Sejarah Waduk Riam Kanan, Wisata yang Digagas Gubernur Pertama Kalimantan

Kalimantan Selatan

Sejarah Waduk Riam Kanan, Wisata yang Digagas Gubernur Pertama Kalimantan

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Senin, 29 Jun 2026 13:31 WIB
Waduk Riam Kanan. (Dok. Kementerian Pariwisata RI)
Foto: Waduk Riam Kanan. (Dok. Kementerian Pariwisata RI)
Banjarmasin -

Waduk Riam Kanan adalah salah satu destinasi wisata andalan di Kalimantan Selatan. Keunikan dari waduk ini adalah pemandangan Pegunungan Meratus yang ditawarkan. Di samping itu, Riam Kanan juga menyimpan sejarah yang unik di balik keindahannya.

Berada di Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, Waduk Riam Kanan berjarak sekitar 29 kilometer dari Kota Martapura atau sekitar 60 kilometer dari Banjarmasin menuju Pelabuhan Tiwingan Lama yang merupakan pintu masuk utama menuju kawasan waduk. Dari pelabuhan ini, pengunjung bisa menyewa perahu untuk menjelajahi berbagai sudut waduk, termasuk pulau-pulau kecil di sekitar.

Bukan hanya terkenal sebagai danau buatan terbesar di Kalimantan Selatan, Waduk Riam Kanan juga berkembang menjadi kawasan wisata. Ada wahana permainan Alimpung Park, restoran terapung seperti Rama SInta Resto Anung, wisata pembancingan, bahkan pengunjung juga bisa camping di sini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, di balik keindahan dan berbagai aktivitas menarik yang ditawarkan, Waduk Riam Kanan punya sejarah pembangunan yang menarik. Yuk, kita ulas.

Sejarah Waduk Riam Kanan

Pembangunan Waduk Riam Kanan bermula dari gagasan Ir. Pangeran Mohammad Noor, Gubernur pertama Kalimantan sekaligus Menteri Pekerjaan Umum pada era Presiden Soekarno. Saat itu, pemerintah melihat potensi besar Sungai Riam Kanan sebagai sumber energi listrik sekaligus sumber air bagi Kalimantan Selatan.

Eksplorasi kemudian dimulai pada 1958, sedangkan pembangunan dimulai secara resmi pada 1963. Proyek ini bertujuan membangun bendungan yang mampu menggerakkan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sekaligus menyediakan pasokan air bersih.

Namun proses pembangunannya tidak berjalan mulus. Situasi politik pasca peristiwa Gerakan 30 September (G30S) tahun 1965 menyebabkan proyek sempat terhenti. Setelah pemerintahan berganti ke era Orde Baru, pembangunan kembali dilanjutkan hingga akhirnya selesai sekitar tahun 1973.

Pada 30 April 1973, Presiden Soeharto meresmikan Bendungan dan PLTA Riam Kanan dalam kunjungannya ke Kalimantan Selatan. Dari buku Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973, dalam acara tersebut Ibu Tien Soeharto juga turut melepaskan bibit ikan ke waduk sebagai simbol dimulainya pemanfaatan bendungan.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 19 Januari 1980, PLTA Riam Kanan resmi berganti nama menjadi PLTA Ir. P. M. Noor sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh yang menggagas pembangunan bendungan tersebut.

Untuk membentuk waduk seluas sekitar 9.730 hektare, pemerintah membendung delapan sungai yang berhulu di Pegunungan Meratus. Proses ini membuat kawasan permukiman perlahan tergenang air hingga akhirnya berubah menjadi danau buatan.

Menurut berbagai sumber, sembilan desa di Kecamatan Aranio harus dikosongkan karena berada di area genangan waduk. Warga kemudian direlokasi dan menyebar ke berbagai wilayah baru, di antaranya Desa Tiwingan Lama, Tiwingan Baru, Liang Toman, Kalaan, Banua Riam, Bunglai, Bukit Batas, Apuai, Rantau Bujur, serta Balangian.

Raja Ampatnya Kalsel

Bukit Matang Kaladan yang berjarak sekitar 2km dari Waduk Riam Kanan. Terdapat pulau-pulau kecil dengan rangkaian Pegunungan Meratus yang bermuara di Waduk Riam Kanan. (si-praswita.banjarkab.go.id)Bukit Matang Kaladan yang berjarak sekitar 2km dari Waduk Riam Kanan. Terdapat pulau-pulau kecil dengan rangkaian Pegunungan Meratus yang bermuara di Waduk Riam Kanan. (si-praswita.banjarkab.go.id)

Hamparan Pegunungan Meratus yang mengelilingi Waduk Riam Kanan membuat waduk buatan ini disebut sebagai Raja Ampat versi Kalsel. Pemandangan yang ditawarkan memang mirip dengan Raja Ampat, pulau-pulau kecil dengan puncak-puncak Meratus menghiasi kawasan air berwarna hijau itu.

Pengunjung juga bisa menikmati berbagai aktivitas, mulai dari berkeliling waduk menggunakan kelotok, memancing ikan air tawar, camping di tepu waduk, serta mengunjungi berbagai objek wisata yang tersedia.

Salah satu destinasi yang terkenal adalah Alimpung Park, di mana pengunjung bisa berfoto, bermain berbagai wahana, dan bersantai menikmati pemandangan waduk. Selain itu ada beberapa restoran apung, salah satunya Rama Shinta Resto Apung yang menyajikan aneka hidangan khas Banjar.

Sampai saat ini, Waduk Riam Kanan tetap menjalankan fungsi utamanya sebagai sumber pembangkit listrik melalui PLTA Ir. P. M. Noor, penyedia air, pengendali banjir, dan juga habitat ikan air tawar. Destinasi ini cocok bagi detikers yang ingin mengunjungi destinasi wisata alam selain sungai di Kalimantan Selatan.




(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads