Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang Tembus Kompetisi Utama SIFF 2026

Asep Syaifullah
|
detikPop
My Own Last Supper (2026).
Foto: Dok. Ist
Jakarta - Industri perfilman Indonesia kembali mencatatkan prestasi gemilang di kancah internasional. Film terbaru produksi Matta Cinema Production yang berkolaborasi dengan Ruang Basbeth Bercerita, berjudul Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang (RBMT) atau yang diberi judul internasional My Own Last Supper.

Film ini secara resmi terpilih untuk masuk dalam kompetisi utama (Main Competition) di ajang bergengsi Shanghai International Film Festival (SIFF) 2026 yang akan berlangsung pada 12-21 Juni 2026 mendatang.

Tidak hanya berkompetisi, film ini juga dijadwalkan akan menggelar penayangan perdana di dunia (World Premiere) dalam festival kelas dunia tersebut. Menariknya, RBMT langsung sukses mengamankan tempat di tujuh kategori utama yang dikompetisikan, yaitu: Best Feature, Best Director, Best Actor, Best Actress, Best Screenplay, Best Cinematographer, dan Best Outstanding Artistic.

"Pencapaian ini merupakan kebanggaan sekaligus kehormatan bagi kami, bisa mewakili Indonesia dalam ajang festival film kelas dunia seperti SIFF," kata Nugroho Dewanto, CEO dan produser Matta Cinema Production (MCP).

Dalam wawancara bersama BeritaKlik, Nugroho sempat berbagi cerita perjalanan kreatif film yang diadaptasi dari sebuah novel dengan judul yang sama karangan Wisnu Suryaning Adji yang diterbitkan oleh penerbit Bentang, Yogyakarta. Novel ini bukanlah karya sembarangan; ceritanya yang kuat dan unik telah berhasil menyabet penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada 2017 silam.

Nugroho Dewanto menceritakan bahwa proses pengerjaan film dari awal hingga selesai memakan waktu yang terhitung cepat.

My Own Last Supper (2026).My Own Last Supper (2026). Foto: Dok. Ist

"Dari development, terus pre-production, production (syuting), sampai post-production itu hampir 10 bulan. Karena kami mulai, saya ingat itu pas tahun lalu, Mei tahun lalu. Mei tahun lalu kita mulai baca novelnya gitu ya, terus ngobrol-ngobrol, diskusi, memutuskan ini menarik," jelas Nugroho.

Sebelum rampung, konsep proyek film RBMT ini sempat diperkenalkan terlebih dahulu di ajang Asian Content and Film Market (ACFM) Busan International Film Festival pada September 2025 dengan tujuan memperkenalkan kembali Matta Cinema Production yang sempat vakum. Hingga akhirnya, atas saran dari pengamat film senior Philip Cheah, film ini didaftarkan ke Shanghai setelah selesai diproduksi.

Secara garis besar, film RBMT menyajikan drama yang sangat menyentuh mengenai isu identitas dan sejarah kemanusiaan di Indonesia.

"Mengisahkan seorang pria tua Tionghoa yang mengalami trauma psikologi dan politik, karena identitas etnisnya," ungkap Nugroho mengenai inti cerita film tersebut.

Karakter utama bernama Encek digambarkan mengalami perlakuan tidak adil sejak kecil hingga tua, termasuk harus melewati peristiwa kelam Kerusuhan Mei 1998.

Salah satu tantangan terbesar dalam produksi film ini adalah mencari aktor yang tepat untuk memerankan karakter Encek yang digambarkan sudah berusia 76 tahun.

Mereka awalnya sempat memikirkan mendiang aktor senior Henky Solaiman sebagai sosok yang paling cocok.

"Cuma kan dia udah meninggal gitu. Anaknya ikut akhirnya, Verdi Solaiman, berperan sebagai Ahong. Nah, untuk si Encek-nya ini siapa, gitu. Akhirnya ketemulah sama Ferry Salim. Ya memang kami tidak lakukan open casting kalau untuk pemeran-pemeran utama. Jadi Ferry Salim, Melissa Karim, dan Verdi Solaiman itu kami tidak open casting. Kami langsung tanyakan kira-kira-kami anggap mereka cocok-apakah mereka bersedia? Dan ternyata mereka bersedia gitu ya," kenang Nugroho.

Ferry Salim yang saat ini berusia sekitar 58 atau 59 tahun harus melewati proses make-up efek yang sangat serius agar terlihat natural sebagai kakek-kakek.

Tim produksi bahkan sempat mengupayakan untuk membeli lensa kontak khusus langsung dari Amerika Serikat agar matanya terlihat tua dan keruh.

"Tapi ternyata Ferry ini alergi dia, enggak bisa pakai contact lens. Jadi akhirnya enggak pakai, enggak pakai contact lens. Tapi secara keseluruhan oke, dia bisa memainkan perannya, menyelami karakter si Encek dengan sangat baik menurut saya," tambah Nugroho memuji totalitas sang aktor utama.

Selain dibintangi oleh jajaran aktor senior seperti Ferry Salim, Melissa Karim, dan Verdi Solaiman, film ini juga akan menampilkan warna baru dengan menjadi debut akting bagi Jessy Davita, Nicholas Anderson, hingga pengamat politik terkenal, Rocky Gerung.

Kesuksesan luar biasa film RBMT menembus SIFF 2026 ini sekaligus menandai kebangkitan kembali Matta Cinema Production di industri film Indonesia setelah sempat lama vakum.

Karena Shanghai International Film Festival memberlakukan syarat ketat mengenai status World Premiere, pihak produksi harus menahan diri untuk tidak memutarnya di festival lain terlebih dahulu. Namun, setelah gelaran di Shanghai selesai, RBMT direncanakan akan didaftarkan ke berbagai festival internasional di region lain.

"Toronto tidak meminta itu, tidak mensyaratkan itu (world premiere). Yang penting di region Amerika belum ada, ya. Jadi kami akan daftarkan juga di Toronto, kemudian juga mungkin nanti di Busan lagi, dan juga di Hongkong, dan ada di beberapa festival lain," pungkas Nugroho mengenai rencana distribusi internasional mereka.

Bagi para pencinta sinema di tanah air tidak perlu berkecil hati. Setelah menyelesaikan rangkaian perjalanan di berbagai festival film internasional, film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang direncanakan akan resmi tayang di bioskop-bioskop seluruh Indonesia pada akhir tahun ini.


(ass/dar)


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO