Menanti Kolaborasi Sutradara Miracle In Cell No.7 dan Falcon Pictures di Gasigogi
Perusahaan tersebut dipastikan kembali menjalin kerja sama dengan sutradara ternama asal Korea Selatan, Lee Hwan-kyung. Kali ini, keduanya sepakat untuk menggarap proyek adaptasi dari novel dan drama Korea yang sangat emosional, Gasigogi (Thornfish).
Kolaborasi ini menjadi momen reuni yang sangat dinanti setelah kesuksesan luar biasa remake film Miracle in Cell No. 7 versi Indonesia. Keberhasilan tersebut membuktikan bahwa narasi emosional yang kuat mampu melintasi batas budaya dan bahasa.
Dalam proyek Gasigogi, Lee Hwan-kyung menegaskan bahwa pilihannya kembali ke Falcon Pictures didasari oleh kecocokan visi yang mendalam.
Ia mencari mitra yang tidak hanya melihat skala komersial, tetapi juga memiliki kedalaman empati terhadap materi cerita.
"Untuk cerita yang sangat intim seperti ini, saya mencari kemitraan yang dibangun di atas resonansi emosional, bukan sekadar skala komersial," ujar Lee dilansir dari Variety (22/5).
"Saya sangat terkesan dengan komitmen produser Frederica dan HB Naveen. Dedikasi mereka terhadap inti dari pembuatan film adalah alasan mengapa Falcon Pictures menjadi satu-satunya rumah bagi cerita ini."
Jika Miracle in Cell No. 7 dikonsepkan sebagai penghormatan bagi putrinya, maka Gasigogi memiliki tempat yang sangat personal di hati Lee: film ini didedikasikan khusus untuk putranya.
Melalui Gasigogi, Lee memiliki misi untuk menyelami kedekatan masyarakat Indonesia dengan nilai-nilai keluarga, keyakinan, dan ikatan komunitas yang kuat.
Ia menegaskan bahwa proyek ini bukanlah sekadar memindahkan sentimen Korea ke Indonesia, melainkan sebuah karya baru yang memiliki identitasnya sendiri.
"Saya ingin film ini 'bernapas dengan paru-paru Indonesia' dan berakar pada tradisi bercerita lokal," jelas Lee.
Dengan pendekatan ini, ia berharapGasigogi akan terasa otentik bagi penonton Indonesia, mencerminkan realitas emosional yang dekat dengan keseharian masyarakat tanah air.
Sebagai penutup, Lee Hwan-kyung mengungkapkan harapan sederhananya mengenai dampak film ini di masa depan.
Baca juga: Akhir Tragis Homelander di Ending The Boys |
Ia tidak hanya ingin membuat film yang sukses di bioskop, tetapi juga film yang mampu menggerakkan hati dan mendorong penonton untuk merefleksikan hubungan mereka dengan orang tua.
"Tujuannya sederhana," tambah Lee.
"Saya ingin menciptakan film yang begitu jujur dan beresonansi, sehingga saat credit title muncul, hal pertama yang ingin dilakukan penonton adalah menelepon ayah mereka. Saya ingin mereka memahami keheningan orang tua mereka sebelum semuanya terlambat."
(ass/tia)










































