Istana Amantubillah Mempawah: Sejarah, Arsitektur, dan Peninggalannya

Istana Amantubillah Mempawah: Sejarah, Arsitektur, dan Peninggalannya

Bayu Ardi Isnanto - detikKalimantan
Senin, 25 Mei 2026 07:01 WIB
Istana Amantubillah, Mempawah, Kalbar. (dok DJKN)
Foto: Istana Amantubillah, Mempawah, Kalbar. (dok DJKN)
Mempawah -

Kalimantan Barat menyimpan warisan budaya dan sejarah yang luar biasa. Salah satu destinasi wisata sejarah yang wajib Anda kunjungi adalah Istana Amantubillah yang berada di Kabupaten Mempawah.

Istana ini menawarkan jejak kejayaan Kesultanan Mempawah yang masih berdiri kokoh dan terawat hingga kini. Nama 'Amantubillah' sendiri diambil dari bahasa Arab yang memiliki makna mendalam, yaitu "Aku beriman kepada Allah".

Ada apa saja di Istana Amantubillah? Simak sejarah, pesona arsitektur, peninggalan bersejarah, jam buka, harga tiket masuk, hingga lokasinya berikut ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menelusuri Sejarah Istana Amantubillah

Dilansir dari buku Seri Pengenalan Budaya Lingkungan Budaya Keraton: Istana Amantubillah Kalimantan Barat (2014) terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, istana bersejarah ini awalnya dibangun pada masa pemerintahan Gusti Jamiril.

Dalam perjalanan sejarahnya, Istana Amantubillah pernah mengalami kebakaran hebat pada tahun 1880 ketika berada di bawah kepemimpinan Gusti Ibrahim. Setelah melalui beberapa tahap renovasi, istana ini akhirnya berdiri kembali dan diresmikan pada tanggal 2 November 1922 pada masa pemerintahan Gusti Muhammad Taufik Akhamaddin.

Saat ini, bangunan utama istana telah dialihfungsikan menjadi sebuah museum yang menyimpan berbagai peninggalan Kesultanan Mempawah.

Pesona Arsitektur Tiga Budaya

Ketika berkunjung ke Istana Amantubillah, detikers akan disambut oleh keindahan arsitektur yang sangat khas. Arsitektur bangunan istana ini merupakan hasil perpaduan yang harmonis dari tiga budaya, yaitu Melayu, Arab, dan Bugis.

Budaya Melayu terlihat dari penggunaan konstruksi rumah panggung dari bahan kayu, yang sengaja dibangun agar terhindar dari air pasang karena lokasinya yang berdekatan dengan sungai. Budaya Bugis hadir karena pengaruh pendiri istana, yakni Opu Daeng Menambon yang berasal dari Kerajaan Luwu, Sulawesi Selatan , sementara unsur Arab/Islam mewarnai corak religius pemerintahan istana ini.

Warna istana ini didominasi hijau muda yang memiliki lambang kemakmuran dan juga identik dengan simbol agama Islam. Di bagian depan, terdapat pintu gerbang istana yang didominasi warna putih sebagai lambang kesucian, dan kuning sebagai lambang kemuliaan para keturunan Sultan.

Di atas gerbang terdapat ukiran mahkota raja yang melambangkan kewibawaan, serta patung ayam jantan bertarung yang menyimbolkan bahwa Sultan adalah sosok pemberani dan petarung sejati dalam menjaga wilayahnya.

Masjid Jami' Keraton Mempawah

Tepat di lingkungan istana, Anda akan menemukan sebuah bangunan ibadah yang sangat penting, yaitu Masjid Jami' Keraton Mempawah. Masjid ini didirikan pada masa pemerintahan Panembahan Muhammad Taufik Akkamadin sekitar tahun 1912.

Masjid ini pernah dipindahkan sebanyak tiga kali dan saat ini berada di Kampung Pedalaman, persis di tepian Sungai Mempawah. Bangunannya berukuran 40 x 30 meter dengan struktur dasar menggunakan kayu besi atau kayu belian.

Keunikan atapnya terletak pada model atap tumpang dua (rabung susun) dengan struktur segi delapan yang menyisip di bagian tengahnya, menjadikannya sangat khas. Didominasi warna hijau dan putih, masjid ini juga menyimpan benda-benda kuno seperti koleksi jam dinding tua dan bedug yang hanya dipukul sebagai penanda waktu salat.

Masjid Jamiatul Khair Keraton Amantubillah Mempawah, Kalbar.Masjid Jamiatul Khair Keraton Amantubillah Mempawah, Kalbar. Foto: dok Pemkab Mempawah

Keunikan Tata Ruang

Di dalam istana utama, detikers bisa melihat lebih dekat bagaimana ruang privat keluarga keraton di masa lampau. Berikut beberapa di antaranya:

Singgasana Tanpa Kursi: Istana Amantubillah tidak memiliki kursi raja. Singgasana sultan berbentuk selayaknya bantal-bantal hamparan yang dihiasi dengan pernak-pernik yang indah. Hal ini menyimbolkan bahwa raja tidak ingin menunjukkan jarak status dan bertujuan agar selalu dekat dengan para pembantunya.

Kamar Tidur Raja: Tempat tidur raja yang berada di ruang sayap kiri masih tersimpan rapi dan terjaga kebersihannya. Tempat tidur ini juga masih dilengkapi dengan penutup kelambu.

Cermin Hadiah Belanda: Di ruangan utama istana, wisatawan juga bisa melihat langsung sebuah cermin besar yang dahulu dihadiahkan oleh Pemerintah Belanda kepada Sultan.

Koleksi Benda Bersejarah

Di tempat ini masih ditemukan benda-benda peninggalan yang bersejarah. Beberapa yang sering dikeluarkan pada acara tradisi keraton adalah sebagai berikut:

Senjata Pusaka: Keraton menyimpan banyak senjata legendaris, seperti Keris dan Tombak Opu Daeng Manambon, Pedang Ranggalawe, Keris Syeh Yusuf, Mandau Panglima Ungie, hingga Pedang Samber Nyowo. Beberapa pusaka istimewa ini bahkan "dimandikan" atau diarak keliling pada prosesi upacara Robo-robo.

Meriam Tiga Sekeluarga: Ada tiga meriam pusaka unik di keraton ini, yakni Meriam Sigonda (simbol laki-laki, berasal dari Majapahit), Meriam Raden Mas (simbol perempuan dari Bugis), dan Meriam Maryam yang diibaratkan sebagai anak dari keduanya. Meriam Sigonda tampak sangat ikonis karena sengaja dililitkan dengan sebuah tasbih sebagai lambang ketaatan Opu Daeng Menambon terhadap Islam.

Peninggalan Lain: Selain senjata, Anda juga dapat menemukan koleksi berharga seperti stempel kesultanan, alat musik tradisional Senenan, dan beberapa Prasasti/Batu Bersurat.

Peninggalan Tradisi Budaya: Upacara Robo-Robo

Untuk pengalaman wisata budaya yang sempurna, datanglah pada hari Rabu terakhir di bulan Safar. Pada momen ini, digelar Upacara Robo-robo. Ritual ini merupakan napak tilas untuk mengenang kedatangan rombongan Opu Daeng Manambon di Mempawah.

Acara ini dipenuhi dengan pembacaan doa tolak bala, tradisi makan bersama di luar rumah, serta prosesi memandikan senjata pusaka istana yang dilakukan setahun sekali.

Jam Buka, HTM, Lokasi

Adapun jam buka Istana Amantubillah adalah pukul 09.00 hingga 16.00 WIB. Terkait harga tiket masuk, wisatawan hanya perlu mengisi buku tamu. Meski demikian, sangat disarankan untuk memberikan donasi atau sumbangan sukarela ke dalam kotak amal yang tersedia.

Istana Amantubillah berlokasi di wilayah Desa Pulau Peda laman, Kecamatan Mempawah Timur, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Letaknya sangat strategis karena tidak jauh dari aliran Sungai Mempawah.

Dari Kota Pontianak, jarak tempuhnya sekitar 76 kilometer atau bisa ditempuh kurang lebih 1,5 hingga 2 jam perjalanan darat. Sesampainya di Mempawah, ada petunjuk arah menuju kawasan keraton.

Nah, kalau detikers sedang berada di Kalimantan Barat, jangan lupa masukkan Istana Amantubillah ke dalam daftar destinasi wisata kamu!

Halaman 2 dari 3
(bai/bai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads