Children of Heaven Versi Indonesia: Tangis dan Tawa Karena Sepatu
EDITORIAL RATING
AUDIENCE RATING
Sinopsis:
Film asal Iran, Children of Heaven karya sutradara Majid Majidi diremake oleh MD Pictures. Film ini digarap langsung oleh sutradara Hanung Bramantyo.
Dalam versi Indonesianya, kisahnya fokus pada kakak beradik, Ali (Jared Ali) dan Zahra (Humaira Jahra). Mereka tinggal di pinggiran kali Semarang dengan setting tahun 1988. Hidup mereka sangat miskin. Ayahnya, Karim (Andri Mashadi) hanya seorang pekerja serabutan dan punya banyak utang. Sedangkan ibunya, Fatimah (Faradina Mufti) sakit-sakitan dan tengah merawat adik bungsu yang masih bayi.
Baca juga: Hokum: Misteri Kamar Pengantin |
Dalam kondisi yang begitu terpuruk ini, Ali justru menghilangkan sepatu sekolah Zahra. Cuma sepasang sepatu ini yang Zahra punya. Tentu mereka tak berani untuk meminta sepatu baru kepada ayahnya. Alhasil, dua bersaudara ini berinisiatif untuk saling bergantian memakai sepatu milik Ali.
Children of Heaven (2026). Foto: Dok. MD Pictures |
Zahra harus berlari agar sepatunya bisa langsung dipakai kakaknya. Ali harus berlari agar tak dihukum karena terlambat masuk kelas.
Secercah harapan kemudian muncul, ada lomba lari marathon dengan hadiah sepatu baru. Ali tak ragu untuk mendaftar. Kali ini dia berlari demi sepatu baru untuk adiknya.
Review:
Awalnya, kehadiran Children of Heaven versi Indonesia ini bisa membuat senang dan was-was. Senang karena penonton Indonesia bisa bernostalgia dengan film era 90an yang bikin banyak anak Indonesia nangis jelek. Was-was karena khawatir versi remake dibuat dengan serampangan.
Namun, kekhawatiran itu tak terbukti. Children of Heaven yang disutradarai Hanung ini tak terlalu melenceng dari premis film aslinya.
Children of Heaven (2026). Foto: Dok. MD Pictures |
Penonton bisa ikut hanyut dalam kisah mengharukan dari Ali dan Zahra. Nuansa kehidupan yang penuh keterbatasan ekonomi digambarkan dengan cukup ideal. Setting tahun 80an di Semarang pun terasa pas. Tidak terlalu meromantisasi kemiskinan. Tetapi rasa keterpurukan ekonomi itu bisa terasa jelas.
Ada momen yang memperlihatkan saat Ali dan Zahra mencuci sepatu di pinggir sungai yang belum terlalu tercemar. Momen tersebut seperti mampu membawa penonton ke dalam nostalgia Indonesia zaman dulu.
Meskipun harus diakui juga, ada detail-detail vintage yang meleset. Buat penonton jeli, mungkin detail ini bakal membuyarkan imajinasinya tentang Indonesia era 80an. Sebab, masih ada detail yang terlalu modern untuk tahun itu.
Untuk cerita, Hanung melakukan beberapa penyesuaian. Jujur saja, Children of Heaven versi Indonesia tak sesedih seperti film aslinya. Ada upaya untuk mengimbangi ceritanya dengan bumbu komedi.
Baca juga: Gohan: Menangis Tanpa Henti Demi Si Gemas |
Hal ini terbukti dengan kemunculan para komika seperti Muhadkly Acho, Oki Rengga hingga Dodit Mulyanto. Dengan demikian, film ini tak hanya ingin membuat penonton menangis, tapi bisa tertawa sesekali.
Selain itu, film remake ini diuntungkan dengan perkembangan teknologi modern. Scene lomba lari yang dulu kita tonton di film aslinya begitu sederhana. Sekarang, versi remakenya bisa dieksekusi dengan lebih megah. Pemakaian drone untuk menyorot adegan lomba lari menambah kesan dramatisnya.
Children of Heaven (2026). Foto: Dok. MD Pictures |
Secara keseluruhan, film ini tidak mengkhianati film aslinya. Hanung mencoba tetap setia dengan cerita asli dan mencoba menyelaraskannya dengan ciri khas Indonesia.
Children of Heaven versi Indonesia akan tetap membuat kita percaya akan kekuatan mimpi, kerja keras dan pengorbanan. Semua pesan ini disampaikan dalam cerita yang bakal membuat penonton menangis dan sesekali tertawa.













































