Aktris Kanada Ini Kembalikan Piala Toronto Film Critic Awards Terkait Isu Palestina
Langkah ini diambil sebagai bentuk protes keras atas dugaan penyensoran pidato kemenangannya yang menyinggung krisis kemanusiaan di Palestina.
Tailfeathers, yang merupakan pembuat film keturunan Blackfoot dan Sámi, menyatakan bahwa bagian penting dari pidatonya telah dipotong secara sengaja sebelum ditayangkan dalam acara gala tahunan tersebut.
Karena tidak dapat hadir secara langsung pada acara yang digelar Senin malam lalu, Tailfeathers mengirimkan rekaman video pidato penerimaan penghargaan. Namun, saat video tersebut diputar, bagian yang berisi pesan solidaritas terhadap warga Palestina hilang.
"Hatiku terus bersama dengan warga Palestina yang mana tengah menjadi korban genosida dan terimakasih pada semua orang di industri ini yang berani untuk buka suara," bunyi pesan yang tak ditampilkan.
Tailfeathers menegaskan bahwa referensi mengenai Palestina dalam pidatonya hanya sepanjang dua kalimat. Menurutnya, pemotongan tersebut bukan sekadar masalah durasi, melainkan upaya sadar untuk "menetralkan" sikap politiknya.
"Sebuah pilihan telah dibuat untuk membungkam kata-kata saya," tulis Tailfeathers dalam surel resminya kepada TFCA.
Ia menambahkan bahwa dirinya menolak untuk tetap diam di tengah situasi genosida yang terjadi.
Menanggapi tuduhan tersebut, Presiden TFCA, Johanna Schneller, memberikan klarifikasi bahwa pemotongan video dilakukan murni demi durasi acara agar tetap sesuai jadwal, serupa dengan yang dilakukan pada penerima penghargaan lainnya.
Meskipun begitu, Schneller menyatakan sangat sedih atas keputusan Tailfeathers. Sebagai buntut dari kontroversi ini, Johanna Schneller secara mengejutkan mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatan Presiden TFCA, sebagai bentuk tanggung jawab atas hasil yang memicu perdebatan publik tersebut.
Dalam pesan aslinya, Tailfeathers tidak hanya menyuarakan dukungan bagi Palestina, tetapi juga menyampaikan pesan inklusivitas. Ia menyatakan empati bagi komunitas Yahudi yang menjadi korban antisemitisme, namun menekankan bahwa perjuangan melawan kebencian harus menyeluruh.
"Jika kita ingin menghapuskan antisemitisme dari dunia ini, maka kita juga harus menghapuskan Islamofobia dan kebencian terhadap warga Palestina," tulisnya dalam pesan yang kini tersebar luas di media sosial.
Kasus ini memicu diskusi hangat mengenai batasan ekspresi politik di panggung penghargaan seni. Banyak pihak di komunitas film Kanada yang mendukung langkah berani Tailfeathers, menganggapnya sebagai pengingat penting bahwa seni tidak bisa dipisahkan dari isu keadilan sosial dan kemanusiaan.
Hingga saat ini, TFCA yang beranggotakan para penulis hiburan di Kanada masih terus mendapat sorotan terkait kebijakan editorial mereka dalam menyunting pesan-pesan dari para pemenang penghargaan.
(ass/tia)










































