Seniman Yogyakarta Dian Suci Menangkan Max Mara Art Prize for Women

Tia Agnes Astuti
|
detikPop
Seniman Yogyakarta Dian Suci
Foto: Dok.Stefano Guindani/SGP
Jakarta - Anugerah Max Mara Art Prize for Women Cecilia Alemani edisi ke-10 akhirnya mengumumkan nama pemenangnya. Seniman asal Yogyakarta, Dian Suci, dinobatkan jadi pemenangnya dan bakal menjalani residensi selama 6 bulan berkeliling Italia.

Penghargaan yang dikuratori oleh Max Mara, Collezione Maramotti dan Museum MACAN didirikan untuk mendukung dan mempromosikan bagi para perupa di awal maupun pertengahan kariernya.

Pemenang diumumkan oleh Cecilia Alemani, kurator Max Mara Art Prize for Women dan kepala dewan juri. Sekaligus bersama dengan Sara Piccinini Direktur Collezione Maramotti, Direktur Museum MACAN Venus Lau, dan Elia Maramotti,perwakilan dari keluarga pendiri Max Mara dan Collezione Maramotti, pada 7 Mei 2026. Kemarin adalah pembukaan dari pameran seni ke-61 La Biennale di Venesia.

Dian Suci yang tinggal dan bekerja di Yogyakarta, narasi karya-karyanya bersinggungan dengan isu domestik dan kekuasaan politik negara. Berangkat dari pengalaman sehari-harinya sebagai seorang ibu tunggal, karya karyanya membahas isu-isu yang berkaitan dengan domestikasi politik perempuan, otoritarianisme dan fasisme, patriarki, serta kapitalisme.

Dalam keterangan pers yang diterima detikpop, Jumat (8/5/2026), proposalnya Crafting Spirit: Cultural Dialogues in Heritage and Practice, menelusuri dampak pertemuan antara tradisi keagamaan para perajin dengan sistem kapitalis.

Dian Suci memandang kriya sebagai arsip hidup yang menjadi saksi atas tradisi dan ingatan suatu bangsa, sebuah cermin sekaligus corong bagi transformasi dan evolusi budaya, sosial, dan ekonominya.

Seniman Yogyakarta Dian SuciKarya seni ciptaan seniman Yogyakarta Dian Suci Foto: Dok.Stefano Guindani/SGP

"Proyek menjanjikan dari Dian Suci, mengeksplorasi ranah ritual dan gerak, menjalin keduanya dengan teknik kriya kuno dan sejarahnya, dalam dialog berkelanjutan antara Timur dan Barat. Kekayaan tradisi kriya Italia, dalam segala seginya, berada di jantung Max Mara Art Prize, yang juga bertujuan mempertemukan dua dunia yang berbeda namun saling melengkapi, yakni seni dan kriya," tulis Presiden Max Mara Fashion Group, Luigi Maramotti, dalam keterangan persnya.

Direktur Museum MACAN, Venus Lau, bilang latar belakang studi arsitektur Dian Suci yang lalu menjadi perupa otodidak, ia tetap independen dari institusi seni tradisional. "Saya percaya residensi di Italia akan menyediakan kerangka penting baginya untuk memperluas suara artistik ini," ucap Venus Lau.

Dian Suci pun mengomentari kemenangannya. "Pengakuan ini memberi saya kesempatan untuk memperluas riset saya antara Indonesia dan Italia, serta untuk belajar dari tradisi dan ritual yang menyimpan spiritualitas dalam tubuh-tubuh yang menciptakan," tegasnya.

Tahap pertama residensi Dian Suci adalah Assisi, Umbria. Ia akan mengenal cara hidup para biarawan yang tinggal di sana. Dian bakal lanjutkan perjalanan ke Roma, Lazio, untuk menjalani masa tinggal yang akan ia gunakan untuk menghadiri misa khusus di Basilika Santo Petrus.

Di Lecce, Apulia, ia akan mengalami pendalaman intensif dalam kerajinan dan sejarah papier-mâché (bubur kertas), melalui program pelatihan yang dirancang khusus untuknya. Periode terakhir residensinya akan berbasis di Firenze, Toskana.

Setelah menjalani residensi yang digelar oleh Collezione Maramotti, hasil akhirnya Dian Suci bakal pameran tunggal di Museum MACAN pada pertengahan 2027. Di tahun yang sama, akan memajangnya ke Reggio Emilia, Italia.


(tia/pus)


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO