Lukisan Kamasan Bali Bawa Citra Sasmita Raih Sovereign Asian Art Prize 2026

Tia Agnes Astuti
|
detikPop
Seniman Asal Bali Citra Sasmita Raih Sovereign Asian Art Prize 2026.
Foto: Dok.The Sovereign Art Foundation
Jakarta - Seniman Indonesia kembali mendunia. Sovereign Art Foundation (SAF) mengumumkan seniman asal Bali, Citra Sasmita, menjadi pemenang Hadiah Utama Sovereign Asian Art Prize 2026.

Penghargaan diberikan secara langsung saat gala dinner dan lelang amal Sovereign Asian Art Prize 2026 digelar pada 15 Mei di Agate, M+Museum di Hong Kong.

Citra Sasmita jadi seniman Indonesia pertama yang meraih penghargaan utama di ajang seni rupa tahunan SAF tersebut. Kompetisi ini mempertemukan seniman-seniman terbaik dari kawasan Asia Pasifik lewat proses seleksi yang ketat.

Di antara 30 seniman, karya seni buatan Citra berhasil menarik perhatian juri hingga masuk ke dalam daftar finalis.

Lewat karya seni Poetry of the Fountain, lukisan Kamasan yang kaya akan pola dan manik-manik, berhasil memboyong namanya ke kancah internasional. Lukisan dengan teknik tradisional Kamasan yang dipadukan ragam tekstil dari budaya Bali ini memperlihatkan kekayaan tradisi yang kita warisi dari leluhur, bukanlah obyek mati yang berhenti di masa lalu.

Tapi jadi semangat dan ideologi yang terus berkembang dan kontekstual seiring zaman. Karyanya pun merayakan pandangan dunia yang saling terkait dan dibentuk oleh praktik seremonial, ritual, dan feminin.

"Setelah beberapa kali berpartisipasi dalam Sovereign Art Prize, saya benar-benar terkejut dan merasa sangat terhormat terpilih sebagai pemenang tahun ini," ungkap Citra dalam pesan singkat kepada BeritaKlik, Selasa (19/5).

Citra merasa bersyukur kepada nominator yang selalu merekomendasikan namanya setiap tahun dan memberikan kepercayaan penuh dan dukungan bagi suara keseniannya.

"Submisi saya sebelumnya telah mengajarkan saya bagaimana mendewasakan proses dan memperjelas gagasan saya. Melalui karya seni ini, saya ingin menciptakan sebuah dialog global tentang bagaimana pencarian jati diri dan kembali ke akar menjadi fondasi yang vital bagi setiap seniman. Fondasi inilah yang memungkinkan seni menjadi sebuah bahasa universal yang menyentuh hati," ucap Citra.

Karya Citra merayakan kelimpahan dan menyoroti peran perempuan sebagai penjaga antara alam dan manusia. Citra dinominasikan untuk penghargaan ini oleh penulis dan editor seni Yvonne Wang, kolektor Sakda Chantanavanich, kurator dan penasihat seni Lisa Botos, kurator independen Tanya Michele Amador, dan Sofia Coombe dari Peruke Project.

"Kemenangan ini didedikasikan untuk Anda semua, dan untuk setiap seniman perempuan yang berjuang demi menyuarakan isi hatinya, demi kemanusiaan, dan demi semangat seni yang abadi," tegasnya.

Sejak tahun 2016, nama-nama seniman Indonesia hampir selalu ada dalam deretan finalis. Termasuk tahun ini, Citra Sasmita tidak sendirian mengisi daftar panjang itu, Ia berbagi tempat bersama Sinta Tantra dan Filippo Sciascia, dua seniman lain yang juga berbasis Bali.

Pada beberapa gelaran sebelumnya, dua seniman Indonesia pernah mendapat penghargaan untuk kategori "pilihan pengunjung" (Public vote), namun untuk Penghargaan Utama baru bisa diraih tahun ini oleh Citra Sasmita setelah melalui proses penjurian yang panjang dengan juri Ozge Ersoy (Executive Director Asia Art Archive), Man Ray Hsu (kurator independen dan kritikus seni), David Elliot (penulis, kurator dan direktur museum), dan Arpita Akhanda (seniman pemenang Sovereign Art Prize 2025).

Selamat kepada Citra Sasmita!


(tia/aay)


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO