu-abu kecokelatan karena lumpur rawa yang menempel.
Sistem Peternakan Tradisional
Salah satu hal yang juga menarik dari kerbau rawa Danau Panggang adalah sistem pemeliharaannya yang masih sangat tradisional. Kerbau-kerbau ini bukan hewan liar. Mereka memiliki pemilik yang biasanya diberi tanda khusus di telinga.
Peternak menggunakan sistem kandang yang disebut kalang, yaitu kandang yang dibangun di tengah rawa atau danau menggunakan kayu ulin yang tahan air. Satu kalang bisa menampung hingga 100-200 ekor kerbau.
Rutinitas harian kerbau juga sangat teratur. Pada pagi hari, sekitar pukul 07.00, kerbau dilepas dari kalang dan langsung berenang mencari makan. Sepanjang siang, mereka menghabiskan waktu di air, baik untuk makan maupun sekadar berendam di kedalaman yang bisa mencapai 2-3 meter.
Menjelang sore, kerbau-kerbau ini akan kembali ke kandang masing-masing secara alami, tanpa perlu diarahkan oleh pemiliknya. Dan hebatnya lagi, kerbau-kerbau itu sudah tau di mana kandang mereka, jarang sekali yang terlihat 'salah alamat'. Peternak biasanya hanya mengawasi dari atas perahu kecil di sekitar.
Dalam bereproduksi, kerbau rawa juga memiliki polanya sendiri. Induk biasanya melahirkan sekitar dua kali dalam kurun 2,5 tahun. Anak kerbau lahir dengan berat sekitar 24-31 kg dan bisa mencapai 150-200 kg dalam satu tahun. Namun, anak yang masih kecil biasanya belum dilepas ke air sepenuhnya dan dirawat di kandang.
Sistem pemeliharaan ini juga menyesuaikan musim. Saat musim hujan, kerbau lebih banyak berada di air, sedangkan saat kemarau dan air surut, mereka mulai berpindah ke area padang rumput yang muncul.
Daya Tarik Wisata Kerbau Rawa Danau Panggang
Selain menjadi bagian dari budaya dan ekosistem di sekitar Danau Panggang, kerbau rawa juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi bagi masyarakat setempat. Harga seekor kerbau bisa mencapai puluhan juta Rupiah, sekitar Rp 25 juta untuk betina dan Rp 16 juta untuk jantan, tergantung ukuran dan kondisi.
Permintaan biasanya meningkat pada momen-momen tertentu seperti Idul Adha, Idul Fitri, dan Maulid Nabi. Dalam satu musim, penjualan bisa mencapai ribuan ekor.
Tidak berhenti di situ, dalam beberapa tahun terakhir, Danau Panggang juga berkembang sebagai destinasi wisata. Wisatawan datang untuk melihat langsung kehidupan kerbau di air, inilah sesuatu yang hampir tidak bisa ditemukan di tempat lain.
Dengan menggunakan perahu tradisional seperti kelotok, pengunjung bisa menyusuri danau dan menyaksikan kawanan kerbau berenang bebas. Waktu terbaik untuk menikmati pemandangan ini adalah saat matahari terbit atau terbenam.
Tidak berlebihan jika tempat ini disebut sebagai salah satu hidden gem wisata di tanah Borneo yang menyatukan air, kehidupan, dan ekosistem yang masih terjaga.
Jika berkunjung ke Kalimantan Selatan, jangan lupa mampir menyapa kawanan kerbau-kerbau di Danau Panggang, ya, detikers!