Kalimantan Tengah (Kalteng) menyimpan sebuah lanskap eksotis tentang keindahan sungai. Kawasan di ujung Kota Palangka Raya memikat hati lewat pesona airnya yang gelap sepekat tinta.
Inilah Dermaga Kereng Bangkirai di Kelurahan Sebangau, sebuah mahakarya alam di mana kelamnya air rawa gambut justru bertindak layaknya cermin raksasa yang memantulkan keindahan langit, siluet pepohonan, dan perahu-perahu tradisional yang melintas membelah ketenangan.
Simak artikel ini untuk mengetahui lebih jauh tentang wisata air hitam Dermaga Kereng Bangkirai, mulai dari sejarah, aktivitas dan daya tarik, hingga panduan wisatanya, dirangkum dari situs DJKN serta Instagram dan website Disparbudpora Palangka Raya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari Pelabuhan Sibuk Hingga Ikon Ekowisata
Dulunya, kawasan ini merupakan pelabuhan bongkar muat yang sangat sibuk untuk barang-barang dari Jawa, mulai dari bawang, mangga, hingga sapi dan semen. Namun, pasca kerusuhan sekitar tahun 2002, aktivitas pelabuhan ini sempat mati suri.
Alih-alih dibiarkan terbengkalai, warga setempat yang kreatif menyulapnya. Tempat ini sempat beralih fungsi menjadi pusat latihan atlet dayung, bahkan pernah menjadi lokasi penyelenggaraan Kejuaraan Nasional Dayung.
Sisa-sisa kejayaan olahraga ini masih bisa dilihat dari keberadaan tribun dan pondok-pondok kecil di sekitar sungai. Kini, dikelola dengan baik oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat, dermaga ini bertransformasi menjadi objek ekowisata unggulan yang dikelilingi warung dan rumah apung warga.
Foto: Wisata air hitam Dermaga Kereng Bangkirai, Palangka Raya. (dok Disparbudpora Palangka Raya) |
Air Hitam dan Keanekaragaman Hayati
Daya tarik utama tempat ini tentu saja air sungainya yang berwarna hitam pekat. Warna gelap ini merupakan hasil alami dari ekosistem rawa gambut yang kaya. Meski berwarna hitam, airnya sangat jernih, bersih, menyegarkan, dan aman.
Sebagai pusat pendidikan lingkungan hidup dan lokasi penelitian gambut, kawasan ini menawarkan keanekaragaman hayati yang luar biasa. Saat menyusuri sungai, Anda akan dimanjakan oleh:
- Hutan Rasau: Gugusan tanaman pandan liar yang tumbuh subur menghijau.
- Fauna Endemik: Kesempatan melihat langsung satwa liar seperti burung rangkong, bekantan, hingga biawak yang sesekali menampakkan diri, diiringi harmoni suara burung-burung di alam bebas.
Aktivitas dan Wahana Seru
Dermaga Kereng Bangkirai menawarkan pengalaman yang memadukan relaksasi dan petualangan. Dengan tarif wahana yang sangat terjangkau, yakni berkisar Rp 5.000 hingga Rp 30.000, pengunjung bisa menikmati berbagai aktivitas dan wahana:
- Susur Sungai: Nikmati ketenangan hutan gambut menggunakan perahu kelotok atau getek tradisional.
- Pondok Terapung (Rumah Apung): Wahana favorit wisatawan dengan tarif sekitar Rp10.000 per 30 menit, di mana detikers bisa bersantai, ngopi, atau bahkan berkaraoke sambil menikmati riak air hitam.
- Wahana Air Santai: Tersedia sepeda bebek air dan bebek mesin untuk Anda yang ingin berkeliling di sekitar dermaga.
- Petualangan ke Batu Ampar: Perjalanan menyusuri sungai yang cukup menegangkan selama 30 menit menggunakan perahu berkapasitas 5 orang. Sesampainya di Batu Ampar, Anda akan disambut hamparan lahan berumput hijau dan bukit-bukit yang sempurna untuk area berfoto bersama keluarga.
- Menara Pandang & Jembatan Selfie: Spot foto instagramable yang siap membuat feed media sosial Anda semakin estetik.
Panduan dan Aksesibilitas
Lokasi wisata ini sangat strategis dan mudah dijangkau, yakni di Kereng Bangkirai, Kecamatan Sebangau, Kota Palangka Raya, Kalteng. Dari pusat kota Palangka Raya, jaraknya hanya sekitar 11-12,5 km atau sekitar 20-30 menit berkendara.
Fasilitas yang disediakan pun sangat memadai untuk kenyamanan pengunjung:
- Area parkir yang luas.
- Toilet dan kamar mandi yang bersih.
- Musala untuk beribadah.
- Gazebo untuk duduk bersantai.
- Deretan warung yang menjajakan kuliner lokal dan toko suvenir.
- Penginapan sederhana di sekitar lokasi.
Tips Berkunjung
Tempat wisata ini buka setiap hari mulai pukul 08.00-18.00 WIB. Harga tiket masuknya Rp 5.000 per orang. Sangat disarankan untuk datang pada pagi hari atau sore hari. Selain menghindari terik matahari, kunjungan di sore hari menawarkan pemandangan sunset yang romantis, di mana semburat cahaya matahari tenggelam berpadu dengan aktivitas nelayan lokal yang sedang memancing.
