Gala Premier Teman Tegar: Maira Guncang Jakarta dengan Pesan dari Hutan Papua
Dihadiri oleh pejabat negara, tokoh masyarakat, hingga artis papan atas, film ini bukan sekadar sekuel bagi karakter Tegar, melainkan sebuah gerakan sosial dan edukatif yang membidik isu besar: Krisis Iklim.
Melanjutkan kisah Tegar (M. Aldifi Tegarajasa) yang fenomenal, film ini mempertemukan sang tokoh utama dengan Maira (Elisabet Sisauta), gadis berusia 12 tahun dari tanah Papua.
Penonton diajak menyelami petualangan hangat tentang, keberanian anak-anak dalam menjaga hutan adat sebagai sumber kehidupan.
"Kami ingin menyederhanakan isu krisis iklim menjadi cerita anak yang jujur dan membumi," ungkap Anggi Frisca.
"Ini bukan hanya soal menyelamatkan pohon, tapi menyelamatkan cara kita memandang hidup."
Gala premier ini juga menjadi ajang diskusi penting bagi para petinggi negara mengenai masa depan Papua:
Rohmat Marzuki (Wamen Kehutanan): Menegaskan komitmen pemerintah dalam percepatan pengakuan 1,4 juta hektar hutan adat hingga 2029. Ia menyebut film ini sebagai pengingat hutan adalah ekosistem vital, bukan sekadar komoditas kayu.
Anis Matta (Wamen Luar Negeri): menekankan pentingnya pembangunan Indonesia yang selaras dengan alam, di mana masyarakat Papua tetap terkoneksi dengan akar budayanya.
Velix Wanggai (Ketua Komite Otsus Papua): menyebut film ini sebagai simbol optimisme baru bagi peradaban Indonesia masa depan yang berkelanjutan.
Keaslian film ini terjaga berkat proses produksi yang melibatkan masyarakat lokal secara mendalam. Sebanyak 70% kru film merupakan pemuda Papua, dan para pemerannya menjalani pelatihan intensif selama empat bulan.
"Kami tidak ingin Papua hanya menjadi latar belakang (background) visual. Kami ingin ini menjadi karya bersama dari Papua untuk Indonesia," tegas Anggi.
Produser film sekaligus dokter kemanusiaan, dr. Chandra Sembiring, menjelaskan alasan di balik pemilihan media film sebagai alat advokasi. Berbekal pengalaman di wilayah konflik seperti Afghanistan, ia melihat film memiliki keunggulan dalam menggerakkan empati jutaan orang sekaligus.
"Lewat satu film, kita bisa membangun ekosistem edukasi dan benih gerakan yang lebih manusiawi dibanding sekadar sosialisasi biasa," kata Chandra.
Film pertamanya, Tegar (2022), telah menjadi fenomena global dengan meraih penghargaan di lebih dari 22 negara, termasuk Rusia, Prancis, hingga Inggris.
Film ini juga sudah disaksikan lebih dari 1,7 juta pelajar di Indonesia, seri Teman Tegar kini bertransformasi dari sekadar isu inklusi disabilitas menuju kesadaran lingkungan global.
(ass/wes)

