Penulis Palestina Di-banned di Adelide Writers, 180 Penulis Mundur

Tia Agnes Astuti
|
detikPop
Randa Abdel-Fattah
Foto: Dok.Istimewa
Jakarta - Penyelenggara festival sastra terbesar di Australia, Adelide Writers Week, membatalkan acaranya pada Selasa (13/1/2026) setelah 180 penulis umumkan undur diri. Alasannya hanya satu, mereka menolak penampilan penulis dan akademisi Australia-Palestina dibatalkan oleh penyelenggara.

Kegaduhan dimulai saat, Dewan Festival Adelaide yang menyelenggarakan Adelide Writers Week mengumumkan pada 8 Januari kalau undangan kepada Randa Abdel-Fattah dibatalkan. Penyelenggara bilang, ada pernyataan dan sensitivitas budaya jika tetap dihadirkan.

Pembatasan penulis Palestina itu juga terjadi setelah peristiwa penembakan massal anti-Semit di Pantai Bondi, Sydney. Sang penulis Abdel-Fattah pun gak terkait dengan insiden tragis tersebut.

Setelah pembatalan, Abdel-Fattah mengecam langkah penyelenggara dan menyebut sebagai sensor.

Peristiwa ini terjadi, di tengah perdebatan nasional yang tegang di Australia tentang batasan kebebasan berbicara setelah pembantaian pada acara Hanukkah 14 Desember. Sebanyak 15 orang ditembak mati oleh dua orang bersenjata yang terindikasi ideologi ISIS.

Pekan Penulis Adelaide dijadwalkan berlangsung selama enam hari mulai akhir Februari, sebagai bagian dari festival budaya tahunan. Sekitar 160.000 orang menghadiri acara sastra ke-40 tahun lalu.

Pencopotan Abdel-Fattah mendorong para penulis, termasuk novelis Inggris Zadie Smith dan mantan Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern, untuk mengundurkan diri, serta beberapa sponsor, dalam beberapa hari berikutnya.

Direktur Festival, Louise Adler, mengundurkan diri awal pekan ini dengan alasan keberatannya terhadap pembatalan undangan tersebut.

Profil Randa Abdel-Fattah

Lahir di Australia dari orang tua Palestina dan Mesir, Abdel-Fattah sering menulis tentang Islamofobia. Ia telah diundang ke berbagai negara untuk bicara soal novelnya, Discipline, yang menceritakan soal dua orang muslim seorang jurnalis dan mahasiswa yang menghadapi masalah sensor di Sydney.

Selama ini, ia telah menjadi kritikus bagi pemerintahan Israel dan pembela Palestina selama perang dua tahun di Gaza.


(tia/pus)


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO