Di tengah banyaknya moda transportasi modern, masyarakat Kalimantan masih memiliki alat transportasi tradisional yang masih bertahan, yaitu kelotok. Perahu bermotor ini telah lama digunakan untuk menyusuri sungai-sungai yang membentang.
Kehadirannya bukan hanya sebagai sarana perjalanan, tetapi juga menjadi simbol budaya yang lekat dengan kehidupan masyarakat tepian sungai. Bagi warga Kalimantan, sungai memiliki peran besar sebagai jalur penghubung antardaerah.
Kelotok berkembang sebagai alat transportasi yang praktis dan sesuai dengan kondisi geografis setempat. Sejak dahulu, perahu ini digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari bepergian, mengangkut barang, hingga aktivitas perdagangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengenal Kelotok
Wisatawan berfoto di atas kelotok Foto: detik |
Kelotok merupakan perahu bermotor yang banyak dijumpai di sungai-sungai wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Perahu ini menggunakan mesin berbahan bakar diesel atau solar.
Nama 'kelotok' berasal dari bunyi khas mesin diesel yang digunakan, yaitu suara "tok-tok-tok" saat kapal bergerak. Kelotok umumnya dibuat dari kayu ulin, material yang dikenal kuat dan tahan terhadap air maupun iklim tropis.
Bentuk perahunya memanjang dengan bagian depan yang meruncing, sehingga memudahkan pergerakan di aliran sungai. Ukurannya pun beragam, mulai dari perahu kecil untuk beberapa penumpang hingga kapal yang mampu membawa rombongan dalam jumlah lebih besar.
Satu kelotok ukuran kecil mampu menampung delapan orang penumpang. Pada kelotok yang digunakan untuk wisata, biasanya tersedia berbagai fasilitas tambahan seperti atap pelindung, tempat duduk atau tikar, kamar tidur sederhana, dapur kecil, hingga toilet.
Pada masa lalu, kelotok menjadi sarana transportasi utama sebelum berkembangnya jalur darat. Kini selain untuk mobilitas, kelotok juga dimanfaatkan sebagai alat berdagang oleh masyarakat yang tinggal di sepanjang sungai.
Kelotok masih berperan penting dalam kehidupan masyarakat Kalimantan, terutama di Banjarmasin yang dikenal sebagai Kota Seribu Sungai.
Sejarah Singkat Kelotok
Kelotok. (laman MMC Palangka Raya) |
Dirangkum dari laman Desa Galinggang Kalteng, sejak masa kolonial Belanda, masyarakat Kalimantan telah menggunakan perahu sebagai alat transportasi sungai.
Banjarmasin dikenal sebagai daerah yang sangat dekat dengan sungai dan perairan. Kondisi geografis tersebut membuat transportasi air berkembang pesat, mulai dari jukung, kelotok, hingga berbagai jenis perahu tradisional lainnya yang digunakan masyarakat untuk beraktivitas sehari-hari.
Perkembangan transportasi air semakin maju ketika pada tahun 1954 mulai muncul perahu bermesin yang tidak lagi perlu didayung, yaitu kelotok. Mesin diesel kecil mulai dipasang pada perahu kayu, menjadikannya lebih efisien.
Kelotok atau ces adalah perahu kayu bermesin diesel yang menjadi tulang punggung transportasi sungai di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Dengan sungai-sungai besar seperti Katingan dan Hantipan yang membelah wilayah ini, kelotok berfungsi sebagai sarana vital bagi mobilitas masyarakat, terutama di daerah-daerah yang belum terjangkau infrastruktur jalan darat.
Pedagang membawa hasil bumi berupa sayur dan buah. Foto: detik |
Penggunaan kelotok semakin berkembang dan kini di muara Sungai Kuin, terdapat pasar terapung yang menjadi ciri khas Banjarmasin. Kelotok kini tidak hanya digunakan untuk angkutan penumpang, tetapi juga untuk mengangkut barang dagangan dan hasil bumi, mendukung perekonomian masyarakat pedalaman.
Seiring kemajuan zaman dan hadirnya transportasi darat, penggunaan kelotok sebagai alat transportasi utama mulai berkurang. Kini, kelotok justru menemukan peran baru sebagai sarana wisata yang unik.
Banyak wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, tertarik untuk merasakan pengalaman menyusuri sungai menggunakan perahu ini. Kelotok semakin diminati karena menawarkan pemandangan alam yang indah sekaligus kesempatan untuk melihat kehidupan masyarakat di tepian sungai Kalimantan secara lebih dekat.
Selain sebagai alat transportasi dan wisata, kelotok juga digunakan sebagai pengamatan satwa liar. Pengunjung yang menaiki kapal ini dapat menikmati pengalaman menyusuri sungai di tengah hutan tropis sambil melihat berbagai satwa, seperti monyet, burung, hingga buaya.
(aau/aau)


