Cerita Bumi Purnati Indonesia Boyong 2 Produksi Teater ke Venesia

Tia Agnes Astuti
|
detikPop
Produksi Teater Under the Volcano
Cuplikan produksi Under The Volcano produksi Bumi Purnati Indonesia. Foto: Dok.Bumi Purnati Indonesia
Jakarta - Venice Biennale terkenal akan eksibisi seni yang spektakuler dari berbagai Paviliun setiap negara. Tapi tahukah detikers di antara kurun waktu penyelenggaraan Venice Biennale selama 6 bulan, ada Festival Teater Internasional pada 7-21 Juni 2026?

Yup, di antara deretan penampil yang lolos seleksi tahun ini, ada perwakilan Indonesia. Lewat produser independen Bumi Purnati Indonesia, mereka memboyong pertunjukan teater Under The Volcano dan Hikayat Perahu atau The Tale of Boat.

Dua produksi ini bukan pertunjukan baru. Under The Volcano sudah dua kali dipentaskan, salah satunya world premier di China pada 2016, dua tahun berikutnya ke Singapura pada 2016, ke Borobudur Writers and Cultural Festival pada 2018, dan Ciputra Artpreneur Theatre Jakarta di 2022.

Pentas teater Hikayat Perahu diadaptasi dari tafsiran puisi Syair Perahu karya Hamzah Fansuri yang jadi pentas perdana di dunia. Direktur Artistik Bumi Purnanti Indonesia, Restu Imansari Kusumaningrum cerita kalau proposal dua produksi ini dikirimnya 24 jam sebelum tutup pendaftaran.

"Dalam 2 hari saya dapat telepon lagi. Katanya, 'Oke, kamu masuk'. Koresponden dan persiapan sekitar enam bulan mulai para aktor dan musisi menyiapkan dua produksi. Saya terbang ke Venesia untuk menghadiri jumpa pers, dan kurator mengumumkan judul Alter-Native saat dunia sedang gak baik-baik saja," ucapnya saat jumpa pers di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (7/5/2026).

Jumpa pers pertunjukan Under the Volcano dan Hikayat Perahu pada Kamis (7/5/2026) di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.Jumpa pers pertunjukan Under the Volcano dan Hikayat Perahu pada Kamis (7/5/2026) di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Foto: Dok.Tia Agnes/ BeritaKlik

Saat berada di Venesia beberapa waktu lalu, Restu mengatakan deretan penampil seniman lainnya ada dari India, China, Jepang, Rwanda sampai Italia.

"Saya merasa percaya diri Indonesia bisa tampil di Venesia bulan Juni nanti," ucapnya.

Dua produksi itu bakal pentas dua kali di masing-masing tempat dan ada bincang seniman. Khusus untuk pertunjukan The Tale of Boat, Bumi Purnati Indonesia menggandeng kolaborator desain Melissa Sunjaya pendiri Tulisan untuk berikan warna dan gagasan terbaru dalam desain poster agar lebih kekinian.

"Hikayat Perahu atau The Tale of Boat tahun 2027 nanti akan ditampilkan di Jakarta, diundang oleh pemerintah. Seseorang menelepon, seharusnya bisa direpresent di Jakarta," katanya.

Sebanyak 22 seniman teater dan pemusik diboyong Bumi Purnati Indonesia ke Venesia pada 13 Juni dan bakal kembali ke Tanah Air di 22 Juni. "Kami bawa aktor langsung dari Sumatera Barat, Aceh, satu orang dari Makassar, karena membawa akar tradisi kebudayaan kita ke kancah global," katanya.

Sinopsis Produksi Hikayat Perahu:

Pentas Hikayat Perahu/The Tale of Boat disutradarai oleh Sri Qadariatin, dengan direktur artistik Restu Imansari Kusumaningrum, dan diproduksi oleh Bumi Purnati Indonesia. Karya ini merupakan tafsiran atas puisi Syair Perahu karya Hamzah Fansuri, sebuah karya sastra Melayu Klasik dari abad ke-16, yang diakui sebagai Memory of the World oleh Unesco pada 2025. Proses penciptaan karya ini bermula sejak 2023 sebagai bagian dari proyek penciptaan karya inovatif yang digagas oleh Bumi Purnati Indonesia.

Hikayat Perahu/The Tale of Boat adalah karya teater-tari yang menampilkan perjalanan spiritual mencari kedamaian di dalam diri. Hubungan manusia dan Tuhan dilambangkan dengan metafora perahu dan lautan. Sementara tubuh manusia adalah perahu yang berlayar di lautan luas. Syair Perahu adalah seruan kepada umat manusia-kaum muda, terutama-untuk mengenali diri sendiri, karena hidup di dunia hanyalah sementara.

Sinopsis Teater Under The Volcano:

Under the Volcano adalah pentas teater-tari yang disutradarai oleh Yusril Katil, berkolaborasi dengan penata musik Elizar Koto, direktur artistik Restu Imansari Kusumaningrum dan dramaturg Rhoda Grauer, dengan para aktor dari Komunitas Seni Hitam-Putih dari Padang Panjang, Sumatera Barat. Karya ini mengambil inspirasi dari Syair Lampung Karam karya Muhammad Saleh yang bercerita tentang meletusnya Gunung Krakatau pada Agustus 1883.

Karya kolaboratif ini menjadi ruang tafsir terbuka di dalam memahami bencana pada masa lalu, termasuk hari ini, secara universal. Gerakan-gerakan tari kontemporer dalam karya ini bersumber dari gerakan-gerakan silat Minangkabau.




(tia/pus)


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO