Kristen Stewart Ungkap Perubahan Usai Terjun Jadi Sutradara: Dulu Dianggap Sampah
Dalam sebuah wawancara terbaru dengan The Times of London, dikutip dari Variety, Senin (26/1/2026), bertepatan dengan momen Sundance Film Festival 2026, Stewart mengungkapkan perbedaan mencolok antara cara industri memperlakukannya sebagai seorang aktris dibandingkan saat ia duduk di kursi sutradara.
Stewart, yang baru saja menyelesaikan debut penyutradaraan film panjangnya berjudul The Chronology of Water, secara blak-blakan mengkritik diskriminasi gender dan kurangnya rasa hormat yang sering dialami oleh para perempuan di depan kamera.
Bagi Stewart, transisi dari aktris menjadi sutradara memberinya perspektif baru yang mengejutkan tentang bagaimana orang-orang di industri film memandang kapasitas intelektual seorang perempuan.
Ia merasa suara dan pikirannya baru benar-benar didengar ketika ia menyandang status sebagai pembuat film.
"Aktris diperlakukan seperti s--- (sampah). Saya harus mengatakannya kepada Anda," ujar Stewart dengan jujur.
"Orang-orang berpikir siapapun bisa menjadi aktris. Namun, pertama kali saya duduk untuk membicarakan film saya sebagai sutradara, saya berpikir, 'Wow, ini pengalaman yang berbeda, mereka berbicara kepada saya seolah-olah saya adalah seseorang yang memiliki otak'."
Stewart juga menyoroti bagaimana industri sering kali mendewakan peran sutradara secara berlebihan, sebuah narasi yang menurutnya sengaja dipelihara oleh dominasi laki-laki di Hollywood untuk menjaga eksklusivitas kekuasaan.
"Ada anggapan bahwa sutradara memiliki kemampuan luar biasa yang tidak dimiliki orang lain, padahal itu tidak benar," lanjutnya.
"Itu adalah ide yang terus dilanggengkan oleh laki-laki."
Keresahan Stewart ini muncul setelah bertahun-tahun ia memperjuangkan proyek ambisiusnya, The Chronology of Water, sebuah adaptasi dari memoar Lidia Yuknavitch.
Film ini mengeksplorasi tema-tema berat seperti seksualitas, trauma, dan seni, yang bagi Stewart merupakan bentuk ekspresi diri yang paling jujur.
Melalui debut penyutradaraannya ini, Stewart seolah ingin membuktikan bahwa aktris memiliki visi artistik yang jauh lebih dalam daripada sekadar wajah di layar.
Ia berharap pernyataannya ini dapat memicu perubahan cara pandang industri terhadap para pemeran perempuan. Hal itu agar mereka tidak lagi dipandang sebelah mata dalam diskusi kreatif yang serius.
(ass/pus)










































